Kase : Kasih Setia Allah

Number of View: 0

Tak dapat disangkal, pasca konflik sosial [1999 – 2004], pembangunan gedung gereja [baru] di Gereja Protestan Maluku berlangsung secara ‘masif’. Indikatornya, sejak tahun 2010 sampai sekarang [dan nanti ke depan], agenda penahbisan dan pengresmian gedung gereja baru oleh MPH Sinode GPM berlangsung hampir setiap bulan, pada banyak jemaat di wilayah pelayanan GPM.

Walau memakan waktu yang relatif lama dan menyerap anggaran yang besar, tetapi proses pembangunan gedung gereja baru terjadi hampir merata di semua jemaat. Baik karena alasan fisik gedung gereja yang sudah tua, lapuk dan keropos, maupun karena daya tampung berbanding jumlah jiwa umat. Kedua alasan klasik itu menjadi jurus pamungkas jemaat-jemaat yang secara geografis berada di wilayah pesisir dan di pegunungan; jemaat-jemaat di perkotaan dan di pinggiran kota, juga jemaat-jemaat di wilayah-wilayah yang dikategorikan sebagai ‘terpencil’. Di jemaat-jemaat ‘besar’, juga di jemaat-jemaat ‘kecil’ dari sisi keanggotaan maupun tingkat pendapatan. Walau sulit dan terkadang melahirkan perbedaan pendapat yang menjurus kepada ketegangan di antara Panitia dengan Majelis Jemaat maupun dengan umat, tetapi seluruh proses itu dijalani dengan setia sambil berkorban dan berpengharapan sebagai aktualisasi iman kepada Yesus Kristus.

Pengalaman Jemaat GPM Kase – Klasis GPM Buru Selatan [dan jemaat-jemaat terdampak konflik sosial] menjadi pembeda, dalam menjalani dan mengeja imannya bersama Yesus Kristus. Konflik sosial telah menyebabkan gedung gereja “IMANUEL” runtuh tanggal 3 Maret 2000 dan umat tercerai-berai menyelamatkan diri ke hutan.

Empat tahun “mengembara” di hutan. Saat situasi keamanan dan ketertiban berangsur pulih, umat bersama para pelayan memantapkan hati dan langkah untuk kembali bermukim di pusat negeri dan jemaat Kase. Awal bulan Maret 2004, umat turun ke pusat negeri/jemaat.
Rehabilitasi rumah-rumah sebagai tempat tinggal dilakukan bersamaan dengan pembangunan tempat ibadah sementara.

Pengalaman kembali ke pusat negeri dan jemaat dalam keadaan porak poranda mengingatkan umat dan para Pelayan di Jemaat GPM Kase, terhadap keputusan bersama puluhan tahun silam [berdasarkan cerita yang dituturkan turun-temurun] untuk berpindah dari kampung lama di pesisir bagian Timur yang bernama Waigate ke lokasi negeri/jemaat sekarang ini, sekaligus mengganti nama negeri/jemaat dari “Waigate” menjadi “Kase”.

Pengalihan tempat dan perubahan nama negeri/jemaat ini bukan tanpa alasan. Berawal dari tewasnya puluhan warga negeri/jemaat Waigate, dan ketiadaan sumber air bersih. Kejadian itu secara iman ditafsirkan sebagai bentuk berpalingnya kasih Allah. Pusat negeri/jemaat Waigate dianggap sudah tidak lagi menjanjikan berkat dan masa depan.

Peralihan pusat negeri/jemaat dan penggantian nama negeri/jemaat menjadi “Kase”, bagaikan upaya mengusir jauh-jauh awan hitam yang membayangi perjalanan umat. Di “Kase”, umat berharap kepada kasih setia dan kemurahan Allah yang selalu baru setiap pagi. Di “Kase”, harapan untuk hidup dan membangun masa depan terbuka lebar. Di tengah kasih setia dan kemurahan Allah itu, di “Kase” pula, iman umat dan para pelayan diuji setiap waktu. Negeri/jemaat yang porak-poranda dan ‘pengembaraan’ di hutan adalah bagian dari ujian itu.

Rasa nyaman rupanya tidak menghilangkan kesadaran iman umat dan para Pelayan untuk memiliki suatu rumah ibadah yang representatif. Momentum Sidang Jemaat tahun 2006, umat dan para Pelayan mengambil keputusan untuk memulai tahapan pembangunan gedung gereja baru. Upaya pencarian dana dilakukan, disertai pengumpulan material lokal. Tanggal 18 Februari 2009, peletakan batu pertama dan pencanangan tiang bermula dilakukan, saat kepemimpinan Pdt. Yotam Manuhuttu.

Jelang akhir tahun 2018, terjadi perubahan kepemimpinan jemaat. Pdt. M.R. Selsily dimutasikab ke Jemaat GPM Kase. Upaya penyelesaian gedung gereja baru makin diintensifkan. Oleh kasih dan kemurahan “0PLASTALA”, hari Minggu, 3 Maret 2019, Ketua MPH Sinode GPM, Pdt. A.J.S. Werinussa berkenan menahbiskan dan meresmikan gedung gereja baru yang diberi nama “OPLASTALA PENATA KITA” [=IMANUEL], Jemaat GPM Kase. Ibadah perdana dilayani oleh Pdt. I.C. Teslatu, M.Th.

Sampai penahbisan dan pengresmiannya, pembangunan gedung gereja ini dikerjakan selama 10 tahun, 15 hari, dan menghabiskan anggaran sebanyak Rp. 1.566.170.000. Dana tersebut diperoleh dari swadaya umat, upaya Panitia dan sumbangan para donatur.

Penahbisan dan pengresmian gedung gereja ini dilakukan bersamaan dengan Pembukaan MPPD Ke-24 AMGPM Daerah Buru Selatan, tanggal 3 – 5 Maret 2019.

Acara penahbisan dan pengresmian gedung baru gareja “OPLASTALA PENATA KITA” dan pembukaan MPPD Ke-24 AMGPM Daerah Buru Selatan, turut dihadiri oleh Bupati Buru Selatan, Dr. Tagop Sudarsono Solissa bersama sejumlah pimpinan Organisasi Perangkat Daerah [OPD], Ketua DPRD Kab. Buru Selatan bersama sejumlah Anggota, Ketua II Pengurus Besar AMGPM bersama Korwil, Majelis Pekerja Klasis GPM Buru Selatan dan Pengurus AMGPM Daerah Buru Selatan, para Pendeta se-Klasis GPM Buru Selatan, anak-cucu nrgeri Kase di rantau dan sejumlah undangan lain.

Usainya pembangunan dan penahbisan gedung gereja “OPLASTALA PENATA KITA” tidak serta-merta menanggalkan tugas-tugas umat sebagai persekutuan bergereja yang terpanggil untuk terus memberitakan Injil-Nya.
Di atas pundak para Pelayan di gereja, Pemerintah Negeri Kase, para guru dan tokoh masyarakat/adat, terletak masa depan negeri dan jemaat Kase, kini dan ke depan. Negeri dan jemaat yang kini dihuni oleh 91 KK dengan 426 jiwa.

Tugas pemberitaan Injil sebagai Kabar Baik dan sebagai Amanat Pelayanan Gereja tetap menanti untuk diteruskan.
Salah satu tugas pokok yang menantang pewartaan gereja sepanjang masa adalah “membangun manusia”, meliputi pembangunan mental, moral, etik dan spiritual. Termasuk peningkatan kualitas ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial, budaya, politik, dll.
Membangun manusia tidak dapat disamakan dengan sebuah proyek fisik, yang progresnya dapat diamati dengan jelas. Perencanaan, doa dan upaya yang terus-menerus dapat menjungkir-balikan ketidakmungkinan menjadi mungkin.

Semoga Negeri dan Jemaat GPM Kase terus berbenah berdasarkan spirit Injil dan nilai-nilai budaya Bupolo, di tengah hempasan perubahan yang kian deras, tanpa pernah menanggalkan jati dirinya.

Opo Penata Kita Hansiak!

Penulis : Pdt. M. Syauta,S.Th – Bendahara Sinode GPM

293 total views, 7 views today

Media Center Gereja Protestan Maluku

Media Center GPM Merupakan Sarana Mengkomunikasikan Informasi Tentang Gereja Protestan Maluku Yang Tersebar di Maluku dan Maluku Utara, Bersifat Informatif, Serta Memberikan Pelayanan Pada Publik. Dapat Menghubungi Kami, Mengirim Informasi (berita) Melalui Email : mediacenter.gpm@gmail.com