Giat GPM Dalam Meningkatkan Manajemen Kelompok Usaha ditengah Pandemik

Ambon,sinodegpm.org – Telah berlangsung Training of Trainer (TOT) Manajemen Kelompok Usaha oleh Komisi Pemberdayaan Ekonomi, Sosial, Politik dan Budaya Sinode GPM, di Gedung Gereja Bethesda – Air Louw Klasis Pulau Ambon dan berlangsung dari tanggal 25 – 27 Agustus 2021.

Kegiatan diawali dengan kebaktian yang dipimpin oleh Pendeta Gery Talakua. Dalam khotbahnya, Pendeta Talakua mengatakan, hari ini Departemen Pemberitaan Injil dan Pelayanan Kasih (PIPK) lewat Biro Pemberdayaan Ekonomi, Sosial, Politik dan Budaya membuat kegiatan “TOT Manajemen Kelompok Usaha” bagi para pelayan dan semua anggota jemaat yang tersebar di 34 klasis. Peserta akan dilatih untuk mengelolah sumber daya yang ada dalam kehidupan sebagai bentuk tindakan gereja untuk melakukan langkah-langkah pemberdayan ekonomi umat. Pelatihan ini menjadi satu hal yang sangat penting di era pandemi ini, sebab berdampak besar pada ekonomi. Oleh karena itu di era ini, dalam prediksi para pakar ekonomi enterpreneur menjadi salah satu ide untuk keluar dari krisis ekonomi, diantaranya digital enterpreneur dan social enterpreneurSocial enterpreneur cocok bagi Lembaga-lembaga sosial keagamaan termasuk kita, karena fokus social enterpreuner adalah usaha yang bertujuan melakukan perubahan sosial dengan menyelesaiakan permasalahan sosial dalam masyarakat. Lebih lanjut akan dijelaskan dalam kegiatan dihari ini. Sebagai seorang entrepreneur, kita harus mampu mengelola kelompok usaha dengan memiliki kecakapan manajemen supaya dapat melakukan usaha dengan baik. Sebagai contoh, etos kerja Allah yang luar biasa dalam catatan penciptaan yang terencana, tertata, serta dibuktikan dengan melakukan semua hal dalam 6 hari kerja. Allah melakukannya dalam proses evaluasi, refleksi dan pengawasan. Ketika sebuah proses selesai dilakukan, maka Allah melakukan pengamatan untuk memastikan bahwa semua yang dilakukan baik adanya. Dalam kisah penciptaan, Allah mengatur ritmeNya dengan menyisihkan waktu untuk beristirahat yaitu dengan pengaturan hari sabat. Semua ini Allah lewati dengan proses yang sungguh-sungguh. Kiranya hal yang sama juga terjadi dalam diri kita selaku orang percaya, dan dapat menguatkan kita dalam mengembangkan usaha-usaha di setiap klasis dan jemaat-jemaat, tuturnya.

Setelah kebaktian, acara dilanjutkan dengan arahan dari Pendeta Nancy. N. Souisa-Gaspersz – Anggota MPH Sinode, sekaligus membuka dengan resmi kegiatan “TOT Manajemen Kelompok Usaha”. Dalam arahannya Pendeta Souisa mengatakan, gereja ini memiliki harapan yang besar bahwa program-program yang kita lakukan ini benar-benar akan memberikan progres dari waktu ke waktu sehingga capaian-capaiannya bisa terukur sesuai dengan PIP/RIPP GPM.

Manajemen Kelompok Usaha premier kecil saat ini, berhubungan dengan kemandirian. Kondisi global saat ini menuntut setiap umat untuk mampu bersaing dan bertahan hidup. Di masa kini, persaingan bukan hanya antar manusia tetapi juga antar manusia dengan mesin. Dimana ruang-ruang kerja akan diambil alih oleh hasil buatan manusia sendiri yang kita sebut dengan sebutan Artificial Intelligence. Kedepan posisi manusia akan diambil oleh mesin. Tetapi sebagai manusia, kita percaya bahwa pergerakan dan peradaban manusia memberikan kesaksian kemandirian itu sesuatu hal yang tidak mustahil dan ketergantungan itu menjadi satu titik rendah dari peradaban, ungkapnya.

Lebih lanjut Pendeta Souisa menjelaskan, karena itu dengan kesadaran yang tinggi GPM melakukan pendekatan Problem Solving, bahwa kita sudah hidup dengan habitat untuk melihat masalah dan mencari jalan keluar. Sekarang dengan pendekatan Appreciative Inquiry, kita mencoba untuk mengangkat dan mengapresiasi apa yang kita punya.

“Bicara tentang Pelatihan Manajemen Kelompok Usaha, itu berati berbicara tentang bagaimana pemberdayaan mengembalikan kekuatan kita,” tuturnya.

Pendeta Souisa mengatakan, gereja punya penekanan kedepan tentang pangan lokal serta mempergunakan apa yang kita punya sehingga masyarakat survive, bahkan menjadi agen-agen ekonomi yang mengkontribusikan sesuatu kepada masyarakat. Pada saat yang sama, kita hidup secara berkecukupan ditengah-tengah alam kita yang melimpah. Kita tidak boleh miskin ditengah-tengah alam kita yang melimpah ini. Kita harus memberi kontribusi kepada bangsa dan negara dengan apa yang kita punya. Kolaborasi antar bidang usaha itu adalah kekuatan besar gereja. Jika di follow-up setelah pelatihan ini dan dibagikan kepada sebanyak mungkin umat dan jemaat kita, maka ini akan menjadi seperti virus. Virus yang dimaksud adalah virus kemandirian yang dapat disebarkan sehingga menjadi tombak kesejahtraan. Ada nilai-nilai kekristenan yang akan terus dikembangkan bersamaan dengan pengembangan kewirausahaan ini. Kelompok wirausaha bukan hanya menjadi karakter ekonomi orang Kristen, tetapi bagaiman nilai-nilai kekristenan ini menjadi support system terhadap pengembangan ekonomi secara baik. Kita harus melatih diri terus-menerus sebab yang kita hadapi ditengah-tengah situasi ini adalah kreatifitas dan inovasi yang tidak ada habisnya.

Narasumber dalam kegiatan ini adalah : Alvian Spaulette, M.Si (Penjelasan Alur dan Pengantar Proses Kewirausahaan), Prof. O. Samson (Motivasi Kerja dan Berfikir Perubahan dan Analisa Nilai dan Analisa Kerja), Marcel Paliama, M.Si (Perijinan Usaha, PIRT dan produk halal), Barce Titioka, M.Si (Testimoni Wirausaha Sukses oleh Dian Puspita, Aspek Manajemen dan Organisasi), Lotje Purimahua, M.Si (Aspek Pemasaran), Dr. Els Aponno (Aspek Produksi) dan Stella Matitaputty, SE (Aspek Keuangan).

 

Sumber

Previous TOT Konseling Pastoral HIV-AIDS

Leave Your Comment