TOT Konseling Pastoral HIV-AIDS

Hatu,sinodegpm.org – Minggu, 22 Agustus 2021 telah berlangsung kegiatan Training of Trainers (TOT) melalui Departemen Pemberitaan Injil dan Pelayanan Kasih (PIPK) Biro Pendidikan dan Kesehatan bersama Tim Fasilitator Konseling Pastoral HIV/AIDS Sinode GPM, di jemaat GPM Hatu Klasis Pulau Ambon Utara. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari.

Pembukaan acara TOT, dikemas bersama dalam kebaktian minggu dengan Pelayan Firman Pendeta Ny. Nancy. N. Gaspersz/S. Dalam khotbahnya Pendeta Nancy mengatakan, “ketika kita terkena penyakit, identitas kita hilang dan diganti dengan nama atau istilah dari penyakit tersebut. Tetapi sebagai orang Kristen kita diingatkan bahwa siapapun yang ada dalam situasi seperti itu, indentitasnya sebagai manusia tidak boleh dihilangkan hanya karena dia memiliki penyakit tersebut. Dia tetap manusia, dia tetap gambaran Allah. Siapapun yang melukai orang-orang seperti ini berarti dia telah melukai Tuhan sebagai penciptanya. Kita harus melihat manusia sebagai gambaran Allah apapun keadaannya, apapun kenyataan hidup yang dia alami. Marilah kita jalani pelatihan ini dengan militansi, bukan hanya karena sebuah program, tetapi kita melakukannya untuk menghadirkan damai sejahtera Allah,” tuturnya.

Setelah kebaktian, dilanjutkan dengan acara serimonial didalamnya arahan MPH Sinode oleh Penatua Dr. Betty  Sahertian, M.Kes Anggota MPH. Penatua Betty menuturkan, kegiatan TOT ini akan menjadi manifestasi dan konsistensi kita untuk merawat dan membela kehidupan sebagaimana tertuang dalam visi GPM. Hal ini penting untuk kita lakukan sebab gereja ada bersama dengan umat dan masyarakat mendiami bumi tempat kita berpijak, hidup, berkumpul dan berkatifitas bersama.

Lebih lanjut Ia mengatakan, dalam hidup bersama tentu tidak terlepas dari berbagai persoalan hidup sosial kemasyarakatan, termasuk penyakit-penyakit sosial yang sampai hari ini masih terus mewabah seperti HIV/AIDS. Setiap kali kita ada dalam pelayanan dan peringatan akan hari AIDS sedunia, maka kita selalu diingatkan pada perjuangan dan perhatian bersama bagi orang-orang yang sudah meninggal dengan kasus HIV/AIDS. Seperti yang dikatakan banyak orang bahwa ini adalah “Fenomena Bisu”. Artinya penyebaran virus HIV tidak terlihat secara langsung, namun saudara-saudara kita banyak yang terjangkit virus HIV. Karena itu tugas kita sebagai warga Negara secara khusus sebagai warga jemaat adalah memberikan pendampingan kepada mereka. “Bukan hanya soal penyebaran virusnya, tetapi yang paling penting soal stigmatisasi tentang kehidupan orang dengan HIV/AIDS ini,” imbuhnya.

Terkait dengan sisi Perencanaan Pelayaann di tahun 2016-2025 sebagaimana tertuang dalam PIP/RIPP GPM, maupun penyelarasan PIP/RIPP 2021-2025, Penatua Betty menjelaskan penanganan HIV/AIDS menjadi salah satu isu strategis dari 13 klaster atau isu strategis yang menjadi pergumulan gereja.

“Kalau kita mencoba searching di google, penyebaran HIV di Maluku dan Maluku Utara trendnya turun naik. Hal ini meyakinkan kita untuk terus bersama dengan saudara-saudara kita yang mengalami HIV/AIDS.” imbuhnya.

Selanjutnya, mewakili MPH Sinode GPM Penatua Betty berharap 5 tahun yang telah dijalani secara bersama untuk melakukan edukasi dan pelatihan kegiatan ini harus sudah ada progres dalam panggilan melayani saudara – saudara yang mengalami HIV/AIDS. Tidak sekedar mengulang untuk pelaksanan TOT atau bukan kegiatan rutin tahunan, tetapi tentunya dapat meningkatkan pelayanan di Klasis – Klasis dan Jemaat – Jemaat. Perlu ada tindak lanjut dalam bentuk pengorganisasian layanan di Klasis dan Jemaat – Jemaat secara berkelanjutan pasca TOT ini, tuturnya.

Narasumber dalam kegiatan ini adalah : Dr. Betty. Sahertian, M.Kes (Serimonial TOT Konseling Pastoral HIV-AIDS), dr. Lita Tarumaselej, MKM (Inveksi Menular Seksual/IMS), dr. Ritha. Tahitu, Pak Asgar (Info Dasar HIV-AIDS dan Situasi Epidemi AIDS di Maluku dan Maluku Utara), Pdt. Yanes. Lorwens (Konsep Pendampingan Pastoral bagi SADHA), Criezta Korlefura, M.Psi (Konsep Pendampingan Psikologis bagi SADHA), Evelin Hutuely (Stigma dan Diskriminasi SADHA) dan Ibu Rossa Pentury (Simulasi Kelompok Pendamping HIV-AIDS).

 

Sumber

Previous Manfaatkan Platform Media Online, Rapat Konsultasi Sinode GPM Sukses

Leave Your Comment