Ketika Letusan Gamalama dan Gempa Bumi Goncang Ternate

Ternante,sinodegpm.org – Gunung Gamalama yang berada di Pulau Ternate, Maluku Utara, meletus, Kamis (4/10/2018) pada pukul 11.52 WIT. Gunung mengeluarkan asap berwarna putih kelabu setinggi 250 meter dari puncak awal. Meski demikian, status Gunung Gamalama masih tetap Waspada tingkat II. Hingga 2003, Gunung Gamalama tercatat sudah meletus lebih dari 60 kali sejak letusan pertamanya pada 1538 dan memakan korban jiwa hingga ratusan orang. Letusan Gunung Gamalama terkenal dahsyat hingga menutupi langit Ternate. Bahkan membuat penduduk Ternate mengungsi hingga ke Pulau Tidore. Sejak saat itu, sudah terjadi lebih dari 70 letusan yang bersumber dari kawah utama dan hampir selalu magmatik, bahkan ada empat letusan besar yang terjadi dan memakan banyak korban jiwa. Namun, yang paling parah adalah letusan Gunung Gamalama pada 1775.

Sejauh ini telah terjadi 85 kali erupsi yang umumnya bersumber di lokasi kawah utama. Pada tahun 1775 erupsi Freatik/land subsidence terjadi di lereng baratdaya dan menghasilkan Danau Tolire Jaha. Tahun 1907 terjadi aliran lava ke lereng timur (Batu Angus). Interval waktu istirahat antar 1 hingga 50 tahun. Demikian penggalan materi sejarah gunung api Gamalama yang dipaparkan oleh Bapak Dedi Nurani – PLT Ketua Pos Pengamatan Gunung Api Gamalama.

Dalam penyampaian materinya, Dedi Nurani sangat bersyukur karena Klasis GPM Ternate secara konsisten turut serta dengan pemerintah dalam penanggulangan persoalan kemanusiaan dan kebencanaan. ‘Soal upaya mitigasi butuh urung rembuk semua pihak termasuk lembaga-lembaga keagaamaan, apa yang dilakukan oleh Klasis GPM Ternate dalam hal ini jemaat GPM Imanuel Ternate patut diteladani oleh lembaga-lembaga keagamaan lainnya, papar Dedi.

Berdasarkan Buku Data Dasar Gunung Api Indonesia yang diterbitkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) riset Bahrudin dan kawan-kawan, menyebutkan, wilayah rawan bencana Gamalama terbagi dalam tiga kawasan, pertama, KRB I di sepanjang atau dekat lembah sungai dan bagian hilir sungai yang berhulu ke puncak dan berpotensi terlanda lahar, juga tak tertutup kemungkinan dilanda aliran awan panas atau lava.

Kedua, kawasan rawan bencana terhadap hujan abu, tanpa memperhatikan arah angin dan kemungkinan terlanda lontaran batu pijar dengan radius 3,5 kilometer dan titik pusat di kawah utama.

KRB II berpotensi terlanda awan panas lontaran atau guguran batu pijar, aliran lava dan lahar yang meliputi seluruh puncak, diperluas ke lereng bagian utara dan selatan terutama bagian pegunungan.

Selanjutnya, kawasan rawan terhadap lontaran atau jatuhan batu (pijar) dan hujan abu lebat yang meliputi puncak hingga lereng bagian tengah dengan radius 2,5 kilometer, berpusat di kawah utama atau pusat letusan.

Ketiga, KRB III paling dekat dengan pusat letusan (kawah utama dan paling sering terlanda awan panas, lontaran atau guguran batu (pijar) dan aliran lava. Wilayah ini sangat berbahaya hingga tak bisa jadi tempat hunian.

Meski kerawanan begitu serius, hingga kini mitigasi bencana seakan belum jadi hal urgen. Asgar Saleh Direktur LSM Rorano yang selama ini mengadvokasi proses mitigasi bencana menjelaskan, sebenarnya dari aspek regulasi Ternate, sudah siap. Dia contohkan, Ternate sudah memiliki Perda Penanggulangan Bencana sejak 2014, hanya tidak diperkuat peraturan teknis dari wali kota. Ungkapnya.

Lebih lanjut lagi Ia jelaskan, Ternate perlu transfer pengetahuan menyeluruh seperti, Intervensi yang efektif lewat pendidikan formal maupun non formal di institusi kemasyarakatan. Selain itu, harus ada simulasi yang simultan dan kontinu. “Jadi simulasi oke, edukasi juga oke. Ini yang belum berjalan maksimal. Ke depan Ternate juga perlu persediaan cadangan saat bencana seperti komunikasi dan evakuasi,” katanya. Sebaiknya ada dalam kurikulum mitigasi bencana dari pendidikan dasar hingga menengah secara terintegrasi. Kalaupun belum bisa terintegrasi, minimal ada dalam mata pelajaran tertentu, misal olahraga, geografi dan lain-lain. “Kita tidak bisa pungkiri Kota Ternate ini dibangun dan berkembang di tubuh gunung api. Gamalama memiliki sejarah erupsi yang wajib diwaspadai semua pihak.” Paparnya.

Saat ini, PVMBG Pos Gamalama dan BPBD Ternate, sudah memiliki dokumen ini. “Prinsipnya, masyarakat akan tangguh dan mampu evakuasi mandiri apabila selalu diberikan pemahaman dan berlatih upaya mitigasi,” kata Dedy. Dia mengingatkan, letusan tak hanya di Puncak Gamalama, tetapi bisa terjadi letusan samping di dekat rumah warga atau pemukiman. Peristiwa Tolire Gam Jaha maupun bukti leleran lava yang mengeras jadi batu angus, katanya, merupakan bukti letusan itu tak hanya di puncak gunung juga di sekitar pemukiman.

Materi ini dipaparkan oleh Bapak Dedi Nurani – PLT Ketua Pos Pengamatan Gunung Api Gamalama dalam Pelatihan Tim Tanggap Darurat Bencana Alam dan Sosialisasi Vulkanologi Jemaat GPM Imanuel Ternate pada jumat, 25 Juni 2021 di Gogagoro (ruang pertemuan) jemaat. Kegiatan tersebut di ikuti oleh TIM Relawan Bencana Jemaat GPM Imanuel Ternate, Pengurus dan Anggota AMGPM Daerah Ternate, Pengurus dan Anggota AMGPM Ranting Imanuel Ternate sebanyak 30 orang didampingi oleh Majelis Jemaat GPM Imanuel Ternate.

Dalam arahan pembukaan kegiatan Pdt. Ny. Gloria G Malaihollo, S.Si sebagai Ketua Majelis Jemaat GPM Imanuel Ternate meminta semua peserta untuk benar-benar fokus dalam mengikuti kegiatan tersebut. ‘Ini bukan sekedar agar program mitigasi bencana dapat direalisasikan, tetapi jiwa sesunggunya adalah agar umat dan pelayan di Jemaat GPM Imanuel Ternate memiliki Kapasitas yang baik berhadapan dengan kenyataan bahwa kita semua berada di wilayah rawan gempa dan letusan gunung api Gamalama. Jika kita semua punya pengetahun yang baik ditambah dengan simulasi-simulai yang cukup, kita akan sangat terbiasa sehingga dapat mengurangi resiko kebencanaan yang akan dialami. Kegiatan ini sesuai dengan arahan PIP/RIPP GPM, Rentra Klasis GPM Ternate dan Renstra Jemaat GPM Imanuel Ternate 2021 – 2025’.

Setelah Sosialisasi Vulkanologi, kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi tentang Karakteristik Bencana dan Pengurangan Resiko Bencana Berbasis Komunitas oleh Bapak Alprens Poene – Ketua TIM Relawan Bencana AMGPM di Jemaat GPM Mayau. Dalam pemaparan materinya, Bung Alprens lebih menekankan pada upaya-upaya umat dan pelayanan dalam menghadapi bencana gunung api maupun gempa, misalnya dengan secara terlatih dan teratur menggunakan segitiga aman untuk melindungi kepala, menyiapkan tas aman gempa dan menyepakati titik kumpul jika keluarga sementara berada ditempat-tempat berbeda. Bung Alprens juga berbagi Informasi dan pengalamannya, dalam memimpin TIM Relawan Bencana AMGPM Di Jemaat GPM Mayau dalam menangani Gempa 7,1 Magnitudo yang terjadi di Mayau tahun 2019. Relawan yang sudah dilatih beberapa kali oleh LSM Rorano kemudian secara konsisten melakukan peningkatan kapasitas sehingga ketika gempa atau Tsunami terjadi mereka secara sigap melakukan tanggungjawabnya masing-masing.

Direktur LSM Rorano Maluku Utara kemudian melanjutkan Materi tentang Analisis Strategi penanggulangan bencana yang bertujuan meningkatkan kapasitas TIM relawan bencana GPM Imanuel Ternate dalam melakukan Need Assesment (analisis Kebutuhan) sebelum, saat bencana dan sesudah bencana termasuk didalamnya mempelajari dokumen-dokumen sejarah kebencanaan di Maluku Utara dan bagaimana membangun kesiapsiagaan berbasis Kearifan Lokal (Local Wisdom) serta nilai-nilai Kultur sebagai kekuatan Komunitas.

Sabtu, 26 Juni 2021 kegiatan kembali dilanjutkan dengan Materi Pertolongan Pertama (P2) bagi Korban Bencana Gunung Api, Gempa dan Tsunami. Peserta pelatihan secara khusus dilatih untuk memahami anatomy fisiologi manusia, Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan Resusitasi jantung paru (RJP), Perdarahan dan Syok, cedera jaringan lunak, cedera sistim otot rangka dan evakuasi korban. Materi ini disampaikan oleh para Trainer dari LSM Rorano yaitu Ibu Opie, Ariyo Darmawan dan Wawan. Mereka memiliki kapasitas akademik dan juga pengalaman sebagai relawan nusantara dalam menangani kebencanaan diberbagai wilayah.

Pelatihan ini diakhiri dengan Simulasi dan Evaluasi yang tercipta dalam suasana penuh keakraban. Rencana tindak lanjut (RTL) dibuat dan disepakati agar kedepan Jemaat GPM Imanuel Ternate dan Gedung Gereja Imanuel dapat menjadi salah satu gereja aman bencana di Kota Ternate. Deo Gracia.

 

Penulis : Pdt. Ny. Gloria G Malaihollo.S.Si – Ketua Majelis jemaat GPM Imanuel Ternate

 

Sumber

Previous Aksi Menanam Pohon : GPM Kalesang Bumi Ciptaan Tuhan Demi Keberlangsungan Hidup

Leave Your Comment