Peran Panggilan Gereja Dalam Membangun Kerjasama; Tingkatkan Kualitas Hidup Berbasis Pluralisme

Pluralisme adalah paham hidup yang menerima adanya keberagaman dalam hidup bermasyarakat. Keberagaman dapat dilihat dari sisi Agama, Adat-Istiadat, Suku, Ras dan lain-lain. Dari sinilah terbentuk kelompok-kelompok dengan budaya dan keunikannya masing-masing, dalam skala besar dan luas. Indonesia menjadi Negara yang menerapkan konsep Plurasisme dalam hidup Berbangsa dan Bernegara, agar terciptanya rasa saling menghargai antara satu dengan yang lain.

 

Sebagai bagian dari Negara Indonesia, Maluku merupakan Negri Pulau-Pulau yang kaya dengan keberagaman budayanya. Realitas ini menjadikan kehidupan masyarakat Maluku menerima konsep dari Pluralisme. Realitasnya dapat dilihat dalam hidup beragama pada masyrakat Maluku. Salah satunya, Konsep Pluralisme sangat ditonjolkan melalui pola hidup Pemuka-Pemuka Agama yang dengan penuh keterbukaan saling menerima satu dengan yang lain dalam hidup beragama. Hal yang demikian pula berpengaruh terhadap hidup masyarakat.

 

Oleh sebab itu, menyadari akan pentingnya realita konsep Pluralisme dalam pengembangan hidup bergereja, maka dalam kegiatan Workshop “Peran dan Panggilan Pelayanan GPM Dalam Menyikapi Keberagaman” yang diadakan oleh GPM, Didalamnnya memuat materi tentang Fenomena Radikalisme dan Ekstrimisme di Indonesia, Dampak dan Peran Media Sosial dalam Dinamika Masyarakat Indonesia yang Pluralisme, dan Peranan Pendidikan dalam Transformasi Realitas Radikalisme dan Ekstrimisme. Materi-materi tersebut disajikan langsung oleh narasumber-narasumber yang ahli dalam bidangnya.

 

Sebagai pembicara pertama, Kepala Badan Intelejen Daerah Maluku Brigadir Jenderal. Jimmy Aritonang, S.E mengatakan, “Saya melihat peraturan Walikota terkait PSBB dalam masa Pandemi Covid-19 tidak terlalu diindahkan oleh masyarakat, saya bertemu dengan Pemuka-Pemuka Agama. Lagi tuturnya, Saya datangi Ketua MUI, Ustad, Ketua GPM, Pastor. Saya berdiskusi dengan mereka untuk menghimbau masyarakat. Dan saya temui perbedaan yang signifikan, apabilah Pemerintah Daerah memberikan instruksi tidak terlalu diindahkan. Namun berbeda dengan Tokoh-Tokoh Masyarakat, saya melihat masyarakat mendengar. Inilah yang berbeda di masyarakat Maluku. Ia menambahkan, saya sangat apresiasi Tokoh-Tokoh Agama di Maluku yang sangat kompak. Dalam kegiatan yang dilakukan oleh Pemerintah saya selalu mendapati Tokoh-Tokoh Agama kumpul menjadi satu. Bagi saya ini simbol kekompakan Maluku, dan yang menjadi perbedaan dari Wilayah Maluku dengan Wilayah-Wilayah yang lain.

 

Ia juga menjelaskan tentang realitas radikalisme dan Ekstrimisme “Fenomena Radikalisme dan Ekstrimisme ini banyak pintu masuknya, dimana dari sekolah, media Sosial, Kemiskinan, Ketakwaan Agama dll.” Jelasnya lebih lanjut, saya lebih fokus membahas ke Media Sosial. Kita tahu sendiri Media Sosial sangat berpengaruh terhadap masyarakat Indonesia. Banyak sekali korban-korban akibat masalah yang ditimbulkan oleh kelompok masyarakat yang bermain melalui media sosial. Dengan mudah kita mendapatkan informasi, namun dengan mudah juga kita membaginya tanpa disaring terlebih dahulu kualitas kontenya.

 

Terkait masalah-masalah yang disajikan melalui media massa, maupun media sosial, sebagai Wartawan Media Nasional Gatra, Zairin Salampessy, S.Pi mengungkapkan. “Kita harus menyaring terlebih dahulu sebelum di sharing”, ungkapnya. Ia juga menambahkan, “Dalam sehari itu ada 5000 konten Hoax yang sengaja diproduksi, karena ada income yang diperoleh dari konten tersebut,” tuturnya.

 

Selaras dengan Aritonang, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme Provinsi Maluku Dr. Abd. Rauf, M.A menjelaskan, Radikal itu terbagi dua, ada radikal dalam pemikiran masih bisa kita toleril tetapi ada pula radikal yang tidak mampu kita toleril, dan akan ditindak lanjut oleh Aparat Negara. Orang-orang yang menggabungkan diri dalam radikalisme ini orang pintar, karena harus minimal tahu masalah media. Sebagai penutup, Abd. Rauf menghimbau kepada peserta Workshop, mari kita menjaga Maluku khususnya Ambon, untuk mempersempit gerakan-gerakan paham Radikal, agar tidak menimbulkan kekhawatiran dalam masyarakat.

 

Sumber

Previous Workshop Peran dan Panggilan Pelayanan GPM Dalam Menyikapi Keberagaman

Leave Your Comment