Lomba Huhate Perempuan Jemaat GPM Hulung

Huhate.. Huhate.. Huhate bae bae.. jangan sampe.. sembarang orang la tagae.. lagu lama yang dinyanyikan oleh Silvy dan Nina Patty (The Patty Sister) tahun 1984 dan kemudian dipopulerkan oleh Helas Group maupun artis Maluku lainnya. Lagu ini menjadi nyanyian yang mengandung nasihat untuk kaum muda dalam mencari teman. Lagu yang semakin hilang diera lagu-lagu bergenre modern, terdengar lagi dan membangkitkan romantisme tempo doeloe, ketika diperdengarkan pada saat Lomba Huhate dilakukan di Pantai Roulima Negeri/Desa Hulung. Namun lomba huhate ini tentunya bukan ditujukan untuk mencari teman, melainkan untuk mencari ikan dalam arti yang sebenarnya.

Huhate atau apeku dalam bahasa lokal Negeri/Desa Hulung merupakan cara orang tua zaman dulu untuk menangkap ikan saat aer meti (=air surut). Seiring dengan perkembangan zaman, tradisi ini sudah hampir hilang dan tergerus oleh cara serta alat modern yang dipakai untuk mendapatkan ikan yang banyak dan cepat. Jika ditanya kepada generasi muda sekarang ini tentang huhate, banyak diantara mereka yang tidak tahu pengertian sebenarnya bahkan bagaimana menggunakan huhate secara benar saat menangkap ikan. Hal mana berdampak pada menurunnya nilai kepedulian dan tanggung jawab menjaga serta mengolah laut dan sumber dayanya.

Realitas ini tentunya menggelisahkan gereja dalam tanggung jawab pembinaan spiritualitas dan pemberdayaan bagi warga gereja. Oleh sebab itu, ketika seorang anak negeri sekaligus sebagai pemerhati budaya, Ibu Sin Makatita, mengusulkan tradisi huhate untuk dijadikan sebagai kegiatan lomba, gereja pun menyambut baik usulan tersebut. Melalui pekan pembinaan kemitraan dalam rangka HUT ke-53 perempuan GPM serta momen peringatan Hari Pattimura tanggal 15 Mei 2021 yang ke-204 tahun, lomba Huhate dilakukan pada hari Sabtu, 15 Mei 2021. Lomba ini didahului dengan melakukan kegiatan bersih pantai satu hari sebelumnya. Kegiatan bersih pantai merupakan kegiatan rutin jemaat setiap satu kali dalam sebulan. Pelaksanaan kegiatan-kegiatan tersebut diharapkan agar kemitraan perempuan dan laki-laki Jemaat GPM Hulung dapat melaksanakan tanggung jawab budayanya terhadap kelestarian laut. Dari kacamata gender, Huhate pun dipandang bukan hanya sebagai pekerjaan lelaki, tapi sebagai pekerjaan perempuan dalam menopang pemenuhan kebutuhan pangan/makan keluarga.

Tema HUT Perempuan GPM Tahun 2021 yakni “Jadilah perempuan yang memberikan rasa aman”, semakin menggelorakan semangat perempuan Jemaat GPM Hulung untuk merawat dan mengembangkan tradisi huhate guna kehidupan yang baik bagi keluarga dan masyarakat. Tema tersebut kemudian tidak hanya sampai pada tataran pengetahuan/pemahaman teologi perempuan Jemaat GPM Hulung, namun tema ini pun teraktualisasi dalam panggilan perempuan sebagai pemberi rasa aman secara nyata.

Tradisi Huhate sebagai lomba yang digelar dengan menyeimbangkan kearifan lokal dan semangat bergereja ini diikuti oleh 21 mama-mama/ibu-ibu. Lomba tersebut dikemas dengan penuh kesederhanaan namun dalam spirit hidup orang basudara, sehingga suasana kekeluargaan dengan dukungan Laki-lagi Gereja serta anak-anak SMTPI sangatlah terasa. Kaum laki-laki gereja bertugas sebagai pengawas lapangan untuk memastikan keselamatan peserta ketika mengikuti lomba dengan menempatkan pos jaga satu orang jaga dua mama/ satu orang penjaga bertanggung jawab menjaga dua orang ibu. Selain sebagai pengawas lomba, laki-laki gereja juga berperan sebagai penilai lomba. Selain laki-laki, anak-anak SMTPI bertugas untuk melepas mata kael yang tarika/ ujung kail yang tersangkut pada karang atau rumput laut agar pelaksanaan lomba berjalan dengan lancar.

Pelaksanaan lomba huhate dimulai pada pukul 8 pagi dan berakhir pada pukul 10 pagi, disaksikan oleh seluruh Jemaat GPM Hulung dan masyarakat sekitarnya. Pemenang ditentukan berdasarkan jumlah ikan yang ditangkap, keunikan gaya huhate serta perlengkapan lainnya yang dipakai misalnya tampa ikan/tempat ikan maupun tampa umpan/tempat umpan yakni bakul kecil yang terbuat dari bambu muda atau loleba. Penggunaan tempat tersebut menjadi ciri khas orang tatua dolo-dolo/orang tua dulu-dulu saat huhate.

Hadiah tentunya bukan menjadi orientasi utama, namun melestarikan tradisi huhate atau apeku menjadi tanggung jawab perempuan Jemaat GPM Hulung supaya tetap diingat dan tetap melekat sebagai salah satu identitas lokal masyarakat Negeri Hulung. Kerja keras tanpa kenal lelah disertai tanggung jawab menjaga laut kemudian menjadi sikap iman yang harus terus ditumbuhkembangkan sebagai wujud pertumbuhan spiritualitas setiap Jemaat GPM Hulung dalam meresponi kasih Allah, Pencipta yang menganugerahkan kekayaan alam ini untuk dikelola secara benar.

Tak terasa waktu 2 jam yang disertai sorak sorai seluruh penonton ketika mama-mama/ibu-ibu menarik ikan berlalu begitu cepat. Pukulan tifa dengan irama maru-maru (cara memukul tifa dalam budaya Negeri Hulung) tak henti berbunyi hingga lomba berakhir. Jemaat dan seluruh masyarakat larut dalam kegembiraan yang tak terlupakan. HUHATE 2021 diharapkan menjadi agenda tahunan untuk terus membangkitkan semangat dan budaya lokal. Dengan demikian melalui tradisi huhate katong tarus jaga budaya deng jaga tampa nasi. Katong laeng baku kele laeng, laeng baku gendong laeng, laeng baku jaga laeng, di akang GPM ni; Gareja orang basudara.

 

Teruslah menjadi perempuan yang memberikan rasa aman!

Lei masaka olo-olo uware/mari jaga baik-baik lautan ini !

Lei masaka petau re/mari jaga persaudaraan ini !

—-

Penulis : Pdt. Sandra. Pesiwarissa – Ketua Majelis Jemaat Hulung

 

Sumber

Previous MPH Bercerita Bersama Anak-Anak di Lemanpoli

Leave Your Comment