Home / Jemaat Liliama

Jemaat Liliama

Number of View: 0

Sejarah Singkat Jemaat Liliama

Jemaat GPM liliama adalah jemaat yang telah ada sejak tahun 1900, dengan konteks hidup kesukuan yang hidup terpisah-pisah dengan kelompoknya masing-masing, dan belum mempunyai agama, dalam arti masih hindu.

Terbentuknya Jemaat Liliama melewati proses yang sangat panjang dan sulit sebab pada prinsipnya kehidupan jemaat Liliama dibangun dari kelompok-kelompok marga yang hidup terpisah-pisah satu dengan lainnya dan selalu berperangantar kelompok dan mempunyai sifat untuk mempertahankan wilayah kekuasaannya masing-masing, namun juga mempunyai prinsip selalu menyerang kelompok marga yang dirasakan menjadi ancaman kepada marga tertentu, dengan strategi memperluas daerah kekuasaan dan keunggulan kelompok (heroik sektarian) masing-masing. Cara hidup dari jemaat/masyarakat Liliama atau marga-marga ini pada prinsipnya tergantung pada kemanjaan alam dan belum mempunyai prinsip-prinsip yang benar tentang pertanian dan cara mengembang hidup lainnya. Cara bertani bersifat nomaden atau berpindah-pindah, berburu, untuk meperoleh daging untuk dimakan. Binatang yang diburuh antara lain : Babi hutan, Kus-kus/kusu, dan burung/unggas yang bisa dikonsumsikan oleh mereka.

Ada dua marga atau kelompok yang menetap di dua tempat yang berbeda yakni di Gunung Nusa Putri (15 Km dari jemaat sekarang) dan di Karakoyam (yang juga disebut benteng). Gunung Nusa Putri didiami oleh marga Hakapaa. Karakoyam didiami oleh marga Mokiha/Hiyau, 3 km dari jemaat Liliama yang sekarang. Marga Mokiha bersal dari seram utara yaitu Seti. Sedangkan marga Hakapaa berasal dari Maraina.

Injil mulai diterima oleh marga hakapaa di pedalaman gunung nusa putri pada tahun 1900, pada masa zending oleh bangsa Belanda, namun keterangan tentang pendeta tersebut oleh narasumber tidaklah lengkap. Misalnya penutur hanya ingat marga atau nama dari pendeta/penginjil itu saja.

Orang pertama yang menerima injil adalah dari marga Hakapaa adalah Albert Hakapaa dan dibaptis oleh pendeta belanda , yakni pendeta Hoc. Dan oleh pendeta Hoc memberikan tugas kepada Albert untuk menginjili saudara-saudara atau marga-marga yang lainnya pula. Hampir kurang lebih selama 3 tahun Albert bermisi ke marga hiyau/mokiha, Kapitan, hatuputty, sabuai dan juga kepada marga mailao yang datangnya dari Ambon/Kudamati yang juga turut bergabung dalam kelompok marga batih atau asli yang sudah menetap sejak awal di Liliama, bahkan ke daerah Elnusa. Dengan setia melayani ibadah-ibadah di masing-masing tempat seara bergilir pada masing-masing marga. Karena belum ada gedung gereja yang representatif, maka dipergunakan rumah marga yang lebuh besar untuk pelksanaan kegiatan ibadah. Diantara tahun 1900-1903, marga hiyau melakukan gerakan turun kepesisir pantai, dan bergabung dengan negeri poling (muslim)secara terpisah. Marga Hiyau telah percaya namun belum dibaptis. Pada tahun 1902 pendeta Hehanusa datang didaerah poling tempat sebagian kecil marga hiyau tetapi pula hakapaa yang telah turun ke pesisir oleh pendeta hehanusa dilakukan pembaptisan.

Setelah menjelang bulan desember 1903 pemukiman jemaat Liliama berpindah dari desa poling. Persoaln keterpisahan tersebut karena mereka tidak terima baik atas pemukulan oleh warga poling terhadap pendeta Heanusa. Kronologisnya : Natal berbarengan dengan bulan puasa. Perayaan natal dilaksanakan dengan pawai tambur keliling kampung dan dihiasi dengan minuman keras. Karena rasa terganggu dan terlalu ribut yang ditimbulkan pawai tersebut maka menimbulkan amarah warga poling. Mereka memukuli anak-anak pawai tambur, tidak ambil baik atas pemukulan maka terjadi perkelahian. Pendeta Heanusa mencoba menengahi namun ternyata juga dipukul oleh warga poling. Akhirnya orang tua-tua Liliama, Hiyau dan Hakapaa, Kapitan, Mailao dan Sabuai mengambil keputusan untuk keluar dari poling. Disebabkan karena adanya hubungan kekerabatan dengan orang poling dan rasa sayang dan oramg poling dengan alasan tidak rela mereka tidak mau warga Liliama pergi ke tempat yang jauh (lokasi Naiwel Ahinulin)dengan pertimbangan pula oleh orang tua-tua Liliama atas diberikannya satu tempat disebelah barat kurang lebih 1,2 Km dari negeri poling dengan panjang 250 M2 dan lebar 250 M2 yakni dengan luas 1000 M2, atas sumpah orang tua-tua poling maka dengan pertimbangan orang tua-tua Liliama saat itu bahwa aset kebun, tanaman dan kepemilikan wilayah maka mereka menerima tawaran orang tua-tua poling dan menetap di jemaat Liliama yang sekarang ini.

Nama jemaat Liliama berasal dari kata Lili dan Ama. Kata Lili berarti berjalan berkeliling sedangkan kata Ama berarti kampung. Jadi arti nama Liliama adalah ”Berjalan Berkeliling atau Berkembara untuk Membuat Kampung”.

Setelah menetap di Liliama maka datanglah pendeta Pattinasarane dan melakukan baptisan masal kepada seluruh marga dan warga Liliama pada tahun 1904

Berikut ini merupakan nama-nama pendeta yang bertugas di jemaat Liliama dari tahun 1900-2010 :

  1. Pendeta Hoc (1900) Zending belanda
  2. Pendeta Hehanussa/Guru Injil (1903)
  3. Pendeta Pattinasarane/Guru Injil
  4. Pendeta Yoseph/Guru Injil
  5. Pendeta Putirulan/Guru Injil
  6. Pendeta Rehena/Guru Injil
  7. Pendeta Kainama/Guru Injil
  8. Pendeta Piter Risamasu/Guru Injil
  9. Pendeta YosepTulalessy/Guru Injil
  10. Pendeta Yance Akerina. S.Th
  11. Pendeta Lili Picanussa. S.Th (1995-2010)
  12. Pendeta D. de Kock,S.Si (2010- Mei 2013 )
  13. Pendeta St.N.Mosse. S.Si ( Mei 2013 – )

Demikianlah sejarah singkat Jemaat GPM Liliama.

280 total views, 3 views today