Home / Jemaat Yamahena

Jemaat Yamahena

Number of View: 0

Sejarah Singkat Jemaat Yamahena

Sejarah terbentuknya Jemaat Yamahena berawal dari kedatangan beberapa orang tatua dari Selumena, Maraina dan Manusela. Mereka datang, tinggal dan menetap di Wolu (kampong muslim),menyatu dengan seluruh kehidupan orang-orang Wolu. Namun kehidupan keagamaan mereka (ibadah dan pelayanan lainnya) berlangsung di jemaat Lafa. Aktifitas dan rutinitas orag tatua yang tinggal di Wolu itu berjalan dengan baik, tetapi dengan di sunatnya seorang bapak pada waktu itu (Bapak Walesa), yang bertugas sebagai marinyo, maka orang-orang tersebut mengambil keputusan untuk pindah dan tinggal di dusun Seseleto,Hulusuaen,dan Tomahu. Alasan lain yang menyebabkan orang-orang tua-tua pindah adalah karena soal makan yang berbeda.

Mereka tinggal di dusun-dusun itu hingga jaman pendudukan Jepang (1942) sampai pecahnya perang RMS (1950), maka ada beberapa orang yang kembali ke Manusela, tetapi ada juga yang bertahan. Hingga tahun 1951 di bentuklah perkampungan yang terdiri dari tiga orang ( tiga rumah) yaitu : bapa Eliezer Selumena, bapa Petu Hukuna, bapa Seleb Rehena. perkampungan ini kemudian di beri nama oleh Raja Wolu ( Robo Halilau) “Rumah Tiga “. Karena Rumah Tiga sudah ada, maka orang-orang yang tadi-tadinya mengungsi ke Selumena dan Manusela kembali lagi dan bergabung bersama Tiga keluarga itu. Proses ibadah dan aktifitas pelayanan lainnya berlangsung di jemaat Lafa selama 3 tahun. Atas inisiatif dan prakasa Raja Wolu, ia kemudian ke resot (sekarang klasis; yang menjabat sebagai ketua resrot pada waktu itu adalah Pdt.J.Syahainenia) untuk meminta kehadiran seorang pendeta di jemaat Rumah Tiga. Pdt Syahainenia, kemudian menugaskan salah seorang guru yang waktu itu bertugas di Negeri Angos ( negeri Muslim ) untuk melayani DI Rumah Tiga.

Karena segala pelayanan sudah ditangani oleh guru injil ( Bapa Sipahelut), maka Raja Negeri Wolu atas perintahnya, mengarahkan seluruh masyarakat Wolu untuk membantu kampung Rumah Tiga membuat sebuah tempat ibadah (Balai Kerohanian). Dengan adanya balai kerohanian, ibadah-ibadah mulai dilaksanakan, tetapi jika ada pelayanan sakramen semuanya berlangsung di Lafa. Ibadah di BK berjalan selama 2 tahun, maka pada tahun 1956 di bangunlah sebuah gereja parmanen dan pada tanggal 25 Januari 1962 di tahbiskan gedung gereja tersebut dengan nama “ BETHABARA”.

Setelah gereja Bethabara di resmikan, guru injil ( Bapa .T. Sipahelut) pensiun dan kembali ke Ambon. Seluruh pelayanan kemudian ditangani oleh majelis jemaat Lafa sampai tahun 1968. Pada tahun yang sama (1968) penginjil Bapa T. Beay di tugaskan di Rumah Tiga, dan pada tahun itu juga, Rumah Tiga di lembagakan menjadi Jemaat. Pimpinan resot pada waktu itu adalah Pdt S.E. Ulorlo.

Penginjil Bapa Beay bertugas hingga tahun 1970 kemudian di gantikan oleh penginjil Bapa J.  Erupley (1970-1973). Tahun 1973-1974 kembali Bapa Beay bertugas. Tahun 1974 Bapa beay diganti dengan Bapa Penginjil F. Rehena (1974-1984)

Pada masa kepemimpinan bapa Rehena, jemaat Rumah Tiga mengalami perpindahan tempat tinggal ke tempat yang sekarang di tempati. Hal ini di sebabkan karena letak/posisi kampong jauh, ditambah dengan kesehatan jemaat yang tidak memadai dan berakibat pada kematian. Alasan lain yaitu: karena setiap musim timur kehidupan jemaat teramcam dengan bahaya banjir. Atas pertimbangan itu maka pada tahun 1972 perkampungan baru mulai di buka. Tahun 1975 perumahan mulai di bangun bersamaan dengan itu balai Kerohanian juga di bangun. Perkampungan Rumah Tiga kemudian di pindahkan. Seiring dengan perpindahan tersebut, maka nama kampong juga mengalami perubahan, dari  Rumah Tiga menjadi “ Yamahena “ yang artinya “ kampung yang betul”

 

27 Juli 1975 ibadah perdana di mulai di BK yang baru. Sampai pada tahun 1977 dilakukan peletakan batu pertama gedung gereja baru oleh Pdt.Z. Masihin. Pekerjaan pembangunan gedung gereja dilakukan selama 6 tahun dan pada tanggal 22 Desember 1983 gedung gereja baru diresmikan dengan nama “ Mata Air Penyeru “ . Seluruh aktifitas pelayanan berlangsung seperti biasanya sampai pada tahun 1983 di tugaskan Pdt.D. Tamala yang melayani hingga tahun 1990. Tahun 1990-1998 jemaat Yamahena di pimpin oleh Pdt.G. Yongnain. Ketika terjadi konflik kemanusiaan pada tanggal 5 Januari 2000, semua anggota jemaat lari meninggalkan segala yang di milikinya. Sebagian mengungsi ke hutan dan langsung ke Wahai, tetapi ada juga yang bersama-sama dengan jemaat Lafa naik kapal ke Makariki. Setelah tiba  di Makariki anggota Jemaat Yamahena ada yang tinggal di Kilo Meter I ( SMK pertanian ) ada juga yang tinggal di Nakupia. Selama berada di pengungsian pelayanan berlangsung pada jemaat-jemaat yang menjadi tempat pengungsian. Sampai pada tahun 2005 beberapa orang kembali ke kampung untuk melakukan pembersihan (oleh Bapak-bapak). Tahun 2006 anggota jemaat Yamahena sebagian kembali ke kampung tetapi sebagian juga tidak kembali, dengan alasan pekerjaan dan studi anak-anak.

Dengan kondisi rumah seadanya ( Rumah berdinding gaba-gaba) jemaat Yamahena mulai menata kembali seluruh aktifitas pelayanannya dan ibadah perdana mulai di lakukan di BK pada bulan April 2006. Dibawah pimpinan Majelis Jemaat : Pnt. P. Sulemena ( Wakil ketua) dan Pnt. Y. Selumena, bersama Pdt. Nn. S. Latuny. S.Si (ketua klasis Telutih) dan Pdt.A. Lohy. S.Th (ketua Majelis  jemaat GPM Lafa ), peletakan batu pertama gedung gereja Mata Air Penyeru di lakukan. Bersama dengan Pdt. Nn. P. Kaihatu. S.Si, proses pembangunan gedung gereja terus di lakukan, dengan suka dukanya sampai pada tanggal 15 Desember 2013 ditabiskan oleh MPH Sinode. Pdt. DR.Ny.E.Marantika/M.

309 total views, 1 views today