Home / Jemaat Ulahahan

Jemaat Ulahahan

Number of View: 0

Latar Belakang Historis Jemaat GPM Ulahahan

            Sejarah Jemaat GPM Ulahahan terbingkai dalam dua peristiwa yaitu sebelum konflik sosial yang melanda Maluku yang dimulai dari tahun 1914 sampai tahun 1999 dan sesudah konflik sosial yaitu tahun 2000 sampai tahun 2007.

  • Tahun 1914-1999 (sebelum konflik sosial di Maluku)

            Gunung Yama Haipate (Yama artinya kampong/negeri; Haipate artinya tempat tinggal) awal mula masyarakat Ulahahan tempat bermukim. Yang dihuni oleh satu kelompok yaitu; kelompok Ulahahan (Ipapud), dan masih beragama suku. Tahun 1912 kelompok Ilasa yang terdiri dari satu marga yakni marga Lapelelo turun dari gunung Ilasa. Dan pertama kali menetap di kali Ikulu, Kemudian berpindah di sebelah Barat kali Waulu. Pada saat itu agama Islam sudah masuk, dan kira-kira 10 KK dari kelompok ini memilih memeluk agama Islam. Salah satu keluarga setelah memeluk agama Islam namanya diganti menjadi Sangadji Lapelelo. Mereka yang memeluk agama Islam kemudian memilih daerah pemukiman baru yang dikenal sampai saat ini dengan sebutan kampung Islam baru. Kelompok Ulahahan (Ipapud) mengikuti kelompok Ilasa turun mencari tempat bermukim yang baru.

Akhir tahun 1913, kelompok Ulahahan menempati territorial yang baru di sebelah barat kali Waulu. Kelompok Ulahahan berjumlah jiwa 280 jiwa dengan 40 KK. Nama Ulahahan sendiri adalah pemberian nama dari raja negeri Laimu yang pertama yang bernama Abdul Rahman Welemuli. Yang diambil dari rumpun bahasa Ilasa yaitu; Ulahanolu yang berarti Orang Sudara. Kelompok Ulahahan ini terdiri dari 7 (tujuh) marga asli yaitu; Masauna, Ifufula, Walalohun, Waifitu, Pahutana, Kaifuan dan Nayatuen.[1]

            Awal mulanya kelompok Ilassa mencari tempat tinggal, mereka berjalan dijalan yang bernama jalan Polowaan yang dipimpin oleh moyang Hatu Toin Mutua, yang bermarga Lapelelo. Mereka sampai disebelah barat kali Waulu, dan berjalan terus sampai dibelakang gunung Ilassa yang bernama Hatu Lepa. Mereka menetap disitu, dari situlah ada 5 (lima) marga yaitu Marga Lapelelo, Mualo, Mamalato, Manafau, Sifata dan yang menjadi kepala marga yakni moyang Hatu Toin Mutua. Kemudian mereka turun ke pantai, waktu turun pertama mereka singgah di  Hatu Fuen (Pohon Batu). Mereka turun langsung ke pantai dan membuat negeri dan membuat tempat tinggal masing-masing. Kemudian masuklah agama Islam dan sebagian besar marga (Kelompok) Lapelelo, Mualo, Mamalato, Manafae dan Sifata yang masuk agama Islam. Sedangkan sebagian kecil marga ini tidak masuk agama Islam dan tetap memeluk agama Hindu. Kemudian kelompok Haipate (Ulahahan) yang turun pada tahun 1914 bergabung dengan Ilassa dan kelompok Ilassa yang beragama Islam Pindah tempat dan mereka memberi nama tempa tinggal mereka yakni Islam Baru kemudian berubah menjadi Laha Islam dan sampai sekarang menjadi Laha Kabah. Kemudian sisa kelompok (marga) Ilassa yang masih Hindu mereka bergabung dengan kelompok Haipate (Ulahahan). Kemudian ketika injil masuk kemudian kelompok Ilassa masuk Kristen bersama-sama dengan kelompok Haipate sampai sekarang ini.

Tahun 1914 oleh seorang Penginjil/Guru Jemaat yang bernama Pendeta Maitimu Injil diberitakan. Tahun yang sama dua orang dibaptis dengan nama yaitu; Corneles Walalohun dan ibunya Clara. Mereka berdua dibaptis oleh pendeta Kock yang bertugas di Ambon (mempunyai latar belakang pendidikan Teologi). Saat itu ada aturan bahwa hanya yang berpendidikan teologi/sarjana teologi dan memiliki jabatan gerejawi yang melayani Sakramen. Nanti, tahun 1945 barulah seorang penginjil/guru jemaat diperbolehkan melayani sakramen. Setelah pembaptisan pertama terhadap ibu dan anak, tidak berselang lama kelompok Ulahahan memberikan diri untuk dibaptis dan memeluk agama Kristen. Mereka dibaptis dilokasi yang kemudian menjadi tempat dibangun gereja yang pertama yang disebut ’’batu karang’’, bangunan gereja terbuat dari gaba-gaba yang dibangun pada tahun yang sama. Dengan demikian, Jemaat Ulahahan lahir/terbentuk pada tahun 1914. Pertumbuhan jemaat yang terus meningkat, gereja baru dapat dibangun dan diberi nama ’’Penuel’’ oleh pendeta Derek Mailoa. Tanggal 30 November 1949 gedung gereja ini ditahbiskan.

Jemaat Ulahahan saat itu bergabung dalam wilayah Resort (sekarang Klasis) yang berpusat di Lafa. Yang dikoordinir oleh pendeta Narwa dan pendeta Alfons. Sidang Klasis yang pertama terjadi tahun 1975 di jemaat Saunulu dengan ketua Klasis pendeta Hendrik Leleury. Informasi yang didapat, jemaat GPM Ulahahan resmi masuk sebagai bagian dari anggota GPM tahun 1925. Dari tahun 1914-1999 ada beberapa pendeta yang telah bertugas di Ulahahan. Berikut nama-nama dan tahun pelayanannya:

  1. Pendeta/ Guru Jemaat Maitimu(1914-1920)
  2. Pendeta Huka (1920-1925)
  3. Pendeta Siwabessy dan guru jemaat Titihalawa (19925-1930)
  4. Pendeta Noija (1931-1932)
  5. Pendeta Yoseph (1932-1934)
  6. Pendeta Putirulan (1934-1936)
  7. Pendeta Corneles Tupano (1937-1940)
  8. Pendeta Yoseph Tulalesy (1940-1954)
  9. Pendeta Yosepus Piter Tuturima (1954-1957)
  10. Pendeta Unmehova (1957-1960)
  11. Pendeta Piter Risamasu (1960-19690
  12. Pendeta Yulius Melianus Kainama (1969-1970)
  13. Pendeta Radianto (1970-1971)
  14. Pendeta Yulius Melianus Kainama (1971-19770
  15. Pendeta Corneles Timisela (1977-1980)
  16. Pendeta Lukas Nasarany (1980-1985)
  17. Pendeta Niko Kainama (1985-1987)
  18. Pendeta Nn. Agustina Samu-samu (1987-1992)
  19. Pendeta Ny. Maria Ruhulessin (1992-1999)
  20. Nn. A. Payer (2004-2005)
  21. D. Lapelelo (2005-2007)
  22. P. Likliwatil (2007-2015)
  23. Pendeta Ny. H.M.I. Wamese (2015 – sekarang)

 

  • Tahun 2000-2007 (konflik-sesudah konflik)

            Tahun 1999, setelah dimutasikan Pdt. M. Ruhulessin pelayanan diemban wakil Majelis Jemaat Penatua D. Lapelelo. Pada tahun 1999 konflik sosial melanda maluku termasuk juga Ulahahan yang saat itu tidak ada seorang pendeta. Tanggal 3 Januari 2000 jemaat Ulahahan harus meninggalkan negerinya, mengungsi ke Seram Utara kurang lebih 6 bulan di tiga tempat yaitu; desa Seti, Wahakaem dan Mulumet. Seterusnya dievakuasi ke pengungsian di Waipia kecamatan TNS. Terpencar pada 3 lokasi yaitu; desa Jerili, Lesluru, Trana (JELESTRA). Kurang lebih 3 tahun dibawah koordinasi Klasis Masohi pelayanan tetap berjalan dengan baik. Dan tanggal 16 Maret 2003 jemaat Ulahahan berkeputusan untuk menetap pada wilayah baru di petuanan HBI (Makariki). Selama berada di HBI Jemaat Ulahahan mendapatkan seorang vikaris pada tanggal 27 Januari 2003, Vicaris GPM (Semuel Hendrik Kalahatu). Kemudian tahun 2004-2005, pendeta Nn. A. Payer ditugaskan di jemaat Ulahahan. Ketika jemaat Ulahahan memutuskan kembali negeri asal Ulahahan, pertengahan tahun 2005. Pendeta Nn. A. Payer tidak turut bersama jemaat kembali ke Ulahahan. Setelah pulang dari tempat pengusian jabatan pelayanan diemban oleh Pnt. D. Lapalelo. Kemudian pada tahun 2007, pendeta P. Liklikwatil, Sth. ditugaskan di Ulahahan sampai tanggal 10 Mei 2015. Selama dimutasikannya  Pdt. P. Likliwatil, S.Th, jabatan pelayanan diemban Pnt. Y. Kaifuan (Wakil Majelis Jemaat). Kemudian tanggal 6 September 2015, Pdt. Ny. H.M.I. Wamese, M.Si ditugaskan di jemaat Ulahahan sampai sekarang.

Ketika meninggalkan HBI, ada sebagian jemaat yang karena kebutuhan pendidikan anak-anak tetap menetap di HBI sampai sekarang. Untuk menjembatangi pelayanan disana, telah dibentuk 1 (satu) Unit pelayanan yakni Unit Elsyaday. Pelayanan ditugaskan kepada 2 orang majelis jemaat dan didampingi juga oleh pendeta.

[1] Renstra Jemaat GPM Ulahahan 2013-2015

384 total views, 3 views today