Home / Jemaat Sabuai

Jemaat Sabuai

Number of View: 0

Sejarah Jemaat Sabuai

     Sebelum memeluk Agama, masyarakat Sabuai memiliki kepercayaan yang bersifat Animisme atau kepercayaan kepada roh-roh nenek moyang, pohon dan yang lain. Pada tahun 1954, Agama Islam masuk ke Sabuai dibawa oleh Mayor Abdullah yang pada waktu itu datang dengan misi untuk mengislamkan semua daerah yang ada di Pulau Seram. Pada waktu Agama Islam masuk, Sabuai dipimpin oleh seorang Kepala Dusun yang disebut Bapak Jo. Saat itu sebagian masyarakat Sabuai memeluk agama Islam, termasuk didalamnya Kepala Dusun yang memiliki nama Hindu MANLAKAHE dan ketika menjadi  Islam menggantikan namanya menjadi FAISAL, akan tetapi mereka hanya memeluk  Agama  Islam selama kurang lebih satu bulan, dan setelah itu kembali lagi kepada kepercayaan semula yaitu Animisme. Hal ini disebabkan karena ketika mereka datang ke Dusun Abuleta untuk menjalankan puasa, terjadi kesalahpahaman diantara mereka. Selain itu mereka juga merasa tidak nyaman dengan berpuasa. Ketika terjadi kesalahpahaman itu, mereka lalu kembali ke kampung lama yang merupakan tempat tinggal mereka dan kembali kepada kepercayaan mereka yang pertama, yaitu Animisme.

Pada tanggal 27 Juli 1954 Injil masuk ke Sabuai melalui seorang Penginjil yaitu Bapak.Y.TULALESIN, beliau datang dan membaptis sekitar 30 orang di rumah Bapak IZAK yang merupakan orang pertama di Sabuai yang memeluk Agama Kristen, dan beliau menikah di Lava ( sudah menjadi kristen ). Diantara 30 orang yang dibaptis itu, termasuk didalamnya kepala Dusun Sabuai yang dibaptis dengan nama PETRUS NISDOAM. Baptisan masal itu juga dihadiri oleh Majelis dari Jemaat Elnussa, yaitu Armanus Patotnem, Wilem Kapitan dan seorang Tuagama ( Piter Patotnem ), dan selama kurang lebih 1 bulan pelayanan ditangani oleh Majelis Jemaat Elnussa.

Pada tahun 1954 juga datang utusan dari Klasis yang saat  itu berpusat di Amahai, yang Beresort di Lava yaitu SALMON MASAUNA, yang saat itu berstatus sebagai Penginjil untuk melayani di Sabuai selama satu setengah tahun. Akan tetapi nasib berkata lain, pada tahun 1955 – 1956 terjadi pergolakan RMS, Bapak MASAUNA ditangkap karena dicurigai sebagai bagian dari RMS. Saat terjadi pergolakan RMS masyarakat Sabuai mengungsi ke Negeri Atiahu, juga melarikan diri ke Gunung. Selama beradi di pegunungan ( 1956 – 1958 ), mereka tidak menjalankan Ibadah apabila Majelis dari Elnussa tidak datang untuk melayani, mereka hanya menjalankan tangguh ( Kolekta ) dari rumah kerumah.

Pada tahun 1959 – 1960 mereka turun dari pegunungan ke Negeri lama dan mendirikan Gedung Gereja darurat dan Majelis Jemaat Elnussa kembali aktif melayani. Tahun 1960 terjadi badai yang menghantam Gedung Gereja darurat tersebut, sehingga mereka harus memindahkan Gedung Gereja yang semula dekat pantai ketempat yang lebih aman. Dan dalam tahun itu juga, untuk pertama kalinya diangkat Majelis Jemaat Sabuai, a.l :

  1. Menase Patotnem
  2. Marthen Ahwalam
  3. Aleta Nisdoam
  4. Markus Titasam

Sedangkan Tuagama Yaitu :

  1. Welem Patotnem
  2. Ananias Patotnem
  3. Yacob Titasam.

Adapun pengangkatan saat itu bukan berdasarkan pemilihan tetapi diangkat langsung oleh Penginjil berdasarkan kemampuan mereka. Pada waktu itu Persekutuan Jemaat  yang  sekarang dikenal dengan nama kring PI dinamakan Britis Injil dan saat itu Sabuai termasuk dalam Britis Injil yang terdiri dari 12 Jemaat, terhitung dari Jemaat Hunisi sampai Jemaat Sawol.

Tahun 1967 – 1969, masuklah Penginjil Kailuhu dan Taihittu, dengan komposisi Majelis masih sama seperti semula, kecuali Tuagama yang baru diangkat yaitu Kornelius Walakula dan Yonias Nisdoam.

Tahun 1960 – 1970, Penginjil Salmon Masauna kembali dari tahanan, dan berada di Jemaat kurang lebih 2 bulan, karena sakit, beliau lalu pulang ke kampung asal ( Ulahahan ), akan tetapi setelah 2 minggu berada di Ulahahan

beliau kembali lagi ke Sabuai karena kerinduannya untuk meninggal di   Jemaat yang pertama didatangi. Ketika Bapak Masauna ada dalam kondisi sakit, Penginjil Simon Malihu telah ada di Sabuai untuk membantu pelayanan selama tidak ada Penginjil.

Pelayanan dibantu oleh Majelis Jemaat a.l :

  1. Markus Titasam
  2. Andarias Nisdoam
  3. Simon Ahwalam
  4. Ibe Nisdoam
  5. Simson Nisdoam.

Tuagama a.l :

  1. Welem Patotnem dan 2. Yacob Titasam.

Tahun 1975 – 1977, terjadi kekosongan Penginjil, disebabkan karena Penginjil Malihu meninggalkan Jemaat karena istrinya meninggal, maka pada tahun 1977 masuklah Penginjil Oktovianus Wutuwensa dengan status sebagai Penatua, yang merupakan utusan dari Klasis, karena ia sendiri adalah Badan Pekerja Klasis. Melalui kesepakatan bersama maka pada Tahun 1977 – 1981, Penatua Wutuwensa ditahbiskan menjadi Penginjil, Dan dalam kurun waktu itulah Gedung Gereja Sabuai dibangun, sekaligus dilakukan pemilihan MJ yang baru, mereka yang terpilih a.l:

1.Dkn Lazarus Yamarua

2 Dkn. George Titasam

3.Pnt. Fredik.Nisdoam

4.Pnt. Simon Izak

Tuagama a.l:

1.Ever Ahwalam

2.Piter Patotnem

3.Ulis Walakula

Tahun 1983 – 1984 Penginjil Wutuwensa diganti dengan Penginjil NICOLAS KAINAMA

Majelis Jemaat a.l:

1.Dkn. Simon Izak

2.Dkn. David Lintutu

3.Dkn.George Titasam

4.Pnt. Fredik.Nisdoam.

Tuagama a.l:

1.Paulus Nisdoam

2.Ever Ahwalam

3.Adam Patotnem

Tahun 1985 – 1988, Penginjil TONCI POHWAIN melayani.

Majelis Jemaat a.l:

1.Pnt.Simon Izak

2.Pnt.Ibe Nisdoam

3.Pnt.Piter Patotnem

4.Dkn.Fredik.Nisdoam

5.Dkn.Ende Sopacua

6.Dkn.George Titasam

Tuagama a.l:

1.Paulus Nisdoam

2.Yordan Hakapaa

3.Semy Hatifuan

4.Melkisedek Yamarua

Tahun 1988– 1994, Penginjil MARKUS PAULUS LATUMAHINA melayani.

Majelis Jemaat a.l:

1.Pnt.Fredik.Nisdoam

2.Pnt.George Titasam

3.Pnt.Piter Patotnem

4.Dkn.Ance Sopacua

5.Dkn.Edi Hatulekal

6.Dkn.Abner Titasam

Tuagama a.l:

1.Zefanya Patotnem

2.Salmon Yamarua

3.Yustus Ahwalam

4.Adam Patotnem.

Dalam kepemimpinan Penginjil Latumahina, untuk pertama kali Jemaat sabuai menerima Vikaris, yaitu LILI PICANUSSA , 1992 – 1993  yang kemudian ditahbiskan dan ditempatkan di Jemaat Sabuai menjadi Ketua Majelis Jemaat.

Tahun 1994 – 1996 Pdt.LILI PICANUSSA,S.Th  bertugas di Jemaat Sabuai

Majelis Jemaat a.l:

1.Pnt.Piter Patotnem

2.Pnt.Lazarus ahwalam

3.Pnt.Fredik.Nisdoam

4.Dkn.Agustina.Wutuwensa

5.Dkn.Edi.Hatulekal

6.Dkn.Ance Sopacua

7.Dkn.Yohanis Ahwalam.

Tuagama a.l:

1.Yustus Ahwalam

2.Semuel.Nisdoam

Tahun 1996 – 2009, Pdt.FANI NIKIJULUW bertugas di Jemaat Sabuai

Majelis Jemaat a.l:

1.Pnt.Oktovianus.Tetty

2.Pnt.Calo.Ahwalam

3.Pnt.Piter.Patotnem

4.Pnt.Jhon.Malaihollo

5.Dkn.Agustina.Wutuwensa

6.Dkn.Yohanis Ahwalam

7.Dkn.Ance.Sopacua

8.Dkn.Edi.Hatulekal

Tuagama a.l:

1.Adam Patotnem

2.Yustus Ahwalam

3.Elias Patotnem

4.Lambert Ahwalam.

 

Dalam masa kepemimpinan Pdt.F.Nikijuluw, terjadi konflik kemanusiaan yang melanda Maluku ( 1999 ), Jemaat sabuai termasuk salah satu Jemaat yang mengungsi. Pada hari minggu tanggai 2 januari 2000, tepat jam 12 siang Gereja Sabuai dibakar tanpa ada perlawanan (kontak senjata). Jemaat keluar dan bermalam di rumah-rumah kebun, disitu 3 warga jemaat menjadi korban yaitu:Tuagama Yustus Ahwalam, Bpk.Everth Ahwalam dan Bpk. Zadrakh Ahwalam. Tanggal 3 januari pagi-pagi jemaat berjalan dan tiba di satu tempat namanya Liang Batu. Jemaat tinggal 1 minggu lamanya. Hari senin tanggal 10 Januari Jemaat tinggal di gunung yang lebih tinggi namanya Kampung Lama, waktu itu jemaat sabuai terbagi 2 kelompok. Kelompok 1 dikampung lama berjumlah 43 orang, kelompok 2 di Gunung Dingin berjumlah 300 orang. Senin 17 januari jam 7 pagi setelah doa, jemaat berjalan lewat Gunung Kanadera dan bermalam di Gunung Tunsai (osmone). Esok paginya jemaat berjalan lagi dan tiba di air Fatnibil pada jam 5 sore, dan menebang sagu 1 pohon untuk makan, disitu jemaat beristirahat selama 2 hari. Hari kamis 20 Januari jemaat berjalan menuju Gunung Kamu-Kamu, dan seorang ibu (Dortea walakula melahirkan) disitu jemaat tinggal selama 3 hari. Pada saat di Gunung Dingin Bapak Markus Titasam meninggal dunia pada tanggal 22 januari. Sekitar jam 7 malam jemaat meninggalkan Gunung Dingin menuju kepala Air Tunsa (Siwe) dan tiba di Siwe pada jam 7 pagi. Kemudian melanjutkan perjalanan ketempat yang bernama Soso, Jemaat tinggal di Soso selama 1 minggu, perjalanan dilanjutkan kembali menuju Kamu-Kamu, namun ditengah perjalanan jemaat beristirahat di tempat yang bernama Tifaaiwula (Siril) dan tinggal selama 3 hari. Kemudian berjalan lagi menuju Kamu-Kamu. Senin 24 Januari Jemaat melanjutkan perjalanan menuju sebuah kampung kecil yang bernama Fatkalaman di Wilayah Seram Utara dan tinggal selama 9 hari. Rabu 2 Februari, dari Fatkalaman sekitar jam 8 pagi jemaat berjalan menuju tempat yang bernama Tanah Merah, dan tiba pada jam 2 siang, disana sudah ada Panitia yang menjemput untuk dibawa ke Pondok  Pesantren. Pada hari sabtu 5 Februari, 2 orang ibu melahirkan (Elissabeth Yamarua dan Martafina Yamarua). Dari Tanah Merah, Jemaat terbagi menjadi 2 bagian lagi, Kelompok 1 tinggal di Pondok  Pesantren Taniwel dan kelompok 2 tinggal di Wahai selama 2 tahun. Kamis 17 Februari jemaat meninggalkan Pesantren dan dievakuasi ke Taniwel dengan menggunakan KM Mentari II.

Sabtu 19 Februari Jemaat tiba di Taniwel dan tinggal di Jemaat GPM Uweth selama 14 bulan. Pada tgl 15 Mei 2002 Jemaat dibawa oleh PEMDA ke Dusun Rumalait Kecamatan Amahai. Sebelum Jemaat mengungsi, telah terjadi pemilihan Majelis Jemaat, akan tetapi baru dapat dilantik saat mereka ada di Rumalait, karena saat itu situasi masih dalam konflik. Selama masa kepemimpinan Pdt.Nikijuluw, terjadi dua kali pergantian Majelis Jemaat, yaitu periode 2000 – 2005 dan 2005 – 2010. Saat umat di Rumalait, mereka melakukan peribadahan di Balai Kerohanian yang didirikan secara darurat.

Majelis Jemaat periode 2000 – 2005 a.l:

1.Pnt.Ambrosius Titasam

2.Pnt.Dani Yamarua

3.Pnt.Agustina Wutuwensa

4.Dkn.Manase Patotnem

5.Dkn.Niko Ahwalam

6.Dkn.Dace Wutuwensa

7.Dkn.Yordan Titasam

Tuagama a.l:

1.Elias Patotnem

2.Lambert Ahwalam

3.Yustus Ahwalam.

Majelis Jemaat periode 2005 – 2010 a.l:

1.Pnt.Ambrosius Titasam

2.Pnt.Dani Yamarua

3.Pnt.Niko Ahwalam

4.Pnt.Agustina Wutuwensa

5.Dkn.Yordan Titasam

6.Dkn.Yacob Ahwalam

7.Dkn.Alberth Nisdoam

8.Dkn.semuel Nisdoam.

Setelah kondisi telah aman, maka sebagian warga jemaat kembali dari tempat  tempat pengungsian ( Uwet dan Rumalait ) ke Jemaat Sabuai untuk melakukan pembersihan Negeri pada tahun 2006, kemudian mulai menetap dalam Jemaat. Dan untuk menata kehidupan pelayanan dan kesaksian, dibangun Gedung Gereja darurat untuk aktifitas beribadah. Dalam kurun waktu itu, melalui bantuan Dana INPRES mulai dibangun Gedung Gereja yang representatif. Pekerjaan pembangunan kurang lebih 1 tahun, dan diresmikan pada tanggal 8 Mei 2006, oleh BPH Sinode GPM, diwakili oleh SEKUM ( Pdt.V.Untalaiwan,M.Th, dan Pdt.C.A.Orno,S.Th ).

Tahun 2009 terjadi pergantian pendeta, antara Pdt.Fani Nikijuluw dengan Pdt.Nn.BALF TANASALE,S.Th

Tahun 2009 sampai sekarang Pdt.Ny.BALF.TANASALE/SAHUREKA,S.Th bertugas di jemaat Sabuai.

Dalam masa kepemimpinan Pdt.Ny.Balf Tanasale/S,S.Th telah dilakukan pemilihan Majelis Jemaat periode 2010 – 2015.

Majelis Jemaat yang terpilih dan dilantik pada tgl 2 Januari 2010 a.l:

1.Pnt.Yacob Ahwalam

2.Pnt.Alberth Nisdoam

3.Pnt.Semuel Nisdoam

4.Dkn.Sepnat Nisdoam

5.Dkn.Ny.Sarci Ahwalam

6.Dkn.Absalom Yamarua.

Tuagama a.l:

1.Julius Patotnem

2.Kaleb Yamarua

3.Lambert Ahwalam

4.Elias Patotnem

5.Melanton Patotnem

6.Fredi Lessa.

309 total views, 1 views today