Home / Jemaat Nayet

Jemaat Nayet

Number of View: 0

Sejarah Singkat Jemaat Nayet


 

Masyarakat Nayet sudah ada dan tinggal menetap di suatu tempat sekitar tahun tahun 700. Awalnya mereka membangun hidup bersama  di pegunungan yang dinamai Ulewe atau Nayet Baula.  Kehidupan mereka pada saat itu sangatlah rukun, damai dan tenang, dengan kekayaan alam yang melimpah.

Karena awalnya mereka berdomisili di daerah pegunungan, maka mata pencaharian mereka pada umumnya adalah “Bercocok tanam dan juga Berburu”. Pada saat itu mereka belum dipimpin oleh seorang kepala suku ataupun kepala desa, dan kepemimpinan dalam hidup bersama itu diatur pada tiap mata rumah/marga masing-masing. Di daerah tersebut mereka tinggal atau menetap berpuluh-puluh tahun lamanya. Namun selang waktu berlalu sebagian mereka mencoba mengaduh nasib di  daerah atau desa lainnya di bagian pesisir dan menetap di desa tersebut hingga sekarang dan mereka beralih agamanya ke agama Islam, desa tersebut yaitu “Desa Tonsai”. Walaupun mereka telah berpisah satu dengan yang lainya namun hubungan orang saudara tetap berjalan dengan baik, bahkan hubungan komunikasi itu tetap terjaga dengan eratnya. Sistim barter (tukar menukar barang dengan makanan dalam hal ini Garam, Sabun dll ditukar dengan pisang dll sebagainya) sering mereka lakukan demi kelangsungan hidup mereka.

Siklus kehidupan masyarakat Nayet lebih banyak brgantung dengan alam, dan  seiring perkembangan juga tuntutan kebutuhan, kemudian membuat mereka sebagian ada yang keluar untuk mencari penghasilan di tempat lain. masyarakat Tunsai(yang beragama Islam), mengajak saudara-saudaranya yang masih ada di pegunungan untuk tinggal bersama dengan mereka di desa tersebut dan akan membuat suatu perkampungan untuk mereka menetap. Ketika mereka berunding / berbicara secara mufakat akhirnya mereka mendapat suatu kesepakatan untuk meninggalkan desa mereka (desa Ulwele) dan bergabung dengan  saudara-saudara mereka di pesisir. Pada tahun 900, mereka meninggalkan desa Ulewe dan menetap di perkampungan baru mereka yang dinamanan “Basawela” artinya Berkumpul kembali.  hidup mereka tidak jauh berbeda dengan kehidupan mereka waktu di Ulwele, yaitu saling menghargai satu dengan yang lainnya.

Jumlah penduduk pada saat mereka menetap di Basawela yaitu sekitar 1000 jiwa. Kehidupan mengasihi, menyayangi dan hubungan kekeluargaan bersama saudara – saudara muslim selalu terjaga. Namun nasib berkata lain, pada tahun 1000-an datanglah Musibah yang melanda kampong tersebut yang dinamai “Cuci Alam” sehingga menelan korban jiwa yang tak terhitung banyaknya, bagaikan pasir yang berceceran di pantai. Dan sebagian dari mereka meninggalkan tempat itu (Basawella) dan mencari tempat yang aman. Ada dari mereka yang menetap di Elnusa dan tempat – tempat lainnya. Kemudian semua mereka yang tersisa berunding untuk kembali lagi mencari tempat yang aman untuk membuat perkampungan bagi mereka yang sekarang di “Desa Nayet”. Jumlah jiwa tidak sama banyaknya ketika mereka masih di Basawella akibat musibah yang terjadi.

Pada saat Nayet menjadi suatu perkampungan, Nayet belum menjadi desa Defenitif, namun roda pemerintahaan tetap berjalan dengan baik, dan pada saat itu masih dipimpin oleh seorang kepala kampung. Namun lewat UU No 2 Tahun 1975, Nayet dijadikan Desa Defenetif. Pada tahun 2000 terjadi tragedi kemanusiaan yang menimpa umat Tuhan di telutih termasuk didalamnya jemaat GPM Nayet pada tanggal 2 Januari. Penyerangan dilakukan oleh perusuh kepada warga Nayet, sehingga mereka semua keluar mengungsi di hutan-hutan Nayet, kemudian melakukan perjalanan ke Seram Utara. Perjalanan ke sana selama 2 hari, dengan menyinggahi beberapa kampum di Seram Utara seperti Fatkalaman (tanggal 13 Januari 2000), ke Kobisonta//Pesantren tinggal selama 6 hari, dan dievakuasi lagi ke Kobi Sadar. Pada tanggal 20 Januari 2000, masyarakat Nayet kembali dievakuasi ke Makariki-Masohi, dan menetap di beberapa wilayah Waipia seperti Usliapan dan Jerili. Selama 7 tahun masyarakat nayet hidup sebagai pengungsi di tanah orang, sampai akhirnya atas kerjasama berbagai komponen dari basudara Muslim di Atiahu, Raja Atiahu, LSM Mersi KORPS bersama dengan pemerintah Kabupaten Seram Timur, dan ditanggung oleh pemerintah Bupati Abdulah Vannath, jemaat Nayet kembali dipulangkan ke negeri kelahirannya. Setibanya di pemukiman, tempat tinggal mereka yang semula itu sudah menjadi hutan belantara, namun atas kerjasama dan dukungan semua warga maka secara bergotong royong jemaat mulai membersihkan pemukiman mereka, membangun kembali perumahan, sampai kepada usaha membangun kembali Gereja yang pada tanggal 19 November 2008 diresmikan oleh Ketua Sinode GPM Pdt.J.R.Ruhulesin.Msi, dan ditempatkan pula Pdt.D.Untarola sebagai pendeta jemaat Nayet. Berikut disampaikan nama Pendeta/Penginjil yang melayani di Jemaat GPM Nayet:

  • Pdt Nicolas Walakula (1945-1950)
  • Salmon Masauna (1950-1953)
  • Pdt frans (1953-1955)
  • Dominggus Serumena (1955-1958)
  • Yusuf tamala (1958-1961)
  • Simon Malihu (1961-1965)
  • Turalisi (1965-1966)
  • Pede Rehena (1966-1969)
  • Sapteno (1969-1973)
  • Latumahina (1973-1976)
  • Telehala (1976-1978)
  • Pohowaen (1978-1981)
  • hutuwensa (1981-1978)
  • Leo Minaely (1987-2000)
  • Pdt D Untarola (2008-2012)
  • A.Souhoka (2012-2013)
  • G.Wattilete (2014-sampai sekarang)

Adapun Silsilah / Keturunan Warga Nayet yang memimpin Desa tersebut antara lain:

  • Kefne Hatuputty Tahun 1917-1923
  • Mayora Kolauw Tahun 1923 – 1928
  • Lorens Kolauw Tahun 1928 – 1933
  • Simon Kolauw Tahun 1933 – 1938
  • Benjamin Kolauw Tahun 1938 – 1943
  • Romelos Hatuputty Tahun 1943 – 1974
  • Markus Wayel Tahun 1974 – 1993
  • Otniel Kapitan Tahun 1993 – Sekarang

229 total views, 1 views today