Home / Jemaat Lafa

Jemaat Lafa

Number of View: 0

Sejarah Jemaat Lafa

Sejarah masuknya injil di tanah Lousiasili, dimulai dengan terjadinya pembaptisan pertama pada tanggal 23 November 1898 oleh Tuan Pendeta Challing salah satu tenaga zending bangsa Belanda, kepada kesepuluh moyang di lokasi “Hulawano” mata air “Waehohola”. Sekarang tempat tersebut berlokasi di unit 1 Sektor Ihalasi  (Kel.Yakob Tehuayo). Kesepuluh moyang yang dibaptis terdiri dari 3 perempuan dan 7 laki-laki sebagaimana tertera pada tabel (01) dibawah ini.

Walaupun setelah pembaptisan, belum ada pelayanan yang kontinyu dari para tenaga zending, tetapi oleh peranan Roh Kudus kesepuluh moyang ini mempunyai pengaruh yang cukup kuat melalui cara hidup yang agak berbeda dari cara hidup kekafiran orang-orang basudara disekitar mereka.  Perilaku  dan gaya hidup itu  dipandang baik untuk diikuti, apalagi tidak ada larangan untuk mengkonsumsi daging babi atau daging anjing. Pada tahun-tahun berikutnya, oleh kedatangan Pdt.Marthen Souisa  dilakukan pembaptisan bagi warga negeri Lafa yang lain. Dengan demikian semakin bertambahlah jumlah jiwa yang percaya kepada Kristus dan memerlukan sentuhan pelayanan yang kontinyu.Oleh kesepakatan para pendeta berdasarkan jumlah jiwa kristen yang cukup banyak di negeri Lafa,  diputuskan bahwa Lafa menjadi Pusat kehadiran tenaga Pekabar Injil lainnya untuk selanjutnya melakukan kegiatan Misi Pekabaran Injil di tempat-tempat lain ( sekitar Tehoru dan Werinama). Penyebaran Injil yang dilakukan membuat bertumbuhnya jemaat-jemaat lain di Tehoru hingga Werinama yang saat ini berjumlah 20 Jemaat  GPM pada  wilayah pelayanan Klasis Telutih.   Berikut ini adalah nama-nama Penginjil dan atau Pendeta yang pernah bertugas di Jemaat Lafa.

Dari tabel (02) diatas tergambar bahwa  pada  periode pelayanan yang dilakukan mulai dari Tuan Pendeta Challing hingga Guru Jemaat Ubro, tidak diketahui secara pasti. Ini disebabkan tidak adanya catatan historis yang dimiliki oleh Jemaat sebab semuanya termusnahkan pada saat terjadinya tragedi kemanusiaan pada tahun 2000 lalu.

Sejarah perkembangan jemaat Lafa diwarnai oleh tiga peristiwa besar yang sangat mempengaruhi kondisi keberadaan dan perkembangan  jemaat.Tiga peristiwa besar tersebut adalah :

1. Peristiwa Perang Dunia II

Dampak perang dunia II terhadap negeri dan jemaat Lafa terjadi sekitar tahun 1943 sampai 1948.Warga jemaat Lafa menyikir ke hutan-hutan dekat perkampungan menghindari tekanan kekerasan dari Nipon (Tentara Jepang). Hal ini sangat mempengaruhi perkembangan pelayanan di jemaat sebab pelaksanaan kegiatan ibadah menjadi tersendat bahkan ada yang tidak jalan sama sekali.

2. Peristiwa RMS

Peristiwa RMS bagi Jemaat Lafa adalah suatu peristiwa yang takkan pernah terlupakan.  Jemaat mengalami keterpurukan baik secara iman maupun ekonomi. Sekitar tahun 1949 sampai 1951, masa dimana RMS mempersiapkan proklamasi kemerdekaan dan sesudah proklamasi,  sesungguhnya adalah rentang waktu yang sangat kritis bagi Jemaat Lafa.RMS  yang telah memproklamasikan keberadaannya pada 25 April 1950 berusaha mempertahankan status kemerdekaannya sebagai negara merdeka. Di lain pihak,  NKRI pun tetap ingin mengamankan kedaulatannya di bumi raja-raja ini. Kehadiran  APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia) menghadirkan dilema bagi masyarakat pulau Seram khususnya Jemaat Lafa. Sebab dalam situasi ini keberpihakan warga jemaat pada kubu siapapun tetap mengandung resiko. Beberapa anggota jemaat ditawan oleh RMS dan dibawa ke pedalaman Seram (perbatasan kawasan Seram Selatan dan Seram Utara).  Sebaliknya, di segi yang lain,  seluruh anggota jemaat dicurigai sebagai mata-mata RMS oleh pihak NKRI. Tentu saja hal ini meluluhlantakan ekonomi dan iman umat. Gedung gereja Bethel sempat dijadikan pos komando oleh APRIS. Dan tentu saja berdampak negatif bagi seluruh perkembangan pelayanan baik secara keumatan maupun kelembagaan.

3. Konflik Maluku tahun 1999

Kondisi Kota Ambon sebagai ibu kota Provinsi Maluku dan pusat pelayanan GPM yang dilanda isu dan tragedi kemanusiaan tahun 1999 sangat berdampak pada seluruh daerah pelayanan GPM termasuk Klasis Telutih Jemaat Lafa. Sekalipun suasana cukup mencekam sejak tahun 1999 tetapi  aktivitas pelayanan tetap berlangsung sampai 2 Januari 2000.Untuk mengantisipasi tidak terjadinya konflik di kecamatan Tehoru, khusus antar orang-orang basudara,dilakukan pertemuan-pertemuan lintas agama “Salam Sarani” yang diprakarsai oleh negeri Lafa. Pertemuan ini  bertujuan untuk memberikan pemahaman sekaligus sebagai  langkah-langkah antisipatif merebaknya isu Salam-Sarane- dan munculnya konflik sebagaimana yang terjadi di beberapa wilayah di Maluku, termasuk Ambon.   Dengan mengedapankan budaya WALIWA  tentang hubungan darah orang basudara yang telah ada sejak awal (zaman Alifuru) khususnya pada masyarakat negeri Tehua, Lafa, Wolu, Telutih Baru dan dusun Yamahena. Namun upaya ini tidak berhasil karena basudara muslim telah terprovokasi dengan isu sara  dan solidaritas agama yang sangat kuat mengakibatkan kondisi semakin memburuk. Kronologis pecahnya konflik kemanusiaan yang terjadi di Jemaat/negeri Lafa terdeskripsi sebagai berikut:

  • Tanggal 2 Januari 2000,sementara Ibadah Perjamuan Kudus awal Tahun dilaksanakan,isu peperangan mulai memanas.Tengah malam sekitar jam 23.00 WIT sebagian anggota jemaat perempuan dan anak-anak mulai menyingkir ke hutan.
  • Tanggal 3 Januari 2000,jam 03.00 WIT setelah pergumulan bersama,seluruh perempuan,anak,orang tua meninggalkan negeri dan jemaat menyusuri air Lafa menuju lokasi dusun masing-masing.
  • Tanggal 4 Januari 2000, terjadi penyerangan dan pembakaran yang dilakukan oleh perusuh melalui jemaat-jemaat pesisir bagian Timur Klasis Telutih.
  • Tanggal 5 Januari 2000, terjadi penyerangan oleh perusuh yang menggabungkan diri dengan masyarakat Tehua arah timur jemaat Lafa,dan para perusuh yang menggabungkan diri dengan masyarakat Wolu arah barat jemaat Lafa.Dalam penyerangan itu jemaat Lafa kehilangan 2 jiwa yaitu Bpk Yulius Tehuayo dan Ibu Cor Ilela.
  • Tanggal 7 Januari 2000, semua warga jemaat Lafa diinstruksikan berkumpul di lokasi Ihalasi oleh hamba Tuhan Pdt.Z.Masihin.
  • Tanggal 15 Januari 2000, dengan menumpangi kapal Elyana dan  di kawal oleh aparat TNI yang dikomandoi  oleh Kapten Wairata, sekitar 90 % warga jemaat Lafa diangkut menuju tempat pengungsian (Amahai,Masohi,Makariki,Waipia dan sekitarnya), dan 10 % warga jemaat mengambil keputusan untuk kembali ke tanah asal Maraina.

Akibat peristiwa ini, terjadi keterpurukan di berbagai bidang kehidupan bermasyarakat dan berjemaat. Anggota jemaat kehilangan lapangan pekerjaan. Banyak anak mengalami putus sekolah,sementara aset negeri dan aset jemaat ikut hilang dan hancur  dalam tragedi kemanusiaan itu. Walaupun dalam kondisi sulit tetapi kuasa dan kasih Tuhan Yesus tetap menguatkan umat di tengah tantangan zaman. Di tempat pengungsian itu, warga jemaat mulai melakukan pendekatan dengan penduduk   setempat untuk meminta lahan yang akan dijadikan kebun sayur dan umbi-umbian.

Patut diakui bahwa Perjanjian Malino II  12 Februari 2002, merupakan titik balik dari konflik berkepanjangan menuju perdamaian sejati. Berbagai upaya perdamaian dan pemulangan terus digagas dan dibangun  oleh pemerintah bagi setiap pengungsi yang berada di daerah-daerah pengungsian. Hal yang sama pun dialami oleh Jemaat Lafa di tempat pengungsian  (Amahai,Masohi,Makariki,Waipia dan sekitarnya). Isu pemulangan mulai merebak di kalangan masyarakat dan jemaat sejak tahun 2003. Tentu saja  menimbulkan harapan dan semangat untuk kembali pulang  membangun tanah sendiri. Pada tanggal 29 Agustus 2005 oleh kesepakatan negeri dan jemaat satu tim diutus untuk pembersihan lokasi negeri. Kemudian tahap demi tahap anggota jemaat mulai dipulangkan, akhirnya seluruh warga jemaat bisa tiba di lokasi Jemaat Lafa pertengahan tahun 2006. Walaupun demikian sekitar 10 % warga Jemaat Lafa berkeputusan untuk menetap di tempat dimana mereka mengungsi.

Pada tahun 2008 dalam Persidangan ke-21 Jemaat GPM Lafa diputuskan pergantian nama-nama sektor dari nama-nama dalam Alkitab menjadi nama-nama tempat dimana umat mengungsi saat konflik.

  • Sektor Syalom menjadi Sektor Waeloanan (Air Kecil)
  • Sektor Elim menjadi Sektor Ihalasi (Kenari Berdarah)
  • Sektor Pniel menjadi Sektor Lusia ( Burung Raksasa,Goheba)
  • Sektor Imanuel menjadi Sektor Amanoanan (Kampung Kecil)
  • Sektor Ebenhaizer menjadi Sektor Selito (Pisau)

Pergantian ini menjadi suatu upaya teologi Jemaat untuk mengingat kasih dan kemurahan Tuhan yang menyertai dan menuntun umat-Nya di Lafa. Semenjak bermigrasi di tempat pengungsian, hingga kembali ke negeri Lousiasily

Perlu dijelaskan pula,  bahwa sejak tahun 1930  sampai periode pelayanan jemaat berbasis Renstra 2016 – 2020 Jemaat GPM Lafa telah membangun tiga buah gedung gereja. Gedung Gereja I diresmikan tanggal 17 November 1933. Gedung Gereja II peletakan batu pertama pada tahun 1985 pada masa tugas  Pdt.J.Haumasse,Sm.PAK dan diresmikan pada tanggal 14 Februari 1993 oleh Ketua Sinode GPM Pdt.A.J.Soplantila,S.Th dalam masa tugas Pdt.Nn.Mayolana Laturiuw,S.Th. Pembangunan Gedung Gereja III, peletakan batu pertamanya oleh Wakil Ketua Sinode GPM : Pdt.Ade.Manuhutu,S.Th , pada masa tugas Ketua Majelis Jemaat Pdt.A.Lohy-Parera,S.Th dan Ketua Klasis Telutih Pdt.Nn.Sara.Latuny,S.Si. Setelah dibangun dan dikerjakan selama 9  tahun 11 bulan 18 hari, akhirnya pada tanggal 20 Desember 2015 dithabiskan penggunaannya oleh Wakil Ketua Sinode GPM : Pdt.Dr.Ny.E.Marantika-Mailoa, dalam masa tugas Ketua Majelis Jemaat Pdt.Jerry Takdare,S.Th dan Ketua Klasis Telutih: Pdt.G.M.Likumahwa,S.Sos. Dengan demikian, peran profetis dan panggilan keumatan sebagai imamat am yang rajani akan terus digelorakan dan dikobarkan untuk terus menjadi jemaat yang misioner.

371 total views, 1 views today