Home / Jemaat Yamalatu

Jemaat Yamalatu

Number of View: 0

Sejarah Jemaat GPM Yamalatu

Pada abad ke 17 moyang atau datuk-datuk sudah melakukan perjalanan menuju Seram Selatan dan mereka belum memiliki agama. Moyang pertama yang turun adalah Aimahu –moyang Kohunussa. Menurut tuturan kisah orang tua, bahwa terbentuknya Negeri/ Kampung Yamalatu dimulai dari turunnya moyang Pisio dan moyang Salakatota. Singkat cerita, terjadi peristiwa penembakan adik Pisio yang bernama Maniari  yang dilakukan oleh tentara belanda (Sersan wesi) yang melakukan patroli di Seram Utara. Moyang Pisio melakukan perjalananan dari Seram Utara menuju Seram Selatan melalui jalan Waipulu –Ulahahan – Lahakabah – Unupu dan selanjutnya menetap bersama orang Laha di Unupu (Negeri lama Laha) untuk mencari tahu keberadaan Moyang Pisio. Kemudian moyang Sokate turun dari maneo gunung mencari Moyang  Pisio. Moyang Sokate turun ke pantai selatan melalui jalan Wakolu dan kemudian tinggal di Hatulayalo.

Hatulayalo merupakan dusun sagu milik masyarakat Laha, dimana saat itu orang tua dari laha yang bernama Yonatan Hatulely pergi ke Apue Hatulayalo dan bertemu dengan moyang Sokate. Dari Yonatan Hatulely inilah, Sokate mendapat kabar bahwa saudaranya Pisio masih hidup dan berada di Unupu. Kemudian Yonatan kembali ke Laha dan menyampaikan hal ini kepada pati Laha yang bernama Wempi Hatulely. Pati Laha menyuruh Yonatan untuk membawa Sokate ke negeri Laha (Unupu).

Maka Sokate bertemu dengan Pisio yang saat itu tinggal di Unupu selama beberapa waktu lamanya. Kemudian Sokate kembali ke Maneo gunung untuk memberitahukan keluarga tentang keberadaan Pisio dan setelah itu, Sokate membawa istri dan anak-anak kembali ke Seram Selatan (Unupu) dan tinggal bersama orang Laha di Unupu. Yonatan Hatulely menyerahkan tanah dari Hatulayalo sampai Siamusu kepada Pisio dan Sokate. Kemudian tanah yang berada di lokasi gereja dan pastori diserahkan oleh keluarga-keluarga di Laha kepada marga Salakatota, Halamury, Kohunussa, Tamala, Boiratan dan Ipapoto untuk membangun rumah sehingga orang-orang Maneo mendirikan kampung sendiri pada tanah ini.

Setelah ia tinggal bersama keluarga di maneo pantai  maka diikuti pula oleh Moyang Halamury Kecil = Moyang Sanai Dan Moyang Halamury = Moresi. Mereka tinggal bersama-sama Sokate di Maneo Pantai. Kemudian diikuti pula oleh marga Tamala Besar (Moyang Sainaka) dan Tamala Kecil (Moyang Ronia) dan mereka menetap di daerah Kokihahan. Kemudian diikuti pula oleh Moyang Kohunussa dan tinggal di Unupu. Kemudian karena masalah pemerintahan antara Laha dan Laimu maka Pati Laha meminta moyang Tamala Kecil dan Tamala besar untuk turun tinggal di Maneo Pantai. Tetapi karena lahan untuk berkebun terlalu kecil maka marga Tamala besar yang dipimpin oleh Gustaf Tamala pindah ke Maneoratu. Dan sebagian marga Tamala tinggal di Maneo pantai karena memiliki hubungan kekeluargaan. Kemudian diikuti oleh marga Ipapoto, Boiratan karena perkawinan/hubungan kekeluargaan.

Sejarah masuknya injil di Jemaat GPM Yamalatu dimulai dari tanah Maneo yang berada di gunung Levita, karena keluarga-keluarga yang turun dari gunung (Maneo) ke pantai seram selatan mereka telah dibaptis dan menjadi kristen. Sejarah jemaat Yamalatu sebagai berikut : Pada tahun 1889 injil masuk di tanah Maneo yang diberitakan oleh Pendeta Kesaulia. Masyarakat Maneo pada waktu itu terbagi dalam dua bagian yakni, Maneo tinggi dengan jumlah 25 kepala keluarga dan Maneo Rendah dengan jumlah 37 kepala keluarga. Pada masa ini injil harus berhadapan dengan alam seram yang sangat menantang dan adat istiadat yang masih kental terutama agama suku zou-zou yang dianut oleh masyarakat Maneo. Meskipun demikian akhirnya injil pun diterima oleh Raja Maneo sendiri, yakni Raja Kisahi Tamala.

Pada tahun 1912 ada 15 kepala keluarga dari Maneo datang ke Laha yang pada waktu itu sudah mengenal injil dalam rangka berburu namun pada tahun ini juga mereka memilih untuk menetap di negeri yang baru. 15 kepala keluarga itu terdiri dari marga Salakatota, Kohunussa, Tamala, halamury, Siseka.

Tahun 1912 – 1924 dibuat sebuah ranting (Pos pelayanan) berdasarkan permintaan orang-orang Maneo yang ada pada masa itu dan pos pelayanan dinamakan Ranting Maneo Pantai. Nama Maneo pantai juga adalah nama negeri yang pertama. Nama negeri yang pertama yaitu maneo pantai artinya orang maneo dari gunung turun tinggal di pantai selatan. Pada masa ini jemaat mengalami tantangan dan kesulitan yaitu masalah perekonomian yang tidak stabil dan kepemilikan hak tanah yang tidak jelas. Pada tahun 1912-1924 jemaat dilayani oleh Pendeta Pesuarissa yang pada waktu itu melayani pula di Jemaat Laha Serani.

Pada tahun 1924 – 1935 orang-orang Maneo sudah memiliki tempat tinggal dan beberapa bidang tanah yang diserahkan oleh Pemerintah Negeri Laha Serani yang dipimpin oleh Raja Wempi Hatulely dan juga dibangun sebuah Balai Kerohanian darurat (berlokasi diantara rumah Ibu Evi Letsoin dan Bpk Abe Halamury). BK dibangun pada tahun 1924. Pendeta yang melayani jemaat yaitu pendeta Soumokil. Pada masa ini ekonomi jemaat sudah mulai membaik. Jumlah jiwa pada waktu ini, 125 jiwa dengan 20 Kepala Keluarga. Jemaat masih belum mandiri pada masa ini karena jemaat dan Masyarakat Maneo Pantai masih berada dalam pemerintahan Negeri Laha Serani.

Pada tanggal 31 Oktober 1928 tepatnya ranting Maneo Pantai  dimekarkan menjadi satu jemaat definitif. Ini terjadi bersamaan dengan ibadah Martin Luther (Ibadah PI) 31 oktober 1928 yang berlangsung di Maneo Pantai dimana Jemaat Lahaserani juga hadir dalam ibadah tersebut di Maneo Pantai. Pelayanan kepada umat dilakukan oleh Penatua Yakob Halamury, Penatua Ridolof Halamury dan tuagama Anton Halamury.

Pada tahun 1935-1942 jemaat Maneo Pantai dilayani oleh Pendeta Laturiuw sebagai pendeta jemaat yang pertama dan dibantu oleh majelis jemaat periode 1935-1940 yaitu 2 penatua (Kristopol Kohunussa dan Romelus Tamala) dan 2 diaken (Gondrat Tamala dan Peres Kohunussa). Jumlah jiwa pada masa ini, 175 jiwa dengan 30 KK. Jemaat semakin bertambah karena ada masyarakat Maneo tinggi dan Maneo rendah yang datang ke Maneo pantai dan menetap bersama masyarakat Maneo Pantai. Perlu diketahui bahwa sejak tahun pertama kali datang ke Laha hingga tahun 1942, Jemaat Maneo Pantai belum bertani cengkih dan mata pencaharian utama adalah mencari damar (getah damar) yang kemudian diubah menjadi batu yang bisa dibakar menjadi pelita/lampu penerangan dan ada juga dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pada tahun 1942-1945 Pendeta David Walalohun melayani di jemaat ini juga harus menghadapi kenyataan dan keadaan yang mencekam akibat pecahnya perang dunia ke-2 dan perang kemerdekaan Indonesia. Majelis jemaat periode 1940 – 1945 yaitu Penatua (Wempi Kohunussa, Ferdinad Halamury) dan diaken (Yance Tamala dan Korneles Salakatota)

Tahun 1945-1952 Jemaat Maneo Pantai dilayani oleh Pendeta Kainama yang melayani di jemaat Laha, karena jemaat Maneo Pantai mengalami kekosongan tenaga pendeta pada masa ini. Dan Majelis jemaat periode 1945 – 1950 yaitu Penatua (Ferdinand Halamury, Alfred Halamury) dan diaken (Samuel Amanokuan dan Yunus Salakatota). Jumlah jemaat berkisar 225 jiwa. Pada masa ini jemaat dan masyarakat Maneo pantai mengalami beberapa perubahan yakni, pada tahun 1950 dibangun sebuah Sekolah Rakyat (SR) dengan jumlah siswa 80 orang (siswa dari Maneo pantai, Laha dan Hunisi) dengan tenaga guru sebanyak 5 orang (Pdt Kainama-Laha, Bpk Sasauw, Bpk Mairuhu, Bpk Kotarumalos dan Pdt Kailuhu- Hunisi). Pada tahun 1952 masyarakat maneo Pantai memiliki Raja yang pertama yaitu Raja Ridolof Halamury.

Tahun 1952-1958 jemaat kembali mendapatkan tenaga pendeta yaitu Pendeta. D. Serumena. Dan Majelis jemaat periode 1950 – 1955 yaitu Penatua (Korneles Salakatota, Ferdinad Halamury) dan diaken (Ny. Engelina Tamala dan Yunus Salakatota). Periode ini angka kematian lebih tinggi dari angka kelahiran. Ini disebabkan karena serangan wabah penyakit malaria, disentri dan lain-lain. Perlu diketahui pada tahun 1957 jemaat dan masyarakat Maneo Pantai mulai bertani cengkih untuk pertama kalinya. Penyerahan tanah dari pemerintah Negeri dan tua-tua adat negeri Lahaserani kepada masyarakat Maneo Pantai pada masa pemerintahan Raja Ridolof Halamury. Penyerahan tanah berdasarkan Sumpah Salipasalo.

Tahun 1958-1963 Pendeta Dominggus Serumena menjadi pendeta jemaat dan pada periode ini muncullah gagasan dan rencana untuk membangun sebuah tempat ibadah (gedung gereja). Dan Majelis jemaat periode 1955 – 1960 yaitu Penatua (Melkianus Kohunussa, Obed Sumianat) dan diaken (Yohanes Walalohun dan Oktovianus Salakatota). Pada masa ini jemaat mengalami trauma dan menjadi korban didalam hutan rimba akibat dari pemberontakan RMS.

Tahun 1963-1965 Jemaat Maneo Pantai dilayani oleh Pendeta Kotadini dan tepatnya tahun 1965 dilakukan peletakkan batu pertama pembangunan gedung gereja. Dan Majelis jemaat periode 1960 – 1965 yaitu Penatua (Melkianus Kohunussa, Yohanes Walalohun) dan diaken (Samuel Amanokuan dan Ambrosius Kohunussa). Periode ini jumlah jemaat 321 jiwa dengan 47 kepala keluarga. Jemaat pada masa ini harus bekerja keras untuk membangun gedung gereja yang baru. Akibat pemberontakan RMS maka jemaat lebih memilih tinggal di Maneo Gunung sehingga sedikit anggota jemaat yang kembali ke Maneo Pantai. Ini turut mempengaruhi jumlah jiwa jemaat yang berkurang.

Pada masa pemerintahan raja Ridolof Halamury ini terjadi perubahan nama negeri maneo Pantai menjadi Seilapi berdasarkan usulan dari masyarakat Laha dan Hunisi. Perubahan nama pertama ini disebabkan karena nama negeri Maneo pantai ini panas sehingga terjadi pertikaian dan pembunuhan antar marga dan puncaknya pembunuhan antara Simson Kohunussa (mati/korban) dengan Paulus Walalohun (pelaku). Nama negeri yang ke-2 yaitu Seilapi (bahasa laha : seilapie) artinya siapa yang datang, nama ini juga menimbulkan wabah penyakit Muntaber dan sarampa/kurai sehingga banyak kematian didalam masyarakat. Pemerintahan Raja Ridolof Halamury berlangsung bersamaan Pada masa pemerintahan camat Dominggus Taihutu.

Tahun 1972 Raja Ridolof Halamury wafat dan digantikan oleh Petrus Walalohun sebagai pejabat sementara Kepala Pemerintah Negeri Maneo Pantai. Masa pemerintahannya sejak tahun 1972-1974. Dan pada tahun 1974 diganti oleh Bpk Yefta Halamury sebagai pejabat sementara (Care taker). Periode ini juga situasi jemaat mencekam karena peristiwa G.30.S PKI yang dialami oleh seluruh penjuru nusantara.

Pada tahun 1965-1974 Pendeta Latumahina melayani jemaat Maneo Pantai namun pada periode ini jemaat mengalami kevakuman pelayanan karena permasalahan internal jemaat itu sendiri. Retaknya Hubungan antara pendeta dan raja negeri (Yefta Halamury). Dan Majelis jemaat periode 1965 – 1970 yaitu Penatua (Zedek Titosy, Yusuf Halamury) dan diaken (Benoni Halamury dan Yordan Lourens).

Maka terjadi lagi perubahan Nama negeri yang ke-3 yaitu yamalatu artinya kampung raja. Nama Yamalatu merupakan hasil mufakat bersama para tua adat, maka nama Seilapi diganti dengan nama Yamalatu yang artinya Kampung Raja, dengan demikian maka nama Jemaat Maneo Pantai diganti menjadi Jemaat Yamalatu hingga sekarang ini. Nama Yamalatu diusulkan oleh saniri negeri (Meki Tamala), pada masa pemerintahan raja Yefta Halamury (1974 – 2008). Pejabat Ronald Tamala (2008- 10 Mei 2010), Raja Jakob Halamury (10 Mei 2010 sampai sekarang).

Tahun 1972-1977 Jemaat Yamalatu dilayani oleh pendeta Lukas Nasrany dan Majelis jemaat periode 1975 – 1980 yaitu Penatua (Yusuf Halamury, Yunus Taluku) dan diaken (Nikanor Halamury dan Ny. Rahel Yalmaf). Pada tahun 1975 gedung gereja yang diberi nama Bethel dengan ukuran 14m x 12m diresmikan dan jemaat dapat beribadah didalam gedung gereja yang baru tersebut.

Tahun 1985-1998 dilayani oleh Pendeta. S. Riri. Periode ini jumlah jemaat sebanyak 427 jiwa dengan 60 KK. Pada Tahun 1983-1985 jemaat dilayani oleh Pendeta. F. Rehena dan Tahun 1985-1998 dilayani oleh Pendeta Barnabas Kadmaer. Dalam dua periode terdapat grafik angka kelahiran yang tinggi yakni jumlah jemaat mencapai 567 jiwa dengan 105 KK. Dibantu oleh Majelis Jemaat 2 penatua dan 2 diaken (Panus Halamury dan Sefanya mosse- Ridolof Halamury).

Tahun 1998-2000 Pendeta Yordan Akerina melayani di Jemaat Yamalatu dengan Majelis jemaat periode 1995 – 2000 yaitu Penatua (Melchior Tamala, Marten Boiratan) dan diaken (Theopilus Kohunussa, Panus Halamury). Pada tanggal 7 januari 2000 jemaat harus melarikan diri ke Maneo gunung karena tragedi kemanusiaan (konflik SARA) yang melanda bumi Maluku. Jemaat melalui jalan Musele inai dan wakolu menuju Maneo tinggi dan Maneo rendah. Dalam perjalanan keluar dari jemaat selain barang berupa pakaian dan makanan yang dibawa tak pernah dilupakan adalah nani sagu dan parang dibawa serta dalam perjalanan. Ketika kehabisan makanan umat mengunakan parang dan nani untuk mengolah sagu demi makanan mereka di hutan belantara. Mereka menetap selama dua tahun di Maneo gunung dan pada tahun 2002-2003 jemaat diungsikan ke Waipia-TNS dan Wahai bergabung dengan Jemaat Isu, Wotai dan Jemaat Wahai. Pdt Akerina meninggalkan jemaat pulang ke kampungnya Rumahkay namun meninggal dunia disana sehingga jemaat mengalami kekosongan pendeta. Sehingga pelayanan dilakukan oleh Majelis Jemaat. padaTahun 2004-2005 Jemaat Yamalatu mendapat vikaris yaitu Petrus Liklikwatil selama 1 tahun dan Majelis jemaat periode 2000 – 2005 yaitu Penatua (Albert Halamury, Theopilus Kohunussa, Ronald Tamala) dan diaken (Absalom Tamala, Yosias Salakatota, Ny. Naomi Mailoya, Yonadap Hatulely) sehingga pelayanan jemaat dapat berjalan baik sekalipun jemaat tinggal terpisah dengan jarak yang cukup jauh. Wadah yang mengumpulkan jemaat adalah Gedung Balai Kerohanian di Wotai yang dibangun disamping barak pengungsi jemaat sehingga semua jemaat dapat terlayani dan terhimpun dengan baik.

Pada tahun 2002-2005 jemaat mengalami banyak kesulitan baik dibidang perekonomian dan pendidikan. Selain bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup sesehari di lahan milik jemaat isu dan wotai dan banyak anak-anak yang putus sekolah serta tingkat pengangguran semakin tinggi.

Pada tanggal 31 Agustus 2004 anggota jemaat berjumlah 30 tenaga laki-laki kembali ke Jemaat Yamalatu untuk membersihkan kampung. Mereka  kembali bersama jemaat Laha, Hunisi, Ulahahan, Maneoratu. Dan Tahun 2006 satu per satu KK jemaat Yamalatu kembali ke negeri asal dan jemaat mengalami kekosongan tenaga pendeta atau vikaris. Jemaat dipimpin dan dilayani oleh Majelis Jemaat periode 2005-2010 yang memiliki peran penting untuk membangun Balai Kerohanian Darurat karena gedung gereja sudah terbakar. Melalui dana bantuan pemerintah yaitu dana Inpres no.6 maka peletakan batu pertama gereja Bethel dilakukan pada tanggal 04 Februari 2007 oleh Pdt.P.Liklikwatil.

Tepatnya tanggal 5 Desember 2007 Pendeta perempuan pertama yang datang ke Jemaat Yamalatu dengan menggunakan KM.Rasuna singgah di pantai Yamalatu dan tanggal 9 Desember 2007 dilaksanakan serah terima jabatan ketua Majelis jemaat dengan wakil ketua majelis jemaat (Pnt.Th.Kohunussa). sejak 9 Desember 2007 Pdt.Ny. M.M. Picarima/Siwabessy melayani Jemaat Yamalatu, dengan Majelis jemaat periode 2005 – 2010 yaitu Penatua (Alberth Halamury, Theopilus Kohunussa, Ronald Tamala, Ny. Naomi Mailoya, Yosias Salakatota dan Yonadap Hatulely) dan diaken (Yohanes Halamury, Nikolaus Kohunussa, Monce Tamala,  dan Absalom Tamala).

Selanjutnya tepat tanggal 05 Desember 2010 diresmikan gedung gereja Bethel oleh wakil Ketua Sinode GPM (Pdt.Ny.M. Mailoa/Marantika) dengan ukuran 23m x 11m. Dengan diresmikan gedung gereja, memberi semangat bagi jemaat,  sehingga seluruh pelayanan dan pembinaan jemaat dapat berjalan baik. Sejak tanggal 1 Februari 2010 ditahbiskan Majelis jemaat periode 2010 – 2015 yaitu Penatua (Yohanes Halamury, Yosias Salakatota, Nikolaus Kohunussa dan Zet Halamury)  dan diaken (Orias Kohunussa, Jemis Salakatota, Yosep Tamala, Edison Boiratan dan Gotlif Ipapoto).

Pendeta/Penginjil yang melayani di jemaat GPM Yamalatu yaitu

  1. Laturiuw (1935-1942)
  2. David Walalohun (1942-1945)
  3. Kainama (1945-1952)
  4. D. Sermena (1952-1958)
  5. F. Rehena (1958-1963)
  6. Kotadini (1963-1965)
  7. Latumahina (1965-1974)
  8. Lukas Nasrani (1974-1977)
  9. Pdt Semuel Riri, Sm.Th (1977-1983)
  10. D. Serumena (1983-1985)
  11. Pdt Pattinasarany
  12. F. Rehena
  13. Pdt Barnabas Kadmaer, Sm. Th (1985-1998)
  14. Pdt Yance Akerina (1998-2000)
  15. Ny.M.M.Picarima/Siwabessy, S.Si (2007-2013)
  16. Nn. E. Pesiwarissa, S.Si (2013-2015)
  17. Ny. M. H. E. Pattiasina, M.Si (2015 –sampai sekarang)

Vikaris yang pernah bertugas di Yamalatu :

  1. Nikolas Dahaklory
  2. Petrus Liklikwatil, Sm. Th
  3. Lidya Sahureka, S.Si

Tuagama yang bertugas di Jemaat GPM Yamalatu yaitu

  1. Tuagama Anton Halamury
  2. Tuagama Lukas Halamury
  3. Tuagama Yesaya Kohunussa
  4. Tuagama Oktovianus Tamala
  5. Tuagama Zefnat Salakatota
  6. Tuagama Hermanus Ipapoto
  7. Tuagama Yoseph Mailoya
  8. Tuagama Gustaf Walalohun
  9. Tuagama Markus Tumio
  10. Tuagama Yance Tamala
  11. Tuagama Yulius Kohonussa

Raja dan pejabat negeri yang pernah memerintah negeri yamalatu yaitu

  1. Raja Ridolof Halamury (1957-1970)
  2. Pejabat Petrus Walalohun (1970-1973)
  3. Raja Yefta Halamury (1974-2009)
  4. Pejabat Ronald Tamala (2009-2010)
  5. Raja Jakob Halamury ( 2010 sampai sekarang)

255 total views, 1 views today