Home / Jemaat Salamahu

Jemaat Salamahu

Number of View: 0

SEJARAH JEMAAT

 

Jemaat GPM Salamahu adalah salah satu jemaat yang merupakan pintu masuk ke wilayah pelayanan klasis GPM Telutih. Secara pemerintahan jemaat GPM salamahu  berada di wilayah pemerintahan Kabupaten Maluku Tenggah, kecamatan Tehoru. Di sadarai bahwa bukanlah hal yang mudah untuk menggali sejarah jemaat GPM Salamahu karena tidak terdapat rekaman atau dokumen-dokumen tentang cikal bakal munculnya Jemaat GPM Salamahu. Namun Latar belakang terbentuknya jemaat GPM Salamahu tidak terlepas dari sejarah berdirinya negeri Salamahu.

  1. Sejarah Singkat Negeri Salamahu

Menurut tuturan orang tua-tua yang di wawancarai, terbentuknya negeri Salamahu berawal dari turunya orang-orang dari gunung atau negeri Maraina Manusela dan sekitarnya untuk membantu negeri Haya dan Tamilouw dalam peperangan yang di namakan perang “lima” [1] di “salaiku”[2]. Setelah berhasil mengalahkan serta mengusir orang-orang lima di salaiku mereka kembali lagi ke gunung. Kemudian setelah beberapa lama orang tua-tua dari gunung dari soa/marga Ilelapotoa  bernama Apalita dan kedua anaknya Lakem dan Solai turun ke pesisir pantai untuk berjaga-jaga dan memastikan bahwa tidak ada lagi orang lima yang mendiami atau kembali lagi ke wilayah Salaiku. Setelah tiba di pesisir orang tua-tua ini hidup secara nomaden atau berpindah-pindah. Awalnya mereka tiggal di Negeri Lafa kemudian berpindah lagi ke Waisou[3] Kemudian menyusul lagi orangtua-tua dari soa/marga Lilihata, Ilela, Masauna dan Rehena mereka tinggal berpencar di sekitar petuhanan negeri Haya.

Oleh  orang-orang tua-tua negeri Haya mereka di tugaskan untuk menjaga dan menanam kelapa-kelapa di areal atau dusun-dusun sekitar negeri Haya. Pada zaman pemerintahan Belanda, raja Negeri Haya meminta belanda untuk mengumpulkan dan mengembalikan mereka ke tempat asal mereka. Namun orang tua-tua dari gunung meminta ganti nyawa atas tanaman-tanaman yang telah mereka tanam. Untuk menghindari terjadinya pertumpahan darah pemerintah Belanda memerintahkan raja dan orang tua-tua negeri Haya agar segera memberikan tempat atau pemukiman untuk mereka tinggal. Dari hasil mawe-mawe yang di lakukan oleh raja dan orang tua-tua Negeri Haya maka di tunjuklah suatu tempat yang bernama Salamahu untuk mereka tinggal. Nama Salamahu di ambil dari nama tanjung yang berada tepat di sebelah timur Negeri Salamahu sekarang. Berdekatan dengan Salaiku yang adalah tempat dimana pernah terjadi perang lima. Menurut penuturan bapak Tidoresy Ilelapotoa[4] alasan orang Haya menempatkan orang tua-tua dari gunung di tempat yang bernama Salamahu agar mereka sekaligus menjaga wilayah Salaiku dari kemungkinan kembalinya orang Lima yang pernah bermukim di Salaiku. Selain itu Nama salamahu menurut penuturan beberapa orang tua-tua negeri salamahu berarti sesuatu yang bersalahan dengan kemauan orang tua-tua yang datang dari gunung namun ada juga yang berpendapat bahwa salamahu artinya “kalau orang Haya biking sala atau tidak sesuai dengan kemauan mereka pada saat itu maka mereka akan meminta ganti nyawa terhadap apa yang sudah mereka lakukan dan kembali ke gunung.  

Setelah mendapat tempat pemukiman yang di dasari dengan surat penyerahan hak tanah pada tanggal 5 juni 1954 yang di tanda tangani oleh 22 mata rumah atau saniri negeri Haya dan di saksikan oleh bapak ketua latupati seram selatan (raja Waraka : Bpk Lailosa) dan bapak Welem Maoke yang bertidak sebagai juru bicara. Daerah itu kemudian secara resmi menjadi milik orang tua-tua salamahu. dan oleh  Kontroler Belanda Winkel memerintahkan orang tua-tua untuk mencari dan menentukan seseorang untuk di jadikan pemimpin bagi mereka dan pada tanggal 13 Juni diangkatnya Umeputi Ilelapotoa[5] di anggkat sebagai pemimpin mereka yang pada saat itu di sebut sebagai kepala soa. Kemudian pada saat terjadi pergolakan RMS di bumi Maluku kepala soa Umeputi sedang berada atau tinggal di hutan maka pemerintah atau tentara TNI memerintahkan orang salamahu untuk menunjuk seorang pemimpin yang baru, maka ditunjuklah Zefanya Rehena sebagai pemimpin atau kepala soa yang baru. Zefannya Rehena bertugas sebagai kepala soa. kemudian di gantikan dengan Piter Ilelapotoa dengan gelar sebagai Orang kaya. bertepatan dengan itu negeri Salamahu di resmikan sebagai desa yang definitif berdasarkan Undang-Undang No 2 Tahun 1979 maka Gelar Orang kaya di ganti menjadi Kepala Desa. Kemudian raja Pieter Ilelapotoa di gantikan oleh Frans Lilihata selanjutnya Raja Yonathan Ilela adalah raja yang masih memerintah sampai sekarang.

  1. Sejarah Singkat Jemaat GPM Salamahu

Sejarah berdirinya Jemaat GPM Salamahu berawal dari perintah controler Belanda kepada raja negeri dan orang tua-tua negeri Haya untuk mencari pemukiman kepada orang tua-tua negeri Salamahu untuk di jadikan perkampungan. Setela ditempatkannya orang Salamahu di negerinya pada tahun 1934, melalui misi penginjilan Belanda, orang Salamahu mulai dikenalkan dengan ajaran-ajaran kristiani. Pada saat itulah awal perjumpaan orang-orang Salamahu dengan injil. Namun hanya bersifat sementara dikarenakan tidak ada tenaga penginjil atau misionaris yang di tempatkan atau tinggal menetap dengan orang-orang Salamahu. Kemudian sekitar tahun 1940 controler Belanda bersama dengan seorang pendeta penginjil dari Amahai yang diketahui bermarga Ruhulessin kembali datang dan membaptis raja Umeputi Ilelapotoa dan beberapa warga lainnya. Setelah di baptis raja Umeputi yang dulunya masih beragama suku di gantikan namanya menjadi Korneles Ilelapotoa. Atas buah karya Roh Kudus melalui pembaptisan kepala Soa Umeputi yang di ganti namanya menjadi Korneles masyarakat negeri Salamahu yang awalnya beragama suku mulai berubah menjadi perkampungan Kristen. Saat itulah benih injil dan kekristenan mulai bertumbuh dan berkembang di negeri Salamahu seiring dengan kedatangan guru-guru injil yang ditempatkan atau tinggal untuk memelihara dan meneruskan aktifitas peribadahan di negeri Salamahu. Ada catatan bahwa pada tahun 1948 juga di dilakukan pembaptisan oleh seorang pendeta penginjil bernama Yacobus Makalipessy terhadap beberapa warga negeri Salamahu. Pada saat itu kepala Soa Zefanya Rehena di tunjuk sebagai tuagama dan majelis.

Perkembangan kekristenan selanjutnya sulit untuk diidentifikasikan dikarenakan minimnya rekaman sejarah yang masih tersisa. Namun dari hasil wawancara yang di lakukan terhadap beberapa orang tua-tua yang di baptis oleh Penginjil Bapak Yacobus Makalaipessy pada tahun 1948, didapati keterangan bahwa sejak saat itu mulai berdatangan guru-guru injil ke negeri Salamahu untuk meneruskan dan memelihara api injil agar tetap menyala di negeri Salamahu. Bapak Parirury, Bapak Kainama, Bapak Tilaporu, Bapak Rehena, Bapak Tamala, adalah guru-guru injil yang pernah datang dan melayani kegiatan peribadahan di negeri Salamahu. Pada saat itu ibadah masih di adakan di gereja darurat karena jumlah jiwa masih sangat sedikit.

Semakin hari benih injil semakin bertumbuh. sekitar tahun 1960 Allah berkarya dan campur tangan untuk menambah jumlah jiwa dari penduduk Salamahu. Rohnya merasuki jiwa menggerakan umatnya yakni orang-orang dari Pulau TNS yang pada saat itu sementara berada di  sekitar pesisir pantai wilayah petuanan Negeri Tamilouw. Mereka berprofesi sebagai pekerja atau pembuat perahu. Atas informasi dari warga sekitar negeri Tamilouw bahwa ada perkampungan Kristen di sekitar daerah itu, maka Keinginan beribadah menggerakan mereka mencari perkampungan Salamahu. Berawal dari keinginan beribadah, Roh Kudus menggerakan mereka untuk  kemudian tinggal, menetap dan kawin dengan orang-orang Salamahu, hal ini berdampak kepada semakin bertambahnya umat Tuhan di negeri Salamahu. Sejak saat itu mulailah di lakukan pekerjaan pembangunan gedung gereja permanen.

Rentang waktu 1948 sampai dengan sekitar tahun 1970 aktifitas pelayanan hanya berkisar seputar ibadah minggu. Perjamuan dan Baptisan belum dapat di lakukan. Sejak tahun 1970 ke atas mulailah periode para pendeta penginjil yang sudah diperbolehkan untuk melayani Perjamuan dan Baptisan dimulai dari kedatangan Bapak Pdt. D Tamala[6], dan Bpk Pdt. Lasa. kemudian Bpk Pdt. Lasa meninggal pada tahun 1977. Sejak saat itu pelayanan di lanjutkan oleh Majelis selama hampir 4 tahun barulah di tempatkan kembali pendeta pendeta penginjil. Bapak Pdt. Yongnain. Tahun 1984 peletakan batu pertama untuk pembangun gedung gereja Permanen. Bapak Pdt Frans, Bpk Pdt Pohwain. Bpk Pdt Wutuensa melanjutkan pekerjaan pembangunan gedung gereja hingga pada tahun 1998 Gedung Gereja Pengharapan Salamahu di resmikan dan di pergunakan sebagai tempat beribadah yang permanen oleh Jemaat GPM Salamahu.

Konflik kemanusiaan yang terjadi di maluku pada tahun 1999 berdampak juga pada jemaat-jemaat dalam wilayah pelayanan Gereja Protestan Maluku, Klasis Telutih.  Hal ini turut menjadi bagian dalam sejarah perjalanan dan perkembangan injil di negeri Salamahu. Dimana jemaat GPM Salamahu adalah salah satu dari jemaat-jemaat di Klasis Telutih yang ikut mengalami pemusnahan akibat dari konflik yang terjadi. 3 Januari 2000 menjadi kenangan pahit yang menyisahkan bekas dalam benak umat Tuhan di negeri Salamahu. Korban berjatuhan, Seluruh infra struktur yang didalamnya sekolah, tempat ibadah (gereja), puskesmas, rumah-rumah penduduk dihancurkan oleh orang-orang yang tidak berprikemanusiaan. Akibat kejadian tersebut jemaat/masyarakat Salamahu menyelamatkan diri dan hidup di hutan menahan lapar dan haus, di kejar untuk dimusnahkan selama kurang lebih satu minggu. Perlindungan dan penyertaan Allah tidak pernah putus-putusnya, Kemudian mengantarkan mereka mengungsi ke jemaat GPM Piliana dan jemaat GPM Hattu (jemaat di klasis Telutih yang tidak terkena konflik) selama kurang lebih 1 bulan. Setelah itu atas usaha pemerintah Negeri Salamahu, seluruh jemaat GPM Salamahu di evakuasi ke jemaat GPM Layeni dan Isu (klasis GPM Masohi, kecamatan TNS).

Api injil tidak pernah padam, Allah tidak pernah meningalkan umatNya. Roh Kudus memberi kekuatan dan kemampuan untuk tetap bersaksi dan mempertahankan iman di tengah tantangan dan pencobaan yang seakan hampir saja memusnahkan seluruh dimensi kehidupan. Kekuatan dan pengharapan yang bersumber dari Allah yang telah menanam dan menumbuhkan benih Injil dalam Roh dan jiwa memungkinkan mereka untuk kemudian berproses dan bersaksi mempertahankan api Injil di tempat pengungsian selama kurang lebih 8 tahun 3 bulan. Pelayanan di tempat pengungsian dijalankan oleh Majelis Jemaat. Atas kebijakan Mejelis Jemaat, Pendeta-pendeta di jemaat sekitar dimintai bantuan agar dilibatkan Untuk melayani ibadah minggu dan Sakramen Sekaligus sebagai pembimbing  ketika menghadapi persoalan-persoalan dan tantangan pelayanan. Perlu di tambahkan bahwa selama di pengungsian jemaat GPM Salamahu pernah menjadi tuan rumah persidangan Klasis Telutih pada tahun 2005.

Pada tahun 2007 ditempatkanlah Pdt Nn E. Pesiwarissa sebagai ketua Majelis Jemaat GPM Salamahu. Tekad untuk kembali ke negeri Salamahu menjadi dambaan bersama masyarakat dan jemaat, Tepatnya 27 April 2008 seluruh aktifitas pelayanan di pengungsian di tutup dan dialihkan kembali ke Salamahu, Tepatnya tanggal 3 Mei 2008. dimulainya proses pelayanan dan seluruh proses peribadatan dan pembangunan di mulai lagi. Kegiatan peribadahan di laksanakan di sebuah bangunan darurat yang terbuat dari gaba-gaba kemudian melalui progran TMD pada tahun 2009 di bangunlah sebuah Balai Kerohanian semi permanen dan digunakan sebagai tempat ibadah sementara. Dibawah pimpinan Pdt. Nn. E Pesiwarissa pembangunan gedung gereja permanen kembali di mulai dengan peletakan batu pertama pada tanggal 30 Januari 2009. Proses pembangunan Gedung gereja bersamaan dengan pembangunan perumahan, Sekolah dan Puskesmas. Kemudian pada tahun 2011 dimulainya pembangunan pastori jemaat dan di resmikan bersamaan dengan pengresmian Gedung Gereja Pengharapan Salamahu pada tanggal 11 Desember 2011. Pada tahun 2013 terjadi pergantian pimpinan Jemaat GPM Salamahu dari Pdt. Nn E. Pesiwarissa kepada Pdt. C. Titahena S.si. Dan pada tahun 2016 terjadi pergantian pimpinan Jemaat GPM Salamhu dari Pdt C Titahena S.Si kepada Pdt Ny. A.E Maitimu/F, S.Th.

[1] Perang antara orang-orang pata siwa dan pata lima

[2] “Salaiku” (dahulu adalah perkampungan orang-orang  pata lima di sebelah timur negeri salamahu sekarang)

[3] “Waisou” (Nama dusun di sebelah timur negeri Haya)

[4] Anak dari Solai Ilelapotoa

[5] Anak dari Lakem Ilelapotoa

[6] Ada catatan surat Baptis dan surat Sidi. Menandakan bahwa perjamuan sudah dilayani sekitar tahun 1970

329 total views, 2 views today