Home / Jemaat Hatu

Jemaat Hatu

Number of View: 0

Pada awal kehidupan di negeri Hatu, masyarakat hidup sesuai adat istiadat dan kepercayaan moyang-moyang dari HUU Yamano dan Walaya. Setiap acara adat didahului dengan yang disebut Sopayano yang berarti sembahyang kepada yang tidak kelihatan ( Sopa= sembahyang, Yano= angin ) pemahaman moyang-moyang sebagaimana angin tidak kelihatan maka Allah tidak dapat dilihat dengan mata badani kita. Walaupun begitu, diyakini ada kuasa yang diatas. Seperti kata-kata Doa dalam bahasa : E Upulahatala Ya Ina Nae Kete Ani. Yang berarti oh Allah ya Tuhan mari memiliki dan menyertai kami.  Begitu pula kata-kata pujaan seperti : E Upulahatala An Kokokuo In; yang berarti  ya Allah kami sangat menjunjung Engkau. Pengenalan kepada kuasa lebih tinggi itu ada, tetapi kuasa itu dapat bermacam-macam baik kekuatan alam lingkungan ( gunung, pohon, batu alam ) atau kuasa-kuasa yang tidak kelihatan.

Keadaan ini mendapat sentakan pembaharuan pada saat datangnya seorang pekabar injil pada tahun 1909 yaitu bapak derek Pentury yang memberitakan tentang injil Isa Almasih. Hal ini tidak mudah bagi seorang pekabar injil karana nama Isa Almasih masih asing bagi mereka. Mereka menanyakan “ Isa Almaseh na se Lu Hoi Le ? Pinae I Sapi Lahatala” artinya; Isa Almaseh itu siapa ? katong hanya sembah kepada Allah. Kelihatannya seorang masyarakat Hatu, Masasisa Timanoyo berpikir lain. Mungkin karena ia selalu mengikuti upacara-upacara adat yang selalu didahului dengan doa, yang didalamnya nama Allah disebut maka ia berpikir nama Allah yang disebut dalam doa mungkin itulah yang diberitakan oleh pemberita injil ini. Atas sikap dan keyakinannya maka pada tanggal 5 desember 1909, Masasisa Timanoyo termasuk dalam 12 orang yang dibabtis pertama kali di Hatu. Tanggal, bulan dan tahun babtisan pertama kali itulah dipakai sebagai tanggal, bulan dan tahun awal masuknya injil di Negeri Hatu. Pada awal perkembangan selama 6 tahun, ibadah dilakukan secara bergilir  di rumah anggota gereja yang sudah dibabtis.

Pada tahun 1916 baru dibangun rumah gereja darurat oleh penginjil Y. Manduapessy. Pada tahun 1933-1935 oleh penginjil Y. Parera dan Bapak Jacob Walalayo sebagai orang kaya ( ongka ) negeri hatu telah merencanakan pembangunan gereja parmanen, tetapi akibat situasi pendudukan jepang, perang Dunia II dan masa RMS, maka pada tahun 1945 bapak Anton Walalayo mengganti bapak Jacob Walalayo bersama penginjil P. Lasamahu membentuk panitia yang baru dan januari 1955 dilakukan peletakan batu pertama dan desember 1957 gereja parmanen dapat diselesaikan melalui bantuan para tukang dari Ihamahu Saparua. Penghentar jemaat yang bertugas di negeri Hatu mulai 1909 sampai sekarang dapat dilihat pada tabel berikut :

366 total views, 1 views today