Home / Jemaat Hatumete

Jemaat Hatumete

Number of View: 0

SEJARAH JEMAAT GPM HATUMETE

Sejarah Singkat Jemaat

Jemaat GPM Hatumete merupakan salah satu jemaat yang termasuk dalam wilayah Pelayanan Klasis GPM Telutih yang penduduknya berasal dari pegunungan Manusela, Maraina dan Kanike yang turun dan bermukim di daerah pesisir. Dalam catatan sejarah pada zaman dahulu berlaku “hukum rimba” siapa yang kuat dialah yang menang dan berkuasa. Tepatnya kurang lebih 350 tahun lalu terjadi peristiwa-peristiwa peperangan disekitar teluk Telutih dan di daerah-daerah lain seperti perang Aipura di daerah Tamilow dan Sepa, akhirnya membuat masyarakat yang berada di negeri pesisir Telutih menjadi cemas dan mohon perlindungan dari Latu Manusela.  Latu  Manusela mengutus marga Lilihata, ilela dan perasa turun dari Manusela untuk mengamankan daerah Telutih, dibawah pimpinana marga lilihata.

Seiring berjalannya waktu terjadilah perkawinan yang membuat mereka semakin berkembang dan bertambah banyak mendiami beberapa tempat di belakang negeri Hatumete sekarang ini yang merupakan bukti sejarah seperti  : Dusun Losa, Dusun Usali dan Metehahan.

Tercatat dalam sejarah Hatumete selain dari yang sudah digambarkan di atas yang merupakan bukti sejarah awal masuknya penduduk Hatumete, ada juga pada tahun 1905 datangnya satu keluarga dari Maluku Tenggara tepatnya dari Tepa “pulau Dawelor dan Dawera” Desa Welora yakni keluarga TALESOY LAWERY, mereka berawal tinggal di Pulau Banda dan bekerja pada perkebunan Pala milik Belanda saat itu. Pada tahun 1905 mereka tinggal di pulau Seram tepatnya di Kuako Negeri Amahai, pada saat itu terjadi Pertemuan Raja-Raja di Amahai dengan Pemerintah Belanda, termasuk di dalamnya Raja Negeri Hatu yaitu  : MASASISA TIMANOYO. Dalam kehadiran raja-raja di Amahai membuat Raja Hatu MASASISA TIMANOYO dan TALESOY LAWERY kemudian saling  mengenal dan akhirnya mereka mengangkat janji menjadi saudara adik dan kakak.

Disitulah terjadi hubungan kekeluargaan. Kemudian Raja Hatu Masasisa Timanoyo mengajak saudara angkatnya itu untuk sama-sama kembali ke Negeri Hatu dan tinggal bersama sebagai orang saudara, pada waktu itu Injil (Agama Kristen) belum masuk di Teluk Telutih (tepatnya di Negeri Hatu).

Pada tahun 1909 hadirlah seorang Penginjil yaitu : Penginjil. Moses Pentury yang mula-mula masuk di negeri Hatu dengan ajaran agama Kristen Protestan. Penduduk Hatu bahkan penduduk asli Hatumete saat itu sudah mengenal dan menyembah Tuhan dengan sebutan  “ UPU LAHATALLAH”  yang adalah Tuhan Allah.

Dengan kehadiran Penginjil Pentury maka tepatnya pada tanggal 05 Desember 1909 terbentuknya Jemaat Mula-mula di Telutih tepatnya di Negeri Hatu, ini ditandai dengan dibaptisnya Raja Negeri Hatu :  MASASISA TIMANOYO diganti nama dengan nama saranenya  MOSES TIMANOYO dan pada tahun 1910 di baptis lah saudara angkatnya tadi : TALESOY LAWERY dan nama saranenya :  YACOB LAWERY dan istrinya : LELMES nama barunya : LEVINA LAWERY,  bersama tiga orang anaknya yaitu : Mesak, Tomas dan Robeka Lawery. Selain dari mereka ini ada juga keluarga  lain yang ikut dibaptis pada waktu itu yaitu : LOURWENS dan dua orang tua, orang asli Negeri Hatumete yang pertama dibaptis yaitu : KAIKUE  LILIHATA dan PIALEE PERASA dengan nama saranenya Lukas.

Pada tahun 1910 Yacob Lawery meminta persetujuan dari saudara angkatnya : MOSES TIMANOYO untuk pindah dan menetap di Hatumete sekarang ini, saat itu telah ada sebagian penduduk asli yang menguasai tempat tersebut, selang beberapa waktu karena lewat pergaulan, perkawinan, perdagangan, pemerintahan dan lain-lain maka penduduk asli yang masih menetap di Losa, Usali dan yang ada di negeri lama atau Mohoni Kopu mulai turun dan bergabung dengan penduduk asli yang telah ada di negeri Hatumete sekarang ini bersama dengan keluarga Yakob Lawery,  maka terbentuk sebuah perkampungan atau sebuah negeri yang baru dan berada disebuah tempat yang bernama IVAHILA yang artinya : “Berapa Marga”. Disitulah Negeri Hatumete mulai terbentuk.

Berdasarkan catatan sejarah negeri Hatumete bukan saja didiami penduduk asli dari Pegunungan Manusela, Maraina dan Kanike tetapi karena lewat suatu perubahan yang terjadi lewat perkawinan campuran antara penduduk asli dan pendatang  maka banyak pula orang yang berasal dari Ambon, Lease, Tepa dan Kisar dan lain-lain yg sampai saat ini turut berdiam di negeri Hatumete.

Seiring dengan terbentuknya jemaat mula-mula pada tanggal 05 Desember 1909 dan proses Baptisan bagi beberapa Keluarga termasuk orang tua asli negeri Hatumete yang pertama dibaptis, maka seiring itu pula kehadiran Para Penginjil dan  Pendeta silih berganti untuk mewartakan Injil kebenaran Allah dalam tugas bersaksi dan melayani sesuai dengan pangilan pelayanan.

Para Penginjil dan Pendeta yang melakukan tugas pelayanan pada Jemaat GPM Hatumete mulai dari tahun 1909 sampai sekarang adalah sebagai berikut:

Sejak masuknya para Pendeta/Penginjil, sejak itulah Injil mulai bertumbuh dan berkembang walaupun dihadapi dengan berbagai gejolak antara lain : Penjajahan Belanda, Jepang dan juga pergolakan RMS, namun perkembangan Injil di Jemaat ini berjalan dengan pesat, ini dibuktikan dengan dibangunnya gedung gereja oleh Pendeta Pentury, disinilah semua aktifitas pelayanan dilakukan.  Tahun berganti tahun perbuatan manusia terus menjadi-jadi sehingga terjadi sebuah kutukan karena ulah atau perbuatan manusia waktu itu sehingga terjadi kematian. Penginjil yang bertugas pada waktu itu adalah Penginjil Soumokil.

Setelah terjadi pergantian beberapa Penginjil sekitar tahun 1960 Penginjil. M.Frans mulai bertugas di Jemaat GPM Hatumete.

Waktu itu gedung gereja BAITH EDEN mulai di bangun dengan swadaya jemaat dan juga usaha-usaha lain diluar jemaat. Dengan bantuan para tukang dari Ameth gedung gereja BAITH EDEN mulai dikerjakan. Selama pembangunan itu berlangsung banyak mujizat yang terjadi, angka kelahiran mulai bertambah, tidak lagi terjadi kematian banyak berkat yang melimpah ruah dan banyak orang mulai sadar dan bertobat tidak lagi melakukan tindakan-tindakan penyembahan.

Jemaat Hatumete mulai berkembang dengan masuknya beberapa orang Pdt- Penginjil hingga terjadi konflik kemanusiaan yang melanda wilayah Maluku terkhusus Klasis Telutih jemaat Hatumete, yang bertugas di Jemaat Hatumete saat itu  adalah Pdt.Nn.J.A.Diaz. S.Th.  Konflik yang melanda negeri Hatumete terjadi pada tanggal 30 Januari 2000. Yang membuat jemaat Hatumete harus mengungsi dan terpisah. Ada yang mengungsi ke Ambon, Tenggara, Amahai, Irian, Manusela dan ada yang menetap dibelakang Hatu. Puji Syukur walaupun Jemaat Hatumete hanggus terbakar tetapi “ Api Injil Terus Menyala Buat Orang Hatumete “. Selama kurang lebih 3 tahun di tempat pengungsian pelayanan berjalan dengan baik walaupun waktu itu tidak ada pendeta namun ada Majelis Jemaat yang tetap menjalankan tanggungjawab pelayanan. Ketiga orang Majelis Jemaat waktu itu belum dilantik, atas kesepakatan pimpinan Klasis ketiga saudara waktu itu dilantik di jemaat GPM Layeni (Waipia) Klasis Masohi yang menjadi Ketua Klasis waktu itu adalah Pdt.Nn. S. Latuny. S.Si. sedangkan ketiga Penatua waktu itu adalah :

  1. H. Timanoyo
  2. S. Frans
  3. A. Aktaulora

Selesai pelantikan bersamaan dengan pemulangan pengungsi warga jemaat yang berada di jemaat Amahai/Souhuku mulai kembali ke jemaat Hatumete namun ada sebagian yang  belum kembali berdasarkan pendidikan anak-anak mereka

Sekembalinya di jemaat Hatumete, warga yang berada di jemaat Hatu sudah boleh kembali dan membangun gedung gereja darurat. Gedung gereja darurat ini dimulai ibadah perdana pada tanggal 8 desember 2002. Dan di Yang melayani waktu itu Pnt H. Timanoyo. Sebagai wakil ketua Majelis Jemaat. Pnt A. Aktaulora sebagai sekretaris jemaat, dan Pnt S. Frans sebagai Bendahara Jemaat, ditambah dengan 2 orang koordinator Unit yaitu  :  J. Perasa  dan  C. Palaklely. Sementara Ketua Majelis Jemaat GPM Hatu Pdt. A. Salawane untuk sementara diperbantukan di jemaat Hatumete.

Setelah lewat beberapa bulan kemudian tepatnya persidangan pertama Klasis

Telutih yang berlangsung di tempat pengungsian jemaat Waraka Pendeta E. Septory ditetapkan dengan SK MPH Sinode sebagai Ketua Majelis Jemaat GPM  Hatumete.

Setelah beberapa bulan kemudian pelantikan Majelis Jemaat yang baru dari situ rencana pembangunan Balai Kerohanian dilaksanakan dengan dibentuknya panitia pembangunan BK. Pelayanan terus digalakan berdasarkan perkembangan dalam unit-unit. Pelayanan dalam jemaat kemudian dibagi menjadi 4 sektor pelayan dan 8 Unit Pelayanan. 4 sektor pelayanan adalah :

  1. Sektor Ebenhezer
  2. Sektor Eden
  3. Sektor Sion
  4. Sektor Siloam

Kemudian lewat berbagai masukan yang diputuskan dalam persidangan jemaat supaya segera dibangun gedung gereja yang baru, maka dibentuklah Panitia Pembangunan Gedung Gereja yang baru. Dengan bantuan pemerintah sebesar Rp.250.000.000 dan juga bantuan dari para donatur dan sumbangan Anak Cucu Hatumete di rantau maka dimulailah proses pembangunan Gedung Gereja. Selama pembangunan gedung gereja berjalan panitia, Majelis Jemaat, Warga Jemaat saling menopang dalam pembangunan tersebut, hingga pembangunan Gedung Gereja Yang baru dapat diselesaikan dan diresmikan oleh Ketua Sinode GPM Pdt. DR. CH. Ruhulesin yang turut dihadiri oleh Kepala Perpustakaan Provinsi Maluku atas nama Gubernur Maluku pada tanggal 9 Oktober 2011. Dan di Gedung inilah seluruh proses pelayanan dijalankan, seluruh tanggungjawab pembinanaan mental spiritual dan etik moral umat dapat berjalan dengan baik hingga saat ini.

 

302 total views, 1 views today