Home / Jemaat Naiwel

Jemaat Naiwel

Number of View: 0

Sejarah Singkat Jemaat Naiwel,

Jemaat  GPM Ahinulin Naiwel adalah salah satu jemaat yang berada dalam wilayah  pelayanan Klasis Telutih .Jemaat GPM Ahinulin Naiwel terdiri atas dua dusun yaitu Dusun Naiwel dan Dusun Ahinulin.  Pada awalnya Dusun Naiwel  adalah sebuah kampung yang bernama “ NUSAWELI “ yang berarti Pulau Alang alang, mereka turun dari gunung Naiwel,  dan tinggal dikampung sebelah yang bernama “ BAMEL “ karena alasan tanah panas. Waktu itu mereka dipimpin oleh Bpk. YOMAS.NILA PANCURAN, asal Desa Sawol. Kemudian mereka berpindah lagi ke sebuah tempat yang bernama “ WAIKESA “. Masyarakat terpencar karena mereka beralasan belum ada Pemerintahan yang tetap dan mereka ingin untuk belajar berbahasa Indonesia. Di WAIKESA mereka dipimpin  oleh Bpk. Bisa Mutulahol, atas persetujuan Masyarakat pada tahun 1950.

Agama Kristen masuk di Naiwel pada tahun 1969, orang yang pertama memeluk Agama Kristen adalah Bpk. Frangky Lessa dan Bpk. jemmy Lessa dan mereka di Baptis di Jemaat GPM Sabuai oleh Penginjil Simon Malihu.

Pada zaman Pemerintahan Belanda, “ NUSAWELI “  diganti dengan nama “ NAIWEL “ dan pemerintahan Desa Naiwel di pimpin oleh Bpk. David Mutulahol pada tahun 1971.

Dusun Ahinulin terdiri dari dua marga yaitu marga “ TIF’OF dan marga  “ AHINULIN “. Pada awalnya masyarakat Ahinulin turun dari Gunung “YAMARO’OK”  yang artinya “Kampung  Lihat”. Mereka mulai tinggal menetap di kampung pada tahun 1948.

Orang Tua  – tua pada saat itu ialah :

  1. KESER AHINULIN
  2. JURUHUKUM AHINULIN

HINADIAR ABALALAN

  1. BAKARANE AHINULIN

HINALAUB TIFOF

  1. KAFUA AHINULIN
  2. NISAT TIFOF
  3. SAMIYAHEM TIFOF
  4. TILIKAN AHINULIN

SUSUNAN KEPEMIMPINAN / NAMA – NAMA KEPALA KAMPUNG AHINULIN :

  1. TILIKAN AHINULIN
  2. KAFUA AHINULIN
  3. KULUR TIFOF
  4. WELHELMUS AHINULIN
  5. HANS TIFOF

Injil masuk di Ahinulin pada tahun 1954. Yang pertama diBabtis dan dilayani oleh Pdt. Thaihitu :

  1. WELHELMUS AHINULIN dan isteri YOMIMA TITASAM.
  2. DANIEL AHINULIN dan isteri NAOMI PATOTNEM.

Demikian 2 keluarga ini menjadi penganut agama Kristen pada saat itu.

Dalam kepemimpinan Penginjil T.H Pohowain yang ditugaskan ke jemaat sabui dan melakukan pelayanan sampai di Pos PI Ahinulin Naiwel dalam masa tugasnya beliau melakukan peletakan batu pertama gedung gereja Imanuel pada tahun 1986. Setelah itu Kepemimpinan Bpk Pdt M.P.LATUMAHINA di Objek PI GPM Ahinulin Naiwel untuk melanjutkaan proses pembangunan gedung gerejai dan melakukan pelayanan di jemaat ini. gedung gereja Imanuel dapat diresmikan pada tahun 1992 oleh Ketua Klasis Telutih Pdt. Saimima

Setelah gedung gereja diresmikan ojek PI Ahinulin Naiwel masi tetap dilayani oleh Bpk Pdt Latumahina yang menjalankan tugas dari jemaat Sabuai.

Pada tanggal 2 Januari 2000, jam 5.30 wit, Anggota Jemaat  Ahinulin Naiwel mendapat berita bahwa,   Gereja dan Pastori Jemaat Adabai di bakar oleh masa, anggota jemaat perempuan dan anak- anak di ungsikan ke hutan, sedangkan anggota Jemaat laki-laki mempersiapkan diri untuk berjaga – jaga di dalam desa. Pada jam 7.00 wit, Warga Ahinulin Naiwel diserang masa dari arah timur, yaitu dari desa Atiahu, maka terjadilah perlawanana demi mempertahankan negeri dan Jemaat oleh kaum laki-laki, namun apa mau dikata, masa yang menyerang memiliki kekuatan yang sangat besar dengan peralatan yang lengkap, dengan senjata-senjata organik dan bom – bom yang sangat banyak, maka kaum laki-laki terpaksa mundur dan meninggalkan negeri dan Jemaat tercinta Ahinulin Naiwel. Mereka mundur ke hutan mengikuti  kaum perempuan dan anak-anak. Dalam serangan / tragedi tersebut anggota jemaat laki-laki yang korban meninggal sebanyak 4 orang, yaitu 2 orang kena potong dan 2 orang dibakar sementara barada dalam rumah, karena ada dalam keadaan sakit dan tidak bisa berjalan. Pada jam 08.00 wit, Pimpinan Jemaat pada waktu itu ialah Bapak Pendeta M.P. Latumahina, beliau bersama anggota jemaat ( perempuan, laki-laki, dan anak – anak ) di tengah hutan Naiwel, mereka berkumpul dan mengatur perjalanan selanjutnya ke bekas Dusun Ahinulin yang terdapat di gunung Ahinulin dan mereka tiba pada jam 09.00 wit. Di Gunung Ahinulin ini mereka tinggal selama 1 bulan lamanya.

Tepat tanggal 2 Pebruari 2000, mereka melanjutkan perjalanan ke Seram Utara dan dalam perjalanan tersebut ada dua orang anggota Jemaat yang meninggal dunia karena sakit.  11 hari perjalanan yang mereka tempuh untuk  sampai ke Seram Utara, dan  tibalah mereka di desa Fatkalaman. Di desa Fatkalaman mereka mendapat berita bahwa Jemaat Sabuai sudah turun ke pantai dan tinggal di Pesantren. Pada tanggal 15 Pebruari 2000 Bapak Pendeta Latumahina turun  ke Pesantren dan mendapat berita bahwa ada kapal yang datang  besok, tanggal 16 Pebruari 2000, untuk  mengangkat pengungsi  ke Piru, Seram Bagian Barat. Selaku Pimpinan Jemaat Beliau meminta kepada Bapak Pimpinan Pesantren, Bapak Kiyai, agar Bapak Kiyai dapat menahan  kapal tersebut sehari agar pengungsi Ahinulin Naiwel juga dapat berangkat bersama-sama pengungsi yang lain yang sudah ada di Pesantren dan beliau bersedia. Bapak Pendeta Latumahina kembali ke desa Fatkalaman pada jam 20.00 wit, untuk membawa anggota Jemaat. Bapak Pendeta dan beberapa orang diantaranya, Sdr. Epus Lessa, Sdr. Nadus Lessa melakukan perjalanan dari pesantren ke desa  Fatkalaman dan tiba pada jam 4.30 wit, dan setelah mereka sampai di desa Fatkalaman mereka mempersiapkan semua anggota Jemaat untuk turun ke Pesantren.

Tepat tanggal 16 Pebruari 2000, jam 06.00 wit, mereka meninggalkan Desa Fatkalaman dan menuju desa Tanah Merah, dan mereka di jemput oleh Bapak Kiyai dan di angkut ke Pesantren. Sampai di Pesantren mereka bermalam di Pesantren dan mereka dijamin oleh Bapak Kiyai. Tanggal 17 Pebruari 2000 jam 07.00 wit, mereka di angkut dan dibawa oleh Bapak Kiyai ke Pelabuhan di mana kapal pengangkut pengungsi tersebut sedang menunggu, yaitu dermaga Kobisadar.Tepat jam 11.00 wit, kapal pengangkut pengungsi berangkat meninggalkan Dermaga Kopisadar dan menuju ke Taniwel dan tepat jam 23.00 wit kapal tiba di Taniwel. Tanggal 18 Pebruari 2000, kami diturunkan dari kapal dan dibagikan ke jemaat-jemaat dalam Klasis Taniwel. Karena Jemaat Ahinulin Naiwel terdiri atas dua dusun, maka dalam pembagian, Dusun Naiwel ditempatkan di Jemaat pegunungan yaitu Jemaat Buria, Jemaat Laturake  dan Jemaat Riringrumasoal, sedangkan Dusun Ahinulin ditempatkan di Jemaat Hatunuru dan  Matapa.

Perlu ditambahkan bahwa selama masa pengungsian Jemaat Ahinulin Naiwel yang bersama- sama yang menjalani  pengungsian, di antara  para pengungsi tersebut juga ada terdapat keluarga yang belum memeluk agama. Selama di Taniwel mereka dilayani oleh pemerintah dan juga dari LSM. Setelah sampai di Klasis Taniwel ada beberapa orang tua dan anak-anak yang belum memeluk agama, ada yang  bersedia di Baptis. Orang – orang yang turut andil dalam menKristenkan Masyarakat naiwel yaitu diantaranya Penatua Otis Mutulahol dan Diaken Sam Mutulahol, mereka di Baptis di Ririn – Rumasoal, oleh Pdt. Di UWET Pantai.

Pada bulan Maret 2001, ketika Jemaat Sabuai berangkat tinggalkan Klasis Taniwel menuju Dusun Rumalait, Kecamatan Amahai, maka lewat Kepala Dusun Ahinulin Naiwel mereka meminta juga agar mereka dapat ikut ke Kecamatan Amahai dengan biaya sendiri. Akhirnya pada Bulan September 2001, anggota jemaat yang ada pada Dusun Ahinulin berangkat mengikuti Jemaat Sabuai ke Desa Rumalait, sedangkan Anggota Jemaat pada Dusun Naiwel, pada Bulan Nopember 2001 berangkat ke Jemaat Sahulau dan sampai saat ini setelah pemulangan ada beberapa keluarga yang masih berada di Jemaat Sahulau dan juga di Rumalait.

Perlu juga diketahui bahwa selama Pengungsian di Sahulau Pimpinan Jemaat bersama Majelis Jemaat Ahinulin Naiwel telah berusaha dan 21 Keluarga yang belum masuk agama yang bersama sama dalam masa pengungsian telah memberi diri untuk di Baptis.

 

285 total views, 2 views today