Sempe Ouw, Jadi Pohon Natal Di GPM

Number of View: 0

Menjelang perayaan Natal, kota Ambon dibuat ramai bahkan macet sejenak. Semua lini aktifitas kehidupan mulai menyibukan dirinya masing-masing. Karena umumnya dibulan desember menjadi arena perjumpaan kehidupan keluarga, refleksi diri, dan juga pembersihan dan pembenahan rumah tempat tinggal. Ya, kira-kira demikian.

Begitupun juga dengan Gereja Protestan Maluku (GPM) menjadi gereja yang turut memeriahkannya dengan memberikan pembinaan spiritual melalui pelayanan-pelayanan ibadah natal pada semua jenjang, pemberian kasih kepada mereka yang membutuhkan dan menghiasi Kantor Sinode GPM dengan pernak Pernik Natal yang nuansanya adalah merah, hijau dan gold.

Tetapi kali ini ada yang berbeda, GPM mengkreasikan Pohon Natal menggunakan produk lokal (kerajinan tangan) yang diprakarsai Jemaat GPM Ouw Klasis Pulau-Pulau Lease.

Negeri Ouw terletak di wilayah pulau Saparua. Secara geografis pulau Saparua berada dalam gugus kepulauan Lease, yang diapit Pulau Haruku, Pulau Saparua dan Pulau Nusalaut, sedangkan penamaan teon negeri Ouw disebut Lisaboli Kakelisa, kecamatan Saparua Timur, kabupaten Maluku Tengah.

Sempe adalah jenis kerajinan gerabah asal Negeri Ouw.

Sempe dibuat dari tanah liat yang dibentuk dan dibakar dalam tungku kayu. Sempe adalah simbol kemakmuran orang Ouw sekaligus perkakas ekonomi rumahtangga utama masyarakat Maluku (Tengah).

Sebab sempe adalah wadah untuk “tuang papeda”, makanan pokok orang Maluku.

Hari ini, susunan sempe dibuat membentuk pohon natal sebagai simbol khas kekristenan di masa perayaan Natal.

Ide untuk membuatnya muncul dengan tujuan untuk mengingatkan jemaat dan Gereja Protestan Maluku secara khusus bahwa pemberdayaan ekonomi rumah tangga harus terus dipacu karena Tuhan selalu beserta orang-orang yang giat bekerja. [Mengutip, Pdt. Elifas Tomix Maspaitella]

Bagi sebagian orang istilah sempe masi asing didengar, namun bagi masyarakat Negeri Ouw Sempe merupakan tempat untuk menyajikan makanan khas maluku yang disebut papeda (terbuat dari sagu). Sempe merupakan harga diri anak Negeri Ouw, dan urat nadi masyarakat setempat.

Tentunya ide pohon Natal yang terbuat dari sempe terlahir dengan dasar pikir mendalam tentang Jemaat atau Negeri Ouw sendiri.

Jika dikatakan Pohon Cemara mencorakan simbol kehidupan yang terus bertahan di tengah-tengah perubahan siklus empat musim, maka bagi anak-anak di Negeri Ouw memahami ‘tanah’ sebagai bahan dasar pembuatan sempe juga merupakan simbol kehidupan yang dijadikan Tuhan kepada semua orang. Menurut orang Ouw, tanah yang tetap menjamin kehidupan dari generasi ke generasi karena dengan tanah manusia membuat atau mengkreasikan kerajinan tangan membentuk sempe untuk dijual (papalele) di Pulau Saparua, Masohi, bahkan Kota Ambon. Sempe merupakan salah satu urat nadi untuk memperoleh pendapatan ekonomi, karena dengan membuat sempe, maka manusia dapat bertahan hidup bahkan menyekolahkan anak-anak menjadi seorang sarjana.

GPM mengakat kembali setiap kearifan lokal untuk dilestarikan, dihidupkan kepada generasi Milenial, sehingga jika manusia saat ini hidup dalam budaya moderen tetapi mereka tidak boleh melupakan adat dan tradisi yang telah di ajarkan oleh para leluhur mereka saat itu karena leluhur mereka memperoleh hikmat untuk mengkaryakan kesemuanya berasal dari Allah.

Sempe telah menjadi identitas anak Negeri Ouw, sekalipun perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi namun di atas meja makan di Ouw sempe tetap ada menjadi bagian yang dapat menampung makanan yang dituang untuk siap dihidangkan.

Bukan saja di negeri Ouw, namun secara umum bagi sebagian orang Maluku bahkan yang bukan orang Maluku saat mereka membeli sempe, otomatis sempe telah menjadi bagian dari kehidupan meja makan mereka untuk menyajikan papeda.

Sempe menjadi symbol penyemangat karena anak Negeri Ouw selalu mengingat bahkan diingatkan tentang perjuangan hidup orang tua  dengan hidup apa adanya mereka mengolah tanah ciptaan Tuhan untuk dijadikan berkat ekonomi dan kini hasilnya dari anak keturunan Negeri Ouw sudah ada yang menjadi seorang ; Rektor, Guru, Pendeta, Dosen, dan lainnya.

Proses peraktitan Pohon Natal di kantor Sinode GPM (06/12/2018) secara teknis dilakukan oleh Bapak Roy Latupeirissa dan Bapak Ferly Tomasoa, proses penyusunan sempe membutuhkan seratus empat puluh buah sempe (banyak – jumlah) yang diatur teratur dari bawa hingga mengerucut keatas berbentuk Pohon Natal, yang dikerjakan oleh sepuluh orang pengrajin dengan cara manual maupun teknologi untuk proses pembakaran tanah  menjadi bentukan sempe memakan waktu  seminggu, pada ujung Pohon Natal Sempe terlihat bentukan kubah kecil, kubah kecil tersebut merupakan sebutan penggas dan pembuatnya yakni Bapak Ferly Tomasoa.

28,377 total views, 4 views today

Media Center Gereja Protestan Maluku

Media Center GPM Merupakan Sarana Mengkomunikasikan Informasi Tentang Gereja Protestan Maluku Yang Tersebar di Maluku dan Maluku Utara, Bersifat Informatif, Serta Memberikan Pelayanan Pada Publik. Dapat Menghubungi Kami, Mengirim Informasi (berita) Melalui Email : mediacenter.gpm@gmail.com