Melayani Dengan Hati

Number of View: 0

Judul di atas terinspirasi dari kata-kata rasul Paulus dalam Kis. 20:19a “dengan segala rendah hati aku melayani Tuhan.” Pokok penting dari apa yang diungkapkan rasul Paulus ialah “melayani Tuhan dengan segala kerendahan hati.” Pokok ini juga yang akan menjadi fokus dari tulisan ini yaitu bagaimana “bersama-sama melayani dengan hati.” Kata “bersama-sama” menegaskan unsur kolektifitas, kebersamaan dan kerjasama team (team work). Bahwa melayani bukan hanya melulu soal kerja personal atau pribadi melainkan kerja bersama, kerja dalam kebersamaan dengan yang lain. Sedangkan kata “hati” menunjuk pada dasar atau sumber dari seluruh tindakan melayani. Lalu bagaimana melayani dengan hati itu diwujudkan? Apakah melayani dengan hati hanya berarti melayani dengan rasa (perasaan)? Masih perlukah pertimbangan rasional dalam tindakan melayani dengan hati? Atau cukuplah pertimbangan emosional saja, karena hanya melayani dengan hati? tulisan sederhana ini akan memberi respon terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan sebelumnya dan menjadi inspirasi serta memberi motivasi untuk terus melayani dengan hati.

Pelayan(an) yang Murah Hati

Pelayan(an) yang murah hati adalah pelayan(an) yang didasarkan pada sikap kemurahan hati. Kemurahan hati antara lain tampak dalam kegembiraan kasih serta kesediaan untuk menyediakan diri, waktu serta keberanian untuk mengakui kerapuhan serta keterbatasan dirinya. Pengakuan itu tidak dimaksudkan untuk patah semangat dan putus harapan, tetapi senantiasa menjadikan diri untuk mau belajar dalam kerendahan hati satu sama lain.[1] Kesediaan untuk selalu mau belajar dari yang lain menjadikan kita tidak hanya menjadi gereja yang mengajar (ecclesia docens) melainkan juga gereja yang belajar (ecclesia discens).

Tekanan pada “hati” atau “kemurahan hati” tidak berarti bahwa pelayan(an) yang murah hati adalah pelayanan semau-maunya atau sesuka hati dan bukan pula pelayan(an) yang semena-mena demi meyenangkan umat beriman, tanpa memperhatikan peraturan. Dengan kalimat lain dapat dikatakan bahwa pelayan(an) yang murah hati tidak sama dengan pelayanan yang ngawur. Pelayan(an) yang murah hati justru adalah pelayan(an) yang dilakukan dalam koridor aturan yang berlaku.[2]

Pelayan(an) yang murah hati diharapkan berorientasi pada perjumpaan personal yang terus menerus dengan umat beriman. Pelayan tidak diharapkan menjadi pribadi yang sibuk dengan dirinya sendiri dan hanya mau melayani diri sendiri, namun kurang mau keluar menyapa bahkan kurang mau menyiapkan hati agar tersedia bagi yang lain. Karenanya pelayan(an) yang murah hati juga adalah pelayan(an) yang menyiapkan hati agar tersedia bagi yang lain dan dapat dijangkau oleh yang lain.[3] Pelayan(an) yang murah hati adalah pelayan(an) yang hatinya mencintai dan tangannya melayani.[4]

Lebih jauh makna pelayan(an) yang murah hati antara lain; (a) pelayanan yang penuh kerelaan, (b) pelayanan yang mau menjadi teladan.[5] Melayani dengan sukarela berarti mengerjakan sesuatu dengan suka, senang hati, penuh semangat dan bergairah. Melalui pelayanan yang penuh kerelaan itu kita menghadirkan sukacita injil dan kegembiraan dalam pelayanan yang dilakukan maupun kepada umat yang dilayani. Pelayanan yang penuh kerelaan berbeda dengan pelayanan yang berat hati, malas, melayani dengan terpaksa, sekadar rutinitas, demi kewajiban dan pelayanan yang tanpa hati. perbedaan itu dimungkinkan karena pelayanan yang penuh kerelaan dikerjakan karena cinta dan dengan cinta.[6]

Pelayan(an) yang murah hati juga ialah soal keteladanan hidup, mampu memberi teladan bagi yang dilayani maupun kepada sesama pelayan. Melayani dalam kemurahan hati yang penuh keteladanan bertentangan dengan pelayanan yang mendominasi (menguasai). Apabila gaya melayani dengan penuh dominasi (menguasai) itu tampak dalam sikap otoriter, memerintah, mendikte, bahkan selalu menyalahkan orang lain, maka pelayanan yang murah hati justru kontras dengan hal itu. Melayani dalam kemurahan hati adalah melayani dalam keteladanan. Bukan perintah melainkan teladan.[7]

Melayani dengan Hati = Melayani tanpa pamrih (sepi ing pamrih)

Dalam etika jawa berkaitan dengan sikap batin terdapat dua bahaya yang mengancam hidup manusia yaitu, napsu (hawa nepsu) dan egoisme (pamrih).[8] Bertindak karena pamrih berarti hanya mengusahakan kepentingannya secara individual saja dan tidak menghiraukan kepentingan yang lain di luar dirinya. Pamrih itu terutama kelihatan dalam tiga hal yakni; pertama, selalu mau menjadi orang pertama (nepsu menange dhewe), kedua, menganggap diri selalu betul (nepsu benare dhewe) dan ketiga, hanya memperhatikan kebutuhan dirinya sendiri (nepsu butuhe dhewe).[9] Karena itu dalam paham jawa menandai watak yang luhur adalah melalui kebebasan dari pamrih atau sepi ing pamrih. Manusia yang sepi ing pamrih adalah mereka yang tidak gelisah dengan dirinya sendiri (tidak mementingkan diri sendiri), semakin bebas dari nafsu memiliki juga menguasai (monopoli dan dominasi), serta menjadi pribadi yang tenang.[10]

Oleh kareana itulah maka melayani dengan hati adalah melayani yang sepi ing pamrih, melayani dengan tulus, tanpa pamrih dan tidak memikirkan diri sendiri.[11] Hal ini tidak berarti bahwa kita melayani dengan mengabaikan upah (jika itu ada) sebab harus diakui bahwa hal itu penting dan dibutuhkan. Namun, kita tidak menjadikan upah atau imbalan sebagai fokus atau orientasi bahkan menomorsatukan-nya dari tindakanmelayani yang dilakukan. Pelayanan yang murah hati dan sepi ing pamrih dijiwai oleh keinginan untuk memberikan seluruhnya bagi Kerajaan Allah (bdk. Luk. 12:22, 30-31).[12]

Melayani dengan Hati = Melayani dengan empati

Melayani dengan hati berarti melayani dengan empati. Tidak hanya berhenti pada simpati melainkan berlanjut pada empati, sebab teladan pelayan(an) dengan hati adalah Yesus dan dasar pelayanan yang murah hati adalah “cinta kasih” atau kasih pastoral (caritatis pastoralis).[13] Melayani dengan hati bukan hanya soal melayani dengan “rasa” atau “perasaan” tanpa memperhatikan pertimbangan-pertimbangan logis dan rasional. Hati dalam kitab suci (Alkitab) tidak hanya menunjuk pada soal perasaan, melainkan juga menjadi pusat pikiran, pusat kehendak dan pusat pertimbangan. Karenanya “hati” menjadi penting. Dengan demikian melayani dengan kesadaran yang terlahir dari bagian terdalam dari manusia yakni kesadaran akan “cinta kasih” Allah yang membebaskan.[14] Dan karena itu melayani dengan hati sama artinya dengan melayani dengan cinta kasih yang empati.

Melayani dengan hati yang penuh cinta kasih dan empati haruslah menjadi tindakan melayani yang membebaskan. Aspek pembebasan dimaksud berdimensi ganda yaitu, pada satu sisi membebaskan orang yang dilayani, mereka merasa bebas, dibebaskan, penuh semangat, dan dikuatkan. Dan pada sisi lainnya, yang melayani pun bebas, melayani tanpa tekanan, desakan dan dipenuhi dengan beban. Melayani dengan hati adalah juga melayani dalam kebebasan hati dan membebaskan tekanan batin.

Selamat melayani dengan Hati!

Serviens Dominum cum Humilitate, aku melayani Tuhan dengan segala kerendahan hati (Kis. 20:19a).

Kolese St. Ignatius Yogyakarta   Masa Raya Advent  2018

 Eklepinus Jefry Sopacuaperu                                                                    

Kepustakaan

Cahyadi, T. Krispurwana, Tangan Melayani Hati Mencintai, Jakarta: Obor, 2003

——————————, “Melayani dalam Kemurahan Hati” dalam Rohani, No. 5, Mei 2013

Hendriks, I. W. J.,  “Memimpin dengan Hati” dalam Jurnal Teologi F-Bta, No. 2/2014

Magnis-Suseno, Franz, Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijakan Hidup Jawa, Jakarta: Gramedia, 1985

Martasudjita, E, Pelayanan yang Murah Hati, Yogyakarta: Kanisius, 2003

Rubiyatmoko, Robertus“Gereja yang Murah Hati” dalam E. Maratasudjita (ed.), Gereja yang Melayani dengan Rendah Hati, Yogyakarta: Kanisius, 2009


[1] T. Krispurwana Cahyadi, “Melayani dalam Kemurahan Hati” dalam Rohani, No. 5, Mei 2013, hlm. 31

[2] Robertus Rubiyatmoko, “Gereja yang Murah Hati” dalam E. Maratasudjita (ed.), Gereja yang Melayani dengan Rendah Hati, (Yogyakarta: Kanisius, 2009), hlm. 61

[3] T. Krispurwana Cahyadi, “Melayani dalam Kemurahan Hati” dalam Rohani, No. 5, Mei 2013, hlm. 30

[4] Bdk. T. Krispurwana Cahyadi, Tangan Melayani Hati Mencintai, (Jakarta: Obor, 2003)

[5]Kedua makna pelayanan yang murah hati tersebut dikemukakan oleh E. Martasudjita yang terinspirasi dari 1 Petrus 5:1-3. Martasudjita sebetulnya menyebutkan tiga makna, namun pada bagian ini hanya dibahas dua makna. Satu makna yang lainnya yaitu pelayanan yang murah hati adalah pelayanan yang penuh pengabdian akan dibahas dalam bagian selanjutnya. Lih. E. Martasudjita, Pelayanan yang Murah Hati, (Yogyakarta: Kanisius, 2003), hlm. 42-44

[6] E. Martasudjita, Pelayanan yang Murah Hati, hlm. 46-47

[7] E. Martasudjita, Pelayanan yang Murah Hati, hlm. 57-61

[8] Franz Magnis-Suseno, Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijakan Hidup Jawa, (Jakarta: Gramedia, 1985), hlm. 139

[9] Franz Magnis-Suseno, Etika Jawa, hlm. 140

[10] Franz Magnis-Suseno, Etika Jawa, hlm. 141

[11] E. Martasudjita, Pelayanan yang Murah Hati, hlm. 52

[12] E. Martasudjita, Pelayanan yang Murah Hati, hlm. 53-54

[13] Robertus Rubiyatmoko, “Gereja yang Murah Hati” dalam E. Maratasudjita (ed.), Gereja yang Melayani dengan Rendah Hati, (Yogyakarta: Kanisius, 2009), hlm. 56

[14] I. W. J. Hendriks, “Memimpin dengan Hati” dalam Jurnal Teologi F-Bta, No. 2/2014

401 total views, 4 views today

Media Center Gereja Protestan Maluku

Media Center GPM Merupakan Sarana Mengkomunikasikan Informasi Tentang Gereja Protestan Maluku Yang Tersebar di Maluku dan Maluku Utara, Bersifat Informatif, Serta Memberikan Pelayanan Pada Publik. Dapat Menghubungi Kami, Mengirim Informasi (berita) Melalui Email : mediacenter.gpm@gmail.com