Mengapungkan Skema Layanan Kesehatan Pendeta GPM

Number of View: 0

Belasan pendeta dari Klasis GPM pulau Ambon terlihat sibuk di beberapa ruang periksa. Ada rasa senang bercampur sedih melihat kakak-kakak pendeta antri di rumah sakit PGI Cikini Jakarta kemarin (15/10/2018). Senang karena semakin terbuka akses dan dukungan untuk menjalani proses pemeriksaan kesehatan di rumah sakit yang relatif maju dengan sarana prasarana medis serta standar pelayanan prima. Sesuatu yang mungkin dulu, masih sulit dibayangkan terjadi bagi para pendeta yang melayani di berbagai pelosok Gereja Protestan Maluku (GPM). Rasa sedih terbersit ketika membayangkan rekan-rekan pendeta lainnya yang juga sedang bergumul dengan problem kesehatan yang tidak ringan di lapangan. Bagaimana agar terbuka skema dan akses yang sama kepada para pendeta GPM yang tersebar dari Tifure di Maluku Utara hingga Ustutun Wetar di Maluku Barat Daya.

Beberapa waktu yang lalu saya mendampingi beberapa kakak/rekan pendeta yang dirawat di beberapa rumah sakit di Jakarta. Mereka bukan saja bergumul dengan kesakitan fisik yang mendera, tapi bergumul pula dengan pembiayaan yang tentu tidak murah. Demikian pula, beberapa kakak, yang secara rutin melakukan pemeriksaan medis, seperti Pdt Nick Rutumalessy, Ketua Klasis GPM Kota Ambon, “Kita sudah harus memikirkan skema pembiayaan dan pemeriksaan kesehatan rutin para pendeta. Dan untuk itu kita harus memikirkan sebuah badan yang menangani secara khusus” ungkap Bung Nicky, yang juga diamini Pdt Max Syauta, mantan Ketua Klasis Tanimbar Selatan yang kini Bendahara MPH Sinode GPM.

INISIATIF DARI TENGAH

Klasis GPM Pulau Ambon sejak tahun lalu (2017) sudah menganggarkan biaya pemeriksaan kesehatan (medical chek up) para pendeta. Walau mata anggaran ini belum terbaca pada jenis item pembelanjaan, tetapi inisiatif ini diambil sambil mengkomunikasikan substansinya kepada forum gerejawi yang diniatkan untuk membahas regulasi terkait. Hal ini disampaikan Ketua Klasis GPM Pulau Ambon, Pdt Riko Rikumahu dalam percakapan kemarin. Mantan Ketua Klasis Tanimbar Utara ini malah telah menyarankan hal yang sama untuk “yunior”nya Pdt Sammy Sahulata, yang kini menjadi Ketua Klasis Tanimbar Utara. Tentu dengan penyesuaian dengan konteks dan kondisi masing-masing Klasis. “Sebab tiap-tiap klasis memiliki kapasitas yang berbeda-beda, termasuk dalam hal keuangan” ungkap Pdt Rico yang sedang melanjutkan studi S2 di UKIM ini.

Saya melihat ada sebuah prakarsa desentral yang menarik dalam meng-address fenomena ini. Inisiatif-inisiatif positif dapat digerakan dari tengah (middle structure) yang kemudian bisa menjadi model (best practices) untuk Klasis lainnya dan kelembagaan secara menyeluruh. Dalam logika antropologi, fenomena ini dapat dimaknai sebagai proses inkorporasi gagasan dan tindakan. Bahwa aktor akan terhisab dalam struktur dan mendinamisir tindakan bersama secara terpola dan terlembagakan. Inkorporasi sebagai bagian dari alur proses transformasi sosial-budaya.

Melihat kakak-kakak pendeta yang datang melakukan MCU (Medical Chek Up) kemarin pagi membuka selubung harapan tentang layanan kesehatan bagi para pendeta yang makin tertingkatkan. “Hal ini agar kita dapat tahu kondisi kerentanan kesehatan rekan-rekan pendeta. Lalu bisa mempertimbangkan kebijakan yang peka terhadap kondisi tersebut” ungkap Pdt Rico sambil menegaskan bahwa ada korelasi antara kesehatan dan peningkatan kinerja para pendeta dalam pelayanan.

Fenomena ini sama sekali tidak bermaksud mengecilkan “spiritualitas klasik” tentang kuasa Tuhan Yesus sebagai Tabib Yang Agung. Iman disertai perbuatan. Fides quarens intelectum, iman yang mencari pengetahuan. Dalam artinya yang lentur, proses pemeriksaan kesehatan rutin ini dapat pula dimaknai sebagai proses pertanggungjawaban iman. Ini sama sekali bukan berarti merelatifkan kuasa Tuhan yang sanggup menyembuhkan para hamba-hamba-Nya.

Dunia sudah berubah, demikian pula geografi pelayanan GPM mengalamai perkembangan dari waktu ke waktu. Setelah membenahi problem keuangan atau gaji para pendeta sejak tahun 2007 melalui program sentralisasi keuangan (70:30) maka salah satu agenda yang dapat dipikirkan ke depan, minimal melalui Sidang MPL Sinode 2018 di Saumlaki nanti, adalah membicarakan dan memutuskan Standar Skema Layanan Kesehatan Pendeta GPM. Moga-moga seberkas kisah kakak-kakak pendeta pada suatu pagi di RS PGI Cikini itu bisa menjadi “jendela kecil” untuk melihat suatu perubahan dan kemajuan baru terkait layanan kesehatan para hamba dan pelayan Tuhan di gereja laut pulau yang kita cintai bersama ini. Tuhan memberkati.

1,706 total views, 1 views today

Respond For " Mengapungkan Skema Layanan Kesehatan Pendeta GPM "

Sorry, comments are closed for this post.