Dirgahayu Laki-laki GPM

Number of View: 0

LAKI-LAKI JUGA PUNYA PERASAAN

Pengantar

Menyongsong Hari Ulang Tahun Wadah Pelayanan Laki-laki GPM ke-32 yang jatuh tanggal 24 September 2018, saya berkesempatan melakukan wawancara singkat dengan Pdt Agus Hetharion selaku Kepala Biro Kemitraan Laki-Laki dan Perempuan Sinode GPM. Wawancara dilakukan Jakarta di sela-sela acara Diskusi Tematik dalam rangkaian Syukur HUT ke-83 GPM yang diselenggarakan oleh Badan Perwakilan GPM di Jakarta, tanggal 22 September 2018. Berikut petikannya.

Rudy Rahabeat (RR): Dalam rangka merayakan Hari Ulang Tahun Wadah Pelayanan Laki-laki GPM ke-32, selaku Kepala Biro Kemitraan Sinode GPM apa yang hendak dikatakan?

Pdt Agus Hetharion (AH): Pertama-tama saya mengajak kita semua selaku laki-laki GPM, dan warga GPM pada umumnya memanjatkan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus Sang Kepala Gereja, karena oleh anugerahnya telah menganugerahkan setahun usia bertambah bagi Wadah Pelayanan Laki-laki (WPL) GPM. Wadah ini menjadi tempat bersekutu dan membangun kerjasama di antara laki-laki GPM dalam melaksanakan tugas-tugas pemberitaan Injil dalam berbagai aspek kehidupan. Kedua, saya mengajak kita semua menjadikan Wadah Pelayanan Laki-laki GPM sebagai kekuatan penggerak dalam optimalisasi potensi warga gereja khususnya laki-laki guna membangun kehidupan yang lebih baik. Tentu saja dengan kesadaran bahwa laki-laki tidak bisa bekerja sendiri, tapi mesti bermitra dengan perempuan juga.

RR: Apa saja persoalan-persoalan yang masih digumuli WPL GPM hingga saat ini?

AH: Dari evaluasi yang kami lakukan masalah klasik yang dihadapi laki-laki GPM antara lain tingkat partisipasi dalam ibadah-ibadah yang belum tinggi. Padahal berbagai upaya sudah dilakukan. Selain itu budaya patriakhi masih cukup kuat hingga saat ini. Sehingga walaupun kita sudah berjalan dalam visi “kemitraan” laki-laki dan perempuan tapi budaya patriakhi itu masih kuat. Salah satu contohnya, dalam kasus ketika keluarga Kristen menghadapi masalah sampai pada perceraian. Maka umumnya soalnya ada pada laki-laki. Selain itu problem jaman sekarang dunia kita makin individualis, konsumtif dan hedonis. Laki-laki juga terseret dalam arus ini, laki-laki makin mencari kenikmatan tersebut. Ini yang menjadi pergumulan kita saat ini, selain tentu saja berbagai persoalan lainnya.

RR: Apa tema perayaan HUT WPL GPM saat ini ada apa makna pilihan tema tersebut?

AH: Adapun tema perayaan HUT WPL GPM adalah “Berlakulah Sebagai Laki-laki yang Takut Tuhan”. Ada beberapa hal yang ditekankan di sini antara lain panggilan kepada laki-laki agar bergabung dalam persekutuan ibadah. Laki-laki mesti makin dengan Tuhan dan takut Tuhan. Kita mendorong liturgi yang lebih terbuka, adanya pembaruan liturgi yang sesuai dengan dunia laki-laki. Laki-laki ini khan tidak suka ibadah yang terlalu monoton. Laki-laki lebih suka banyak dialog. ia juga menyukai tempat ibadah yang terbuka, tidak terlalu serimonial. Selain itu, persoalan laki-laki di gereja mesti didudukan sebagai persoalan bersama. Tidak bisa saling menyalahkan. Mengapa laki-laki tidak ke ibadah tapi perempuan rajin ke ibadah. Salahnya dimana? Aspek-aspek ini yang mesti dibicarakan. Problem laki-laki adalah problem kita semua. Misalnya jika bilang lelaki suka melakukan kekerasan, maka kita lihat lagi apakah kita sudah menggunakan. Misalnya Amsal bilang; “ tidak bisa tinggal serumah dengan perempuan yang cerewet banya, lebe bae tinggal di jalan”. Ini contoh saja.

RR: Apakah struktur Biro Kemitraan ini sudah relevan ataukah kembali ke pola sebelumnya, di mana biro laki-laki dan perempuan dipisah?

AH: Saya sudah sudah lima (5) tahun melayani di biro ini, mulai dari kepala biro laki-laki hingga kepala biro  kemitraan. Menurut saya penamaan biro Kemitraan ini sudah tepat. Ada banyak hal positif dibalik penamaan ini. Melalui semangat kemitraan ini, etos kerjasama laki-laki dan perempuan ditingkatkan. Amatan saya, laki-laki itu memiliki tanggungjawab sosial paling kuat. Bahkan mereka lebih kompak. Ambil contoh, jika di jemaat-jemaat melakukan bedah rumah, bedah kampung, sumur bor, jalan setapak, tingkat partisipasi laki-laki sangat tinggi. Untuk hal ini mereka punya potensi keluar, uang, waktu maupun tenaga. Sebaliknya, perempuan banyak ide, tapi eksekusi lemah. Misalnya, rapat sampai 4 jam tapi tidak dapat titik temu. Hal lain yang positif dari “Kemitraan” ini adalah saling mendengar. Apa yang merupakan merupakan kegelisahan perempuan di sampaikan kepada laki-laki. Misalnya melalui program “Bastori”. Mereka duduk bicara sama-sama. Dan jangan dikira laki-laki tidak mendengar dan memahami suara perempuan. Laki-laki juga punya perasaan. Yang penting persoalan-persoalan dikomunikasikan dengan baik, maka pasti ada saling pengertian dan saling membangun. Sekali lagi, laki-laki juga punya perasaan, bukan hanya pe-rasio-an saja.

Penutup

Pdt Agus Hetharion akan menghadiri Perayaan HUT WPL GPM di lingkup Klasis GPM Pulau Ambon Timur yang berlangsung di Jemaat GPM Waringin Pintu Halong. Perayaan tersebut akan dihadiri kurang lebih 600 orang yang terdiri dari utusan dari 30 Jemaat di Klasis Pulau Ambon Timur serta undangan lainnya. Klasis Pulau Ambon Timur sendiri dipimpin oleh Pdt Ikhe Wattimury, S.Th sebagai Ketua Klasis sedangkan Sekretaris Klasisnya, Pdt Daniel Wattimanela, M.Si. Dirgahayu WPL GPM ke-32. Tuhan memberkati ! (RR)

 

Penulis : Pdt Rudi Rahabeat

(Wawancara Singkat Dengan Kepala Biro Kemitraan GPM)

4,041 total views, 3 views today