Setelah Kunjungan GPIB Ke GPM.

Number of View: 0

Sebuah Opini ;

———–

Tidak tanggung-tanggung, puluhan orang presbiter Gereja Protestan Indonesia di Bagian Barat (GPIB) melakukan kunjungan ke Gereja Protestan Maluku (GPM). Kedua gereja ini “bersaudara” dalam asuhan Ibu Gereja Protetan Indonesia saat itu. Sebagian besar umat dan pelayan GPIB juga berasal dari Maluku, selain Manado, dan Timor serta suku lainnya di Indonesia.

Pertanyaannya, apa yang menarik dan mendasar sehingga saudara-saudari kita mau datang ke tanah Maluku ? Khususnya pulau Ambon dan pulau Seram (Masohi)? Apa yang hendak mereka capai dalam kunjungan yang tentu tak lepas dari kerinduan menginjakan kaki di tanah pusaka, bagi mereka yang merupakan “Ambon Kaart” yang lahir dan besar di luar Ambon? Tentu saja, kehadiran mereka sudah merupakan sebuah berkah tersendiri. Demikian pula ketika terjadi proses saling belajar dan berbagi antar gereja, bahkan dengan segmen plural masyarakat Maluku, di antaranya saudara-saudara Muslim dan Katolik.

SALING BELAJAR DAN BERBAGI

“Terima kasih banyak su boleh belajar dari Maluku, merekonstruksi ekklesiologi pasca konflik melalui alamnya yang kaya. Basodara di Ambon, TNS.p. Seram, Majelis Sinode GPM, MUI Prov Maluku. Wakil Bupati Maluku Tengah, Uskup Mandagi, UKIM dan IAKN Ambon. Bersyukur untuk pengalaman yang luar biasa bertemu dengan banyak agency damai di ruang belajar Maluku” demikian status di laman fesbuk Pdt Dr Marggie De-Wanna-Ririhena, 4 September 2018.

Status ini sekaligus meringkas lokasi-lokasi yang dikunjungi rombangan GPIB saat melakukan kunjungan di Maluku. Ada perjumpaan lintas agama dan lintas institusi di sana. Kunjungan ke Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maluku secara simbolik hendak menunjukan keterbukaan untuk saling berjumpa lintas agama, dan kerinduan untuk saling belajar dari khasanah agama masing-masing. Demikian pula perjumpaan dengan Uskup Mandagi, selaku Uskup Amboina, menegaskan bahwa Protestan-Katolik itu bersaudara, adik-kaka, dan oleh karena itu mesti saling bakudapa (berjumpa). Memang relasi dan kerjasama antar-agama dan antar-gereja merupakan sesuatu yang fundamental dalam konteks Indonesia yang ber-Bhineka Tungga Ika ini. Dan Maluku adalah miniatur keragaman itu.

Kunjungan ke dua institusi pendidikan Kristen di Ambon yakni Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) dan Istitut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon hendak menegaskan bahwa gereja membutuhkan aliran gagasan dan pemikiran segar untuk mendinamisir pelayanan. Kampus sebagai pusat ilmu pengetahuan diharapkan dapat mendistribusikan pengetahuan yang berbobot demi akselerasi kehidupan bergereja dan bermasyarakat. Dengan begitu, terjadi saling melengkapi antara dunia kampus dan dunia praksis bergereja. Apakah kunjungan ke kedua kampus itu memperoleh gagasan-gagasan segar dan bernas? Biarlah para peserta yang merefleksikannya. Tapi yang pasti, secara simbolik kunjungan tersebut pasti bermakna.

MERAWAT SEMESTA KEHIDUPAN

“Makanan yang juga membuat beta tumbuh sebagai anak Maluku. Papeda kuah kuning bumbu kenari. Ikan bobara. Sayur bunga papaya. Jus buah gandaria” status fesbuk Pdt Dr Otje Hehahanussa, tertanggal 30 Agustus 2018 bikin penasaran. Belum lagi keesokan harinya muncul status “Jalan pagi, menikmati bukit dan lembah, mensyukuri segala pemberian Tuhan. Sungguh sesuatu yang membahagiakan. Menikmati suasana pedesaan di desa Waru dan desa Tone Tanah, Kecamatan Teon Nila Serua (TNS)”. Kedua status ini tentu dilampiri foto papeda di sempe, ikan kuah kuning dan panorama alam Nusa Ina (Seram) yang indah.

Lalu keesokan harinya lagi, tepatnya hari Minggu 2 September 2018 di gereja Mahanaim Klasis GPM Masohi, tersiarlah khotbah dan kesaksian yang menguatkan hati. Sepotongnya begini “Orang Maluku itu tidak hanya untuk dirinya sendiri. Mereka hidup dengan spirit mau berbagi dengan yang lain. Berbagi dengan yang lain itu termasuk dengan tumbuhan dan binatang, termasuk merawat dan memberi kehidupan bagi yang lain. Sasi sebagai Kebijaksanaan Lokal mengajarkan orang Maluku tentang itu, bahwa hidup dan merawat kehidupan itu bukan hanya hak manusia, tetapi binatang dan tumbuhan serta ciptaan lain juga. Karena itu jangan hidup hanya untuk memuaskan diri sendiri dan mengorbankan orang lain demi memuaskan diri sendiri”, tulisan dosen sejarah pada Fakultas Teologi UKDW Yogyakarta ini.

Terhadap semua itu, Pdt Berty Joris, pendeta Jemaat Masohi memberi apresasi, bukan saja terhadap isi khotbah, tapi juga solidaritas Yayasan Diakonia GPIB yang melakukan bakti sosial di Masohi. Tak tanggung-tanggung kandidat magister teologi UKIM ini memberi judul status fesbuknya “ Mengukir Sejarah di Mahanaim” (2 September 2018).

TRANSFORMASI TEOLOGI DAN EKLESIOLOGI

Kunjungan Departemen Teologi GPIB di Maluku ini tentu memiliki banyak kesan dan pesan pembelajaran. Salah satunya terkait tema transformasi teologi dan eklesiologi. Bahwa sejak beberapa tahun terakhir ini GPM mengembangkan eklesiologi Gereja Orang Basudara (GOB) yang memberi aksentuasi tentang pentingnya merajut kebersamaan lintas agama dan budaya. Bahwa “katong samua basudara” walau beda suku dan agama. Bahwa perbedaan itu anugerah dan tak perlu ditangisi. GPM belajar dari sejarahnya, khususnya sejarah konflik 1999 yang bernuansa agama itu. GPM hendak menegaskan diri sebagai gereja yang terbuka dan dialogis.

Di lain sisi, GPIB juga terus melakukan tranformasi teologi dan eklesiologinya. Eklesiologi Multikultural adalah sebuah tawaran yang diajukan Pdt Dr Margie Ririhena-De Wanna seperti tertuang dalam bukunya “Merajut Identitas Eklesiologi di Seputar Konflik Lombok (BPK Gunung Mulia:2016). Pada alinea terakhir bukunya Pdt Mergie menulis begini “Dengan demikian, arah transformasi ekklesiologinya kiranya bergerak dalam perspektif ini: gereja menjadi sebuah koinonia yang terbuka, berjiwakan kesanggarahan yang membuat pengalaman rekonsiliasi menjadi pengalaman hariannya, dalam pujian, dalam liturgy, dan dalam kesaksiannya. Tampaknya arah gereja di Nusantara pun juga seperti itu” (hlm.262).

Semoga perjumpaan dua “gereja bersaudara” itu makin menumbuhkan optimisme dan harapan untuk terus bersaksi dan melayani di bumi Indonesia. Agar gereja-gereja di Indonesia makin fungsional dan terlibat kreatif membangun persaudaraan sejati melintasi suku, agama, ras dan status sosial. Agar gereja-gereja terus membangun persaudaraan dan persahabatan yang memerdekakan. Dengan begitu, kita bisa sama-sama berrnyanyi “Aku Memuji KebesaranMu”. Jelang 83 tahun Gereja Protestan Maluku, 6 September 2018. Dirgahayu gerejaku, GPM !

 

Penulis : Pdt. Rudy Rahabeat, M.Hum - Pendeta Gereja Protestan Maluku

3,662 total views, 1 views today

Media Center Gereja Protestan Maluku

Media Center GPM Merupakan Sarana Mengkomunikasikan Informasi Tentang Gereja Protestan Maluku Yang Tersebar di Maluku dan Maluku Utara, Bersifat Informatif, Serta Memberikan Pelayanan Pada Publik. Dapat Menghubungi Kami, Mengirim Informasi (berita) Melalui Email : mediacenter.gpm@gmail.com