Tionghoa Merawat KeIndonesiaan

Number of View: 0
IL News 008 2018

Setahun setelah Sumpah Pemuda tahun 1928, Liem Koen Hian mendirikan koran Sin Tit Po, serta giat mengajak keturunan Tionghoa turut berjuang sebagai bangsa Indonesia bagi tanah air Indonesia. Amir Syarifuddin, Muhammad Yamin, dan Sanusi Pane termasuk rekan-rekan seperjuangannya. Seperti kata Amir, kebangsaan tidak ditentukan oleh darah atau kulit atau rupa wajah, tapi oleh tujuan dan keinginan yang sama untuk menjadi satu bangsa.

Demikian sekelumit dari ceramah kebangsaan Matius Ho, direktur eksekutif Institut Leimena, dalam perayaan HUT ke-89 CFMU (Chinese Foreign Missionary Union) pada tanggal 6 April 2018 di Sendawar, Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Acara tersebut dihadiri para pimpinan dan anggota jemaat dari tiga sinode gereja yang dirintis oleh pelayanan CFMU, yakni GKKA (Gereja Kebangunan Kalam Allah), GEPEKRIS (Gereja Persekutan Kristen Indonesia), dan GPMII (Gereja Persekutuan Misi Injil Indonesia). Sesi panel bersama Pdt. Tjia Ing Kie, ketua umum sinode GKKA, tersebut dimoderatori oleh Tras Satriawarman, setelah diawali oleh sesi ceramah Bupati Kutai Barat, FX. Yapan, SH.

4,010 total views, 1 views today

Institut Leimena

Institut Leimena adalah lembaga non profit dengan misi: “Mengembangkan peradaban Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, dan peradaban dunia yang menjunjung tinggi harkat manusia, melalui kerjasama dalam masyarakat yang majemuk.” Kami percaya bahwa nilai-nilai keagamaan merupakan bagian integral sebagai landasan moral, etik, dan spiritual untuk membangun bangsa dan negara Indonesia serta dunia yang lebih baik. Dalam semangat kebersamaan dan kemajemukan, kami berusaha agar para pemimpin agama bersama dengan para pemimpin publik, baik di Indonesia maupun di dunia, dapat bekerjasama dalam mengisi landasan moral, etik dan spiritual tersebut. Hal ini dilakukan dengan senantiasa menghormati dan menjaga keberagaman dan kesetaraan dalam masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.