Ruhulessin : ” Belajar Dari Salib Untuk Menjadi Teladan”

Number of View: 0

imageLazimnya pelaksanaan persidangan gereja di GPM, maka Persidangan ke-26 Klasis GPM Ternate, juga dilaksanakan melalui ibadah Minggu (23/3) di Gereja Ayam, Ternate.

Ibadah dilayani oleh Vic. Beatriks Soumeru,M.Si (Vicaris Jemaat GPM Mayau Batang Dua), dan khotbah dilayaniKetua Sinode GPM, Pdt. DR. John Chr. Ruhulessin, M.Si.

Berikut ini kutipan khotbah Pdt. DR. John Chr. Ruhulessin, yang bersumber pada 1 Petrus 2:21-25:

GEREJA MENJADI TELADAN

Esensi menjadi teladan ialah menjadi berguna. Ruhulessin mencontohkan pada moto AMGPM, “Kamu adalah garam dan terang dunia”, bahwa moto itu secara sederhana berarti orang kristen harus menjadi berguna. Moto itu diserukan Yesus kepada para murid, dengan harapan mereka menjadi berguna bagi dunia. Secara spesifik, moto itu pun ditujukan kepada semua kita, orang tua, pendeta, majelis, pemimpin,suami, isteri supaya kita dapat menjadi teladan.

Lebih lanjut dikhotbahkan bahwa, keteladanan semakin penting sebab dewasa ini terjadi krisis keteladanan.

Disampaikan pula bahwa, keteladanan itu perlu sebab orang-orang Kristen dipanggil menjadi berkat. Namun ada pula yang menjadi kutuk di mana-mana, misalnya dengan jalan korupsi, sombong, suka pada kekerasan, makanya kitabukannya menjadi teladan tetapi malah menjadi sorotan di mana-mana. Karena itu memang kita tidak usah malu kalau kita memang menjadi sorotan. Justeru di situlah pointnya untuk kita belajar mengapa kita harus menjadi baik.

MAKNA PENDERITAAN YESUS

Menurut Ruhulessin, teks 1 Petrus 2:21-25 membelajarkan bagaimana kita menjadikan Yesus sebagai teladan dengan belajar dari penderitaanNya. Ruhulessin mengajukan beberapa pertanyaan retoris, yakni “kalau kita hidup dengan sukacita mengapa harus menderita? Kalau ada yang kaya mengapa harus miskin? Apa makna penderitaan di sini? Apa makna salib? Apa yang dibayangkan kalau kita melihat salib?

Disebutnya, ada banyak cara pandang tentang Salib atau penyaliban. Orang-orang Yahudi menuduh Yesus bodoh karena mau disalibkan padahal dia punya kehebatan untuk melawan. Ia memiliki kuasa untuk menyerukan pemberontakan melawan pemimpin Romawi kala itu. Itulah cara pandang Yahudi. Berbeda dari itu, menurut orang-orangYunani, jalan salib itu irasional, tidak logis, tidak masuk akal. Mengapa Yesus memilih jalan yang tidak masuk akal itu?

Dari dua cara pandang yang berbeda itu kita dapat memetik kesimpulan bahwa sering orang memaksa Allah untuk memilih cara yang sesuai menurut manusia. PenderitaanYesus memperlihatkan bahwa Dia memahami salib dengancaraNya sendiri. Mengapa jalan itu yang Dia pilih? Ia memilih salib yang jelas-jelas bukan simbol dari kemegahan. Di dalam cara pandang Allah salib adalah simbolpengorbanan sukarela dan jujur. Allah memikul dan menanggung seluruh dosa kita. Ia memilih jalan kehinaan, bukan jalan arogansi. Sehingga yang kita lihat dari salib adalah kasih Allah yang sejati.

Pada salib seperti itulah, kita dituntut untuk mengasihi meskipun dia musuh atau lawan sekalipun. Di situlah makna salib sebagai simbol pengampunan, pengorbanan sukarela dan jujur, dan kasih yang sempurna.

 ETIKA KETELADANAN YESUS

Surat 1 Petrus 2:21-25 mempresentasi etika Yesus sebagai suatu etika keteladanan. Demikian dilanjutkan Ruhulessin dalam khotbahnya. Dengan gaya yang berapi-api diselingi guyonan-guyonan kecil, Ruhulessin menegaskan bahwa,dalam penderitaanNya, Yesus memamerkan suatu sikap etis yang menunjuk pada keutamaanNya. Dia dicaci tapi dia tidak membalas dengan caci maki. Dia diancam tetapi Iatidak membalas. Itu menarik, sebagai bukti bahwa pada akhirnya keselamatan yang telah kita terima melalui penyaliban Yesus bersumber dari seluruh pengorbanan diri Allah. Allah mengosongkan dirinya utk menyelamatkan kita.

Maka sebagai gereja kita harus berjalan dalam jejakNya.Jejak yang mengandung pemulihan, menuju pada hubunganyang dibarui oleh keselamatan. Karena itu kita mestimenjadi murid dengan memiliki spiritualitas Yesus yaitu spiritualitas rela berkorban untuk keslamatan manusia.

Dengan guyonan kecil, Ruhulessin mengajukan beberapa model sikap yang lazim dimiliki orang-orang Timur.

“Kalau Alkitab mengatakan jika orang menampar pipimu yang kiri, berilah kepadanya yang kanan, saya kira di Ternate ini kita yang orang Batak, Ambon, Halmahera, Menado dan Papua akan bilang “ngana tampar pipi kiri, kitalot ngana pipi kanan”, canda Ruhulessin dihujani gaduh tawa jemaat.

Menurutnya, keteladanan Yesus yang tidak melawan sama sekali bukan artinya kita bermental budak, lembek, tetapimengalah karena kita mendapat kasih Allah. Yesus memberi gaya hidup atau sikap etik yang tidak didapati di mana pun yaitu mengampuni.

“Apakah masih ada pengampunan di antara kita. Dalam banyak hal, persekutuan masyarakat dan rumah tangga kita terancam karena kita tidak bisa saling mengampuni. “Ngana pung kameja tadi bobou laeng skarang bobou laeng. Ngana lengso tadi merah, skarang putih, ngana dapa lengso darimana nih?”, mungkin begitu yang biasa terjadi di antara suami isteri yang jika tidak dibicarakan secara baik-baik akan menimbulkan keretakan.

Ada pula contoh lain, yakni saat anak-anak kita melawan, kita tidak menegur mereka dengan cara yang lembut melainkan dengan kekerasan, tambahnya. Menurut Ruhulessin, hal itu dibentuk oleh watak kasar yang sering mewarnai komunikasi kita. Orang Maluku suka menggunakan konotasi kasar seperti: “bunuh aer, bunuh lampu, kas mati HP” padahal maksudnya ialah “tutup keran air, padamkan lampu, atau off-kan HP” . Nah di sini kita memerlukan model komunikasi damai, komunikasi orang-orang berwatak cool yaitu watak kesantunan, elegan, enak.

Nah, model itu pun kita dapati dari penyaliban Yesus, tatkala Ia bersedia mengampuni seorang penyamun di sampingNya, “hari ini engkau bersama Aku di dalam Firdaus”.

Dari situ, orang-orang Kristen harus menjadikan salib itu pesona. Apa yg menarik/mempesona dari penyaliban Yesus? Yaitu dia berkurban meskipun dia tidak melakukan kesalahan. Itu tidak dibuat oleh guru dan nabi siapa pun.Dan bahwa tidak semua orang mempunyai Yesus yang mati di kayu Salib, dan bangkit.

Mengakhiri khotbahnya, Ruhulessin mengajak Jemaat GPM di Tifure, Mayau dan Ternate untuk tetap melakukan kebenaran dengan menjadi orang yang mengampuni, membawa damai ketika dilecehkan, dicaci. Saya rasa hanya karena itu Yesus mati dan memberi kita hidup. Hidup di Ternate saudara-saudara harus mempesonakan dengan menjadi santun, cool betul, menampilkan gaya hidup yg berbeda dari orang lain”, pungkasnya.(Eltom)

17,680 total views, 4 views today

Media Center Gereja Protestan Maluku

Media Center GPM Merupakan Sarana Mengkomunikasikan Informasi Tentang Gereja Protestan Maluku Yang Tersebar di Maluku dan Maluku Utara, Bersifat Informatif, Serta Memberikan Pelayanan Pada Publik. Dapat Menghubungi Kami, Mengirim Informasi (berita) Melalui Email : mediacenter.gpm@gmail.com

1,192 thoughts on “Ruhulessin : ” Belajar Dari Salib Untuk Menjadi Teladan”