Home / Opini / Setelah Studi Institut Persetia di Ambon

Setelah Studi Institut Persetia di Ambon

Number of View: 0

Dengan tema “Dinamika Penafsiran Alkitab” studi institut Persekutuan Sekolah-Sekolah Teologi di Indonesia (PERSETIA) berlangsung di Ambon (3-5 Juli 2018). Ketua Panitia Pdt Dr Jafet Damamain, ahli biblika Perjanjian Lama, yang juga Rektor UKIM Ambon itu mengucapkan Selamat Datang kepada seluruh peserta, dengan senyum merekah. Saat itu hujan masih membasahi kota Ambon. (tulisan kecil ini tak berpretensi berlebih, selain bermaksud membuka diskusi dinamis untuk saling kolaborasi demi kebaikan bersama)

KEKHASAN TEOLOGI UKIM

Dulu waktu menjadi mahasiswa fakultas teologi UKIM tahun 1993, ada semacam cakap-cakap tidak resmi di luar ruang kuliah. “Apa keunggulan dan kekhasan fakultas teologi UKIM Ambon”? Segera saja terdengar jawab – dengan bisik-bisik, tanpa berisik – “kita kuat di Biblika”. Pernyataan ini biasanya dengan menyertakan beberapa nama. Dr Arnold Radjawane, Dr Broery Hendriks, Dr Etha Ririmasse, Dr H Talaway, termasuk kian ke sini, Dr Jafet Damamain. Dr Radjawane misalnya, merupakan “pakar Deutronomi” yang menimbah ilmu langsung dari ahlinya, Prof Martin Noth di Jerman. Para dosen biblika yang lain belajar dari para biblikus STT Jakarta. Kemudian dalam perkembangan selanjutnya yang menimbah ilmu tafsir dari UKDW Yogyakarta, dengan Prof Gerrith Singgih dan Dr Robert Setio sebagai sokogurunya. Pada umumnya rezim penafsiran Alkitkab yang diperkenalkan adalah “historis kritis”, dengan kata kunci mencari “Sitz im leben”, konteks teks, untuk menemukan inti berita dan atau berita inti.

Dalam perkembangan ke sini, beberapa dosen biblika Fakultas Teologi UKIM melanjutkan studi di UKDW Yogyakarta. Sebut saja Pdt Dr (cand.) Ikhe Hukubun (PB), Pdt Desy Tuasela-Kelwulan (PL), Pdt Dr (cand.) Rie Apituley-Kalay, dengan pengecualian Pdt Yanes Parihala (PL) yang melanjutkan studi S2 di STT Jakarta. Pdt Parihala, akhir-akhir ini memperkenalkan tafsir pasca-kolonial dan lintas budaya, sedang para alumni UKDW terkenal dengan tafsir/teologi kontekstualnya. Tentu melalui Pdt Dr Damamain yang menulis disertasi tentang Kitab Ayub, dan Pdt Ikhe Hukubun, mulai diperkenalkan metode tafsir naratif, retorik dan ideologi, walau dominasi tafsir historis kritis, masih merajai jagad tafsir, termasuk di kalangan pendeta-pendeta GPM, termasuk pada materi khotbah LPJ.

Lalu apa kaitan rezim tafsir di kampus dan realitas di “kampung”/ jemaat-jemaat?

MELAMPAUI PERANGKAP DIKOTOMI DAN BINARISME

Ilmu terus berubah dan berkembang, termasuk ilmu tafsir. Sudah tidak zamannya lagu berdiam di kotak masing-masing. Mesti keluar dari kotak (out of the box), saling menyelami, menyalami dan bersinergi serta kolaborasi. Ini rumus dan menu untuk membangun kehidupan di kekinian, termasuk dalam hal ilmu pengetahuan, pun ilmu tafsir. Kategori rumpun ilmu (biblika, sistematika, praktika, dll) sudah tidak penad lagi. Sebab kategori ini bisa menjebak dan memerangkap orang untuk puas dengan “diri sendiri”, ilmu sendiri, metode tafsir sendiri, tanpa berdialog apalagi berkolaborasi dengan “yang lain” termasuk para penafsir di “lapangan” (pendeta dan umat).

Kegiatan studi Institut Persetia di Aula UKIM di Ambon, foto oleh Steve Gaspersz.

Ketika memposting warta tentang Studi Institut Persetia dengan tema yang disebutkan di atas, ragam tanggapan muncul. Saya kutip dua tanggapan. “Apa pun metode penafsiran menurut cara dan ilmu homelitika modern, tapi umat lebih menerima yang praktis dan realitis. Semakin banyak menafsir khotbah semakin membosankan sehingga orang menjadi bosan dan memilih siapa pekgkhotbah bukan metode. Metode hanya pelengkap untuk membantu (maaf kalau salah memberi masukan ini). Postingan dari akun Pdt Hanny Thenu.

Tanggapan lainnya lebih eskploratif. “Kadang-kadang teologi yang memukau Kristus justru lahir di luar mereka yang saban waktu hafal Taurat dan mengajarkannya. By the way, diharapkan supaya Persetia bisa sepakati tools yang benar untuk temukan “toologi perempuan Siro-Fenesia” di sekitarnya. Ancangan teologi jemaat” (Pdt Daniel Wattimanella).

Respons dua pendeta ini, mewakili suatu posisi tertentu, yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Untuk memahaminya perlu kerjasama, dialog dan kolaborasi. Apakah hal ini dipercakapkan pula di forum tersebut? Apakah harapan pendeta Daniel sudah ada jawabannya? (semoga ada peserta institute yang bisa share).

PENAFSIRAN DARI BAWAH

Tahun 1970-an para teolog Asia sudah bicara tentang perlunya dengan sungguh-sungguh mempertimbangkan konteks Asia dalam berteologi termasuk dalam penafsiran. Asas Kritis Asia dari Emerito Nacpil, Teologi Kerbau-nya Kosuke Koyama, teologi Minjung Korea, dll merupakan wujud kegelisahan dan kesadaran tersebut. Sejak saat itu sudah muncul kekritisan terhadap warisan teologi “Barat” yang rasional dan modernis, dan perlunya membaca tanda-tanda zaman Asia, yang berjuang untuk makin mandiri dan bermartabat. “Sebab Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan” termasuk menyelamatkan budaya-budaya dan peradaban (Asia).

Teologia prima dan teologi secunda seperti saling mengejar dominasi. Teologi prima yang bertumbuh dari kampung/jemaat, sering “kalah” oleh hegemoni teologi secunda yang datang dari kampus. Saya tentu tidak bermaksud terjebak dalam dokotomi dan binarisme, tapi fakta-fakta ini perlu diteliti lebih jauh. Apakah para teolog di kampus sudah benar-benar memahami (verstehen) nalar jemaat-jemaat atau masih terjadi hegemoni pengetahuan, termasuk dalam soal tafsir.

Di sini saya bisa memahami kegelisahan rekan Pdt Daniel Wattimenella yang terus menggemakan urgensi dan pentingnya teologi jemaat. Tentu ia tidak sedang meromantisir apalagi mempolitisir jemaat. Sebab ia juga menyandarkan pernyataannya pada argumentasi-argumentasi tertentu, termasuk ikhwal hermeneutik dan tafsir sosial. Meminjam kosakata Michel Foucault, ia sedang melakukan problematisasi – jika tidak hendak menggunakan palu Nietszche untuk mentransvaluasi/menjungkirbalikan dominasi posisi tertentu, yang bisa saja posisi tersebut sudah aus dan atau kadulwarsa.

Dalam kaitan ini, saya juga bisa menangkap kerisauan Pdt Reza Dandirwalu, dosen antropologi pada Fakultas Teologi UKIM, sebagaimana percakapan pribadi dengan koleganya Johan Saimima, dosen sejarah gereja, bahwa para penafsir mesti sadar bahwa masyarakat dan kebudayaan juga merupakan “teks” yang perlu ditafsir. Dan pekerjaan ini membutuhkan wawasan, skill dan metode serta kesungguhan dalam melakukan riset, apalagi etnografi.

Apa yang hendak saya katakan dengan “dinamika” aktor dalam ikhwal penafsiran itu? Bahwa kita perlu membuka diri untuk sebuah dialog yang fundamental soal tafsir dan juga teologi. Tidak sekedar kembali ke rezim tafsir “historis kritis”, atau kegenitan dan curhatan tentang dinamika tafsir jemaat. Kita butuh perubahan paradigma, butuh keberanian dan konsistensi, termasuk kerendahan hati epistemologis serta politik gereja untuk membuat tafsir dan teologi benar-benar relevan dan fungsional bagi jemaat atau umat dan masyarakat. Sebab seperti dikatakan Daniel J.Adams (1987) “teologi pun penafsiran itu sederhana saja, bagaimana membuat Firman Allah dipahami semua orang’.

 



Oleh : Rudy Rahabeat (Pendeta Gereja Protestan Maluku)

2,242 total views, 48 views today

About Haris Abra

Check Also

Setelah 50 Tahun Wadah Pelayanan Perempuan GPM

Number of View: 0  Wadah Pelayanan Perempuan (WPP) Gereja Protestan Maluku (GPM) merupakan wadah berhimpun, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WordPress spam blocked by CleanTalk.