Home / Opini / Setelah 68 Tahun PGI
MPH-PGI bersama pimpinan lembaga mitra, dan jemaat bersama-sama mengikuti Ibadah Syukur HUT ke-68 PGI. (Sumber pgi.or.id)

Setelah 68 Tahun PGI

Number of View: 0

Sejak berdiri 25 Mei 1950 Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) terus berupaya mewujudkan gereja yang esa di Indonesia, bukan saja dalam kata tapi lebih pada akta (action). Sudahkah hal itu terwujud di tengah dinamika bergereja, bermasyarakat dan berbangsa yang kian kompleks dan hari-hari ini diwarnai terror?

“Gereja-gereja mesti hadir dan memberi harapan kepada umat dan masyarakat. Di tengah ancaman dan fakta terror. Tokoh agama dan umat beragama dapat berbuat banyak misalnya melalui penyadaran, literasi, penggunaan media sosial secara positif dalam menyebarkan khabar damai dan sejuk” ungkap Brigjen Marthinus Hukom, direktur hukum pada BNPT itu. Lelaki asal Nusa Luat (Ambon) yang telah bertugas lebih dari dua puluh tahun di satuan anti-teror ini tetap optimis bahwa kondisi bangsa akan tetap baik, asalkan tokoh agama dan umat beragama terus merajut kebersamaan dan menopang  upaya-upaya pembangunan bangsa secara kritis, kreatif dan  berpengharapan. 

JALAN MASIH PANJANG

Apa yang dikutip di atas hanyalah salah satu dari beragam agenda gerakan oikumene gereja-gereja di Indonesia. Melalui media sosial kita bisa merekam beberapa harapan warga gereja terkait momentum hari ulang tahun PGI. “Agar PGI tetap menjadi sebuah gerakan yang dinamis dan lentur, tidak terjebak dalam organisasi yang kaku” demikian harapan seorang nitizen. Ada pula yang berharap PGI tidak lupa pada gerakan ugahari (kesederhanaan, kecukupan) yang digemakan beberapa waktu lalu. 

Di dalam ruang seminar yang dilakukan pada momentum HUT tersebut ada suara-suara yang mengajak gereja-gereja untuk terus menjadi saudara dan sahabat, dan tidak terjebak dalam narasi konflik. “Energi kita besar tapi kurang bersinergi’ ungkap seorang Bapak.  Ada pula yang memberi tantangan dan agenda agar kerjasama lintas agama, selain dengan NU dan Muhammadiyah tetapi juga dengan FPI, LDI, LDDI, mantan HTI, dll. Tentu ini membutuhkan waktu dan kesungguhan dan kebijaksanaan. 

Pada saat seminar berlangsung tersiar berita Undang-Undang Anti-Terorisme telah disahkan oleh DPR RI. Sebuah langkah serius negara untuk mencegah terjadinya tindakan terorisme yang mempuruk masa depan bangsa. “Kita setuju, tapi jangan sampai dipakai secara keliru, dan  melanggar Hak Asasi Manusia”, ungkap Berty Joris, Pendeta GPM yang hadir dalam seminar tersebut. 

Tentu agenda dan pergumulan PGI dan juga pergumulan bangsa bukan soal terror dan terorisme. Ada berbagai masalah sosial politik, ekonomi, budaya dan pertahanan yang menjadi tantangan bagi gereja-gereja di Indonesia. Seperti yang diungkapkan Zakaria Ngelow dalam bukunya Kekristenan dan Nasionalisme (2017) gereja-gereja di Indonesia, selain terpanggil untuk membangun kesatuan gereja-gereja tapi juga diutus untuk membangun bangsa dan kebangsaan. 

PIGURA KECIL BERHIAS KEMBANG

Di luar ruang seminar di lantai 5 kantor pusat PGI ada pajangan beberapa pigura foto para “tokoh gerakan oikumene”. Di antara deretan pigura itu ada foto salah seorang Pendeta GPM yang berkiprah di gerakan oikumene aras nasional maupun internasional. Foto itu adalah foto Pdt Dr Margaretha (Eta) Hendriks-Ririmasse, yang pernah menjadi vice moderator dewan gereja-gereja sedunia, selain sebagai salah satu ketua PGI. 

Pigura ini sekaligus membisiki sebuah kesaksian kecil bahwa dalam arak-arakan oukumene itu, Gereja Protestan Maluku (GPM) turut ambil bagian di dalamnya secara aktif dan dinamis. Saya mencari-cari foto Pdt Dr Arnold Nicolaas Radjawane, yang pernah menjadi salah satu ketua PGI, dan Pdt Dr JM Pattiasina, yang pernah menjadi Sekum PGI, tapi saya belum menemukannya. Saya justru berpapasan dengan kawan saya Pdt Henry Lokra yang merupakan utusan GPM dalam tanggungjawab sebagai Direktur Eksekutif  Bidang Keadilan dan Perdamaian PGI, yang beberapa waktu lalu tampil di TV One berkaitan dengan peristiwa Bom Surabaya.

Pigura kecil itu juga sedang membisiki agenda besar untuk terus terlibat dalam gerakan keesaan, berpartipasi dalam pembangunan bangsa dan negara, termasuk memperkuat jemaat-jemaat sebagai basis yang riil dari gerakan keesaan itu sendiri. 

Semoga melalui momentum 68 tahun PGI, gereja-gereja di Indonesia makin bersemangat dan bergairah untuk terus melaksanakan tugas pengutusan di tengah-tengah dunia ini, di tengah bangsa dan negara yakni dengan menghadirkan kasih, persaudaraan, pembebasan, keadilan dan keutuhan ciptaan. 

Teruslah mendayung di semesta kemungkinan !

 

Penulis : Rudy Rahabeat, Pendeta Gereja Protestan Maluku. 

  

1,766 total views, 4 views today

About Media Center Gereja Protestan Maluku

Media Center GPM Merupakan Sarana Mengkomunikasikan Informasi Tentang Gereja Protestan Maluku Yang Tersebar di Maluku dan Maluku Utara, Bersifat Informatif, Serta Memberikan Pelayanan Pada Publik. Dapat Menghubungi Kami, Mengirim Informasi (berita) Melalui Email : mediacenter.gpm@gmail.com

Check Also

Izinkan Aku Melakukan Hal-Hal Ini, Papa !

Number of View: 0Fiksi Alkitab 5 Hakim-Hakim 11:29-40 Dalam Perspektif Kesetaraan Gender I “Papa, bilakah …

2 comments

  1. Undeniably believe that that you stated. Your favorite justification appeared to be at the net the easiest thing to take into accout of. I say to you, I definitely get annoyed at the same time as folks consider issues that they just do not understand about. You controlled to hit the nail upon the highest as smartly as defined out the entire thing with no need side effect , folks could take a signal. Will likely be back to get more. Thanks




    0



    0
  2. Thanks for the blog.Really looking forward to read more. Much obliged.




    0



    0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WordPress spam blocked by CleanTalk.