Home / GPM Terkini / Sagu Makanan Sehat Melahirkan Solidaritas Bernilai Ekonomi
Menghadirkan masyarakat binaan yang berasal dari Negeri Waai, Negeri Suli, Negeri Rumah Tiga, dan Desa Poka

Sagu Makanan Sehat Melahirkan Solidaritas Bernilai Ekonomi

Number of View: 0
[Ambon, sinodegpm.org] – Pelatihan Pengolahan Makanan dan jajanan dari bahan dasar Sagu terus dilakukan oleh Gereja Protestan Maluku (GPM). Berdasarkan data yang diperoleh ternyata Sagu tidak hanya tumbuh di Maluku tetapi juga papua dan sulawesi.

Ketua Yayasan Sagu Salempeng GPM Pdt J E Mahupale, M.Sc Saat Memberikan Sambutan Singkat.

Yayasan ini bernama Sagu Salempeng yang berada pada komunitas salam (Islam) dan sarane (Kristen). Betapa pentingnya sagu bagi kehidupan kita, jangan hanya beras yang dapat dimakan secara rutin tetapi sagu kemudian dapat dikelola untuk menjadi makanan layak makan selain beras, sambutan singkat Pdt.J.E.Mahupale, M.Sc Ketua Yayasan Sagu Salempeng GPM.

Pelatihan Pengolahan Makanan dan jajanan dari bahan dasar Sagu berlangsung di kantor Yayasan Sagu Salempeng (YSS) GPM (Baileo Oikumene lantai 2 Ambon), yang menghadirkan masyarakat binaan yang berasal dari Negeri Waai, Negeri Suli, Negeri Rumah Tiga, dan Desa Poka.

YSS mengundang para fasilitator dari Universitas Pattimura ; Dr. Febby Polnaya SP dengan materi Pati Sagu: “Sifat, Prospek dan Tantangan Sebagai Bahan Baku Industri, dan Dr. Ester Kembauw SP yang memberikan pelatihan membuat kerupuk berbahan dasar sagu, Fasilitator dari GPM ; Pdt.D.Wattimanela, M.Si yang memberikan materi tentang Sagu dalan tinjauan Sosiologis.

fasilitator dari Universitas Pattimura ; Dr. Febby Polnaya SP dengan materi Pati Sagu: “Sifat, Prospek dan Tantangan Sebagai Bahan Baku Industri, dan Dr. Ester Kembauw SP yang memberikan pelatihan membuat kerupuk berbahan dasar sagu, Fasilitator dari GPM ; Pdt.D.Wattimanela, M.Si yang memberikan materi tentang Sagu dalan tinjauan Sosiologis.

Isu besar GPM adalah tentang kemiskinan, salah satu hal untuk menjawabnya adalah ketahanan pangan untuk masyarakat sekitar. Membuka jejaring dengan lembaga lain untuk dapat merespons isu tersebut. Menanamkan sejak dini pada kegiatan-kegiatan resmi diharapkan menggunakan pangan lokal sebagai konsumsi bersama.

Akankah pada waktunya Sagu dapat mengalahkan beras? Sagu banyak ditemukan pada wilayah kita. Sagu memiliki kandungan luar biasa dibandingkan beras. Gereja berharap pangan lokal dapat menjadi pola konsumsi kita sampai pada anak cucu. Kami berharap tidak hanya berhenti pada kegiatan pelatihan saja, tetapi melalui pelatihan tersebut kreatifitas pengolahan Sagu dengan berbagai varian dapat dijadikan sumber ekomoni keluarga, sebab sagu punya nilai ekonomi.

Pdt.N.Nahusona, Sekretaris Departemen Pemberdayaan Teologi dan Pembinaan Umat -PTPU) Mewakili majelis pekerja harian (MPH) Sinode GPM membuka dengan resmi kegiatan pelatihan pengolahan makanan dan jajanan dari bahan dasar sagu

Maluku memiliki generasi dan proses regenerasi terus berlangsung, Sagu adalah identitas makanan pokok orang Maluku, mengolah sagu dalam berbangai bentuk hingga dipasarkan dalam kemasan yang mengidetintaskan Maluku dengan sendirinya menanamkan nilai kecintaan dan kebanggaan kepada Maluku serta pangan lokal dengan sendirinya, ungkap Pdt.N.Nahusona, Sekretaris Departemen Pemberdayaan Teologi dan Pembinaan Umat -PTPU) Mewakili majelis pekerja harian (MPH) Sinode GPM membuka dengan resmi kegiatan pelatihan pengolahan makanan dan jajanan dari bahan dasar sagu.

Kandungan utama sagu disebut pati, Sagu memiliki fungsi sosial, ekonomi, bahkan memiliki fungsi adat dan budaya bagi masyarakat setempat. Dimana ada sagu disitu ada air. Sagu memiliki sumber karbohidrat paling tinggi dapat mencapai 15-40 ton pati kering/ha/tahun. Tetapi umur sagu 8 tahun baru dapat berproduksi merupakan panjang waktu hingga dapat memanen sagu.

Sudahkah kita ketahui tentang Sagu dan jenisnya ? Sagu dan jenisnya meliputi ; sagu molat (Metraxylon sagu Rootball), sagu Tuni (M.rumphii Martius), sagu ihur (M.sylvestre Martius), sagu makanaru (M. longispinum Martius), sagu duri rotan (M.micracanthum Matius), kata akademisi asal Univesitas Pattimura Doktor Febby J Polnaya dosen Fakultas Pertanian, saat menyajikan materi.

Sagu hanya berada terbesar dan sebarannya di Indonesia. Papua yang memiliki lahan terbesar jumlah sagu. Sagu dapat diolah menjadi makanan atau jajanan berupa sagu tumbu, sagu lempeng, sarut dan sanoli, papeda, bagea kerupuk, dan lainnya.

Menariknya Sagu selalu tumbuh dalam bentuk rumpun. Orang Maluku harus tumbuh seperti sagu, saat yang tua sudah ditebang maka yang muda siap bertumbuh. Kita tidak usah kuatir akan hutan sagu akan punah atau habis, karena faktanya tidak akan habis jika tidak ditebang atau alih fungsi, tambah Polnaya yang telah menjelaskan secara ilmiiah tentang esensi pohon sagu.

Bagaimana kita melihat konteks masyarakat yang memanfaatkan sagu sebagai sumber pangan. Saat ini banyak orang bicara soal konsumsi pangan lokal, mengapa ? sebab adanya arus balik manusia yang mengkonsumsi sagu, keladi yang sifatnya makanan tradisional. Secara gamblang sering kita mendengarkan makan demikian merupakan makanan orang miskin.

Namun oleh para medis justru dirujuk untuk mengkonsumsi makanan tersebut. Nilai kekayaan yang baik sesungguhnya terletak pada kesehatan karena jika manusia menjadi sehat maka kemampuan produksi manusia tinggi, urai Pdt.D.Wattimanela lulusan Sosiologi Agama UKSW dengan predikat terbaik yang kini menjadi Sekretaris Klasis GPM Pulau Ambon Timur.

Informasi kandungan sagu sebagai makanam sehat dengan komposisi dalam 100 gram sagu kering, karbohidrat yang terkandung didalamnya adalah 94 gram, protein 0,2 gram, serat makanan 0,5 gram, zat besi 1,2mg, dan kalsium sebanyak 10 mg. Dalam 100 gram sagu, terdapat 355 kalori.

Bagi saya Yayasan Sagu Salempeng GPM tidak meilihat sagu sebagai bahan konsumsi semata namun dapat bernilai ekonomi maka sagu dapat diolah untuk dipasarkan untuk menjadi modal produksi. Sagu memiliki nilai yang kuat tentang kebersamaan sebab mengolah sagu tidak bisa sendiri.

Sistim sosial masyarakat di Maluku sangat berkaitan erat dengan budaya setempat. Sebabnya jangan membiarkan sagu kita kering, namun harus dikelola. Karena sagu melahirkan solidaritas hidup bersama.

Pangan lokal menunjukan keraifan lokal Maluku dalam ikatan emosional kehiudpan. Sagu perlu dilestarikan sekreatif mungkin karena kedepan sagu akan memiliki nilai ekonomi yang mahal, tambah Wattimanela secara lugas dengan kemeja putihnya saat memberikan materi.

Menghadirkan masyarakat binaan yang berasal dari Negeri Waai, Negeri Suli, Negeri Rumah Tiga, dan Desa Poka

Usai mendapatkan materi dan pelatihan yang diselenggarakan Yayasan Sagu Salempeng GPM diharapkan peserta mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan tentang pembuatan aneka makanan dan jajanan berbahan dasar Sagu.

39,753 total views, 1,450 views today

About Media Center Gereja Protestan Maluku

Media Center GPM Merupakan Sarana Mengkomunikasikan Informasi Tentang Gereja Protestan Maluku Yang Tersebar di Maluku dan Maluku Utara, Bersifat Informatif, Serta Memberikan Pelayanan Pada Publik. Dapat Menghubungi Kami, Mengirim Informasi (berita) Melalui Email : mediacenter.gpm@gmail.com

Check Also

Pesan Gembala Dalam Rangka Pelaksanaan Pilkada Tahun 2018

Number of View: 0 21,529 total views, 186 views today Tweet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WordPress spam blocked by CleanTalk.