Setelah 50 Tahun Wadah Pelayanan Perempuan GPM

Number of View: 0

 

Wadah Pelayanan Perempuan (WPP) Gereja Protestan Maluku (GPM) merupakan wadah berhimpun, bersekutu dan melayani perempuan GPM. Perempuan itu bukan saja Mama/Ibu tapi juga gadis dan lajang. Mereka semua adalah potensi gereja yang dipanggil dan diutus melayani di gereja dan masyarakat.

Tanggal lima bulan lima tahun 2018, WPP GPM menggapai usia 50 tahun atau setengah abad. Usia yang makin matang. Pertanyaannya, dengan kematangan usia itu sudah seberapa besar perempuan GPM bertumbuh dan berbuah dalam lingkup personal, keluarga, gereja dan masyarakat? Apa saja prestasi yang telah ditorehkan oleh perempuan GPM yang aktif di WPP tersebut?

Adalah penting untuk membuat pertanyaan evaluatif, sekaligus proyeksi tentang apa yang sudah dan akan dilakukan setelah 50 tahun eksistensi WPP GPM.

ANALOGI BOTOL SETENGAH PENUH

Dari pada pesimistik dengan mengajak perempuan GPM segera keluar ke ruang publik, dengan asumsi seolah-olah selama ini perempuan GPM hanya berkutat di ruang domestik dan internal gereja, maka adalah lebih bijak mengatakan tentang perlunya optimalisasi peran perempuan di ruang publik. Alasannya, selama ini perempuan GPM yang terhimpun pada WPP juga telah berkontribusi di ruang publik baik secara pribadi maupun kelembagaan. Prestasi-prestasi yang telah diraih, dan capaian-capaian yang telah dilakukan untuk sama-sama mengatasi masalah-masalah sosial kemasyarakatan, seperti mengatasi masalah HIV-AIDS, kekerasan dalam rumah tangga, pengembangan teologi feminis ekologis, dialog antar agama, terlibat di ruang politik, menggerakan roda ekonomi, menggerakan dunia pendidikan, dan sebagainya merupakan sebagian jejak itu.

Tentu perlu dokumentasi dan data base tentang berbagai bentuk dan wujud partisipasi perempuan di ruang publik. Hal ini bisa (atau mungkin sudah) dilakukan oleh pengurus WPP di aras jemaat, klasis maupun Sinode. Dengan begitu, tersedia sumber dan rujukan data yang dapat diperbarui secara periodik. Berdasarkan data base itu maka dapat dilihat sejauhmana dan pada ruang mana saja anggota WPP GPM telah berkontribusi positif. Dari data yang sama dapat pula dilihat pada ruang mana saja peran perempuan perlu dikembangkan dan ditingkatkan.

PEREMPUAN YANG MAJEMUK

Perempuan GPM yang terhimpun dalam WPP adalah perempuan yang majemuk. Mereka tidak hanya tinggal di kota yang maju dengan fasilitas yang relatif baik, tetapi juga perempuan-perempuan yang tersebar di desa-desa, pulau-pulau dan lokasi-lokasi yng terisolasi, dan jauh dari pusat-pusat ilmu pengetahuan. Mereka bergelut dengan realitas alam fisik dan alam budaya yang beragam. Ada yang makin egaliter tetapi ada yang juga sedang terkungkung dalam budaya patriakhi yang menindas.

Perempuan GPM di desa-desa juga bergumul dengan problem-problem dasar seperti akses kepada pendidikan, masalah kesehatan (reproduksi), partisipasi di dalam peran-peran kepemimpinan di masyarakat, serta akses untuk pengembangan karier. Perempuan-perempuan di desa-desa pun diperhadapkan dengan praktik budaya, seperti kawin usia dini, kawin adat, sub-ordinasi perempuan, dll. Semua ini masih merupakan agenda yang perlu disikapi dengan benar.

Ada juga perempuan-perempuan yang bekerja dan berkarya dalam “diam”. Nama mereka mungkin tidak terkenal, wajah mereka mungkin tidak tampil di media massa maupun media sosial. Tapi mereka teguh bekerja dan berkarya, mereka kukuh berjuang untuk kehidupan yang lebih baik. Mereka kadang luput dari perhatian orang-orang yang lebih suka terkesima dengan pencitraan dan popularitas.

Patut juga diapresiasi bahwa perempuan memiliki ketangguhan dan daya juang yang besar. Mereka tidak mudah menyerah dan menghasilkan generasi-generasi yang cerdas. Perempuan yang cerdas dengan kematangan dan kebijaksanaan. Mereka mempunyai “strategi” yang khas untuk menunjukan eksistensi mereka di masyarakat. Dengan kata lain, perempuan bukan semata-mata dikonstruksi sebagai insan yang lemah dan ringkih.

PEREMPUAN YANG KIAN BERSINAR 

Pasca setengah abad WPP GPM diharapkan wajah perempuan GPM kian bersinar. Wajah itu bukan dalam arti fisik semata. Bukan soal polesan bedak dan lipstick. Bukan juga soal obsesi untuk selalu cantik dan awet muda (walau hal ini bukan berarti tidak boleh, boleh-boleh saja).

Wajah perempuan GPM yang kian cerah dan bersinar itu adalah wajah yang terbebaskan dan membebaskan. Freedom of and freedom for, bebas dari dan bebas untuk. Bebas dari berbagai diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan di ruang domestik maupun ruang publik. Bebas untuk berpartisipasi dan berkiprah secara optimal di ruang domestik maupun ruang publik. Partisipasi itu seiring dengan makin tertingkatkan kapasitas dan kapabilitas perempuan. Partisipasi itu bukan sekedar untuk memenuhi kuota yang disediakan (misalnya dalam politik) tetapi karena terbuka akses dan kesempatan yang merata dan sama bagi semua jenis kelamin.

Kiranya melalui momentum 50 tahun usia emas perempuan GPM (yang terhimpun dalam wadah WPP GPM) kemilau emas itu makin bersinar. Sinar emas itu memberi harapan dan gairah untuk terus bersaksi dan melayani, baik dalam keluarga, gereja maupun masyarakat. Dengan penuh syukur kita bernyanyi dalam tekad “Yesus mengingkan daku, bersinar bagiNya….bersinar, bersinar itulah kehendak Yesus…bersinar, bersinar, aku (perempuan) bersinar terus”.

 

Penulis : Rudy Rahabeat (Pendeta Gereja Protestan Maluku)

6,550 total views, 5 views today

Media Center Gereja Protestan Maluku

Media Center GPM Merupakan Sarana Mengkomunikasikan Informasi Tentang Gereja Protestan Maluku Yang Tersebar di Maluku dan Maluku Utara, Bersifat Informatif, Serta Memberikan Pelayanan Pada Publik. Dapat Menghubungi Kami, Mengirim Informasi (berita) Melalui Email : mediacenter.gpm@gmail.com

22 thoughts on “Setelah 50 Tahun Wadah Pelayanan Perempuan GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published.