Home / Opini / Setelah 133 Tahun Pendidikan Teologi UKIM di Maluku

Setelah 133 Tahun Pendidikan Teologi UKIM di Maluku

Number of View: 0
[Jakarta, sinodegpm.org] -Kemarin, 12 April 2018 diperingati sebagai hari ulang tahun ke-133 pendidikan teologi di Maluku. Ditandai dengan pendirian STOVIL 12 April 1885 di Ambon. GPM sendiri berdiri sejak 1935. Pertanyaanya pada momen-momen apa saja kita bisa menilai perkembangan lembaga dan corak teologi yang dikembangkan di Maluku dan GPM pada khususnya?

MENAKAR CORAK TEOLOGI

Corak yang Kolonialis. Pada saat itu ilmu teologi belum berkembang secanggih saat ini. Akses terhadap sumber-sumber informasi masih sangat terbatas. Bahkan dosen-dosen asing masih diminta untuk mengajar di sekolah teologi. Pendidikan teologi kala itu masih belum benar-benar mandiri.

Corak Sinkretik. Seiring terbentuk STT GPM. Fase ini boleh disebut fase formasi pemandirian. Dosen-dosen asing sudah tidak ada lagi. Pada lain pihak, dosen-dosen “pribumi” makin mendominasi dan mewarnai corak pendidikan teologi yang dikembangkan. Para dosen mulai menjejal teologia in loco (pribumisasi)

Corak yang Oikumenis-Kebangsaan. Sejak 2 September 1985 STT dikembangkan menjadi UKIM, terbangun sebuah atmosfir yang baru. Mahasiswa Teologi tidak sendiri lagi. Setiap hari mereka berinteraksi di kampus, walau kadar interaksinya bersifat relatif. Teologi diingatkan bahwa ia bukan lagi “anak tunggal” tetapi sudah ada adik-adiknya yang menyebar pada berbagai fakultas.

Corak Orang Basudara. Sejak konflik 1999, selain kampus UKIM terbakar, tapi arah berteologi mengalami perubahan. Dialog antar-agama makin diintensifkan. Bahkan pada era ini muncul slogan UKIM sebagai Kampus Orang Basudara. Bahkan ada akta “angkat pela” antara UKIM dan IAIN Ambon. Sebelumnya Unpatti juga sudah menabalkan diri sebagai Kampus Orang Basudara, hanya saja gemahnya tidak senyaring UKIM (ini hasil wawancara dengan Prof Thom Pentury, mantan Rektor Unpatti yang kini Dirjen Bimas Kristen RI).

APA HARAPAN UNTUK PENDIDIKAN TEOLOGI?

Memulai bertanya kepada seorang dosen fakultas teologi UKIM tentang apa harapannya pada pendidikan teologi UKIM di momentum 133 tahun. Ia memberi tiga pernyatan. Pertama, Teologi (baca:ilmu teologi) dan lembaga teologi harus berkembang. Ia tidak boleh statis, termasuk mempertahankan status quo. Perkembangan itu mesti nampak pada prestasi di level kelembagaan (akreditasi, dll), prestasi akademik para dosen, mahasiswa yang makin berprestasi, dst. Kedua, ruang kebebasan. Ilmu-ilmu (termasuk teologi) berkembang ketika ada ruang kebebasan yang terbuka luas. Ketika kebebasan dikunci maka matilah kreatifitas dan inovasi. Terobosan-terobosan terjadi karena ruang kebebasan yang cukup terbuka. Ketiga, iklim yang kondusif. Maksudnya, suasana akademik, relasi antar-dosen, antar-mahasiswa, termasuk antar-fakultas dapat terbina dengan baik. Ada proses saling belajar dan berbagi dalam suasana egaliter dan penuh kasih.

Kembali mengajukan pertanyaan yang sama kepada “nitizen” melalui lama fesbuk. Ada beberapa harapan. Pertama, agar pendidikan teologi makin membumi. Ia bukan sesuatu yang diawan-awan. Ia riil dan menjawab persoalan dunia yang terus berubah dan menjerit. Kedua, pendidikan teologi lokal di Maluku harus dinamis seiring geliat pendidikan teologi dan pendidikan pada umumnya di level nasional. Akreditasi, tunjangan dosen, standar mutu, dll. Ketiga, pendidikan teologi makin mengglobal. Ia tidak hanya berputar-putar di Tanah Lapang Kecil tapi mesti tanggap terhadap dinamika global. Mahasiswa harus terus go-internasional dan punya prestasi di level tersebut. Bahkan ada yang sampai berharap lulusannya dapat melayani di luar negeri.

Kami punya satu harapan saja. Agar pendidikan teologi makin tanggap menjawab persoalan-persoalan publik dan terus membangun dialog dan kerjasama agama-agama. Pertimbangannya, teologi adalah bagian dari publik. Ia tidak ada di ruang hampa. Ia tidak bebas kepentingan. Dan kepentingannya adalah menyehatkan ruang publik. Salah satunya dengan terus membangun dialog dan kerjasama agama-agama. Sesuatu yang makin urgen dan akan sangat relevan baik untuk masyarakat Maluku, Indonesia maupun dunia.

MENEMUKAN CORAK TEOLOGI YANG KHAS

Jika dibanding dengan perguruan tinggi di teologi di Indonesia bahkan dunia, apa yang menjadi kekhasan dan tipikalitas pendidikan teologi di Maluku (baca: Fakultas Teologi UKIM). Ini pertanyaan mudah tapi jawabannya tidak gampang. Butuh sebuah riset dan analisis yang mendalam. Tapi tak salah jika pertanyaan ini diajukan pada momentum 133 tahun ini. Siapa tahu ada yang ingin berbagi perspektif dan gagasan di sini sehingga kelak menjadi sebuah publikasi yang utuh.

Kekhasan itu tentu tidak jatuh dari langit dan tidak muncul dari dalam tanah. Ia merupakan sebuah dialektika dan dialog abadi antar berbagai konteks, dengan Maluku serta kesejarahannya menjadi “jangkar”. Ia mesti bisa menjelaskan episteme teologinya dan gerak dinamis teologi dalam menjawab persoalan-persoalan fundamental kemanusiaan sejagad khususnya di Maluku.

Jika itu bisa diangkat pada level abstraksi (teoritik) dan diterjamahkan dalam peta jalan (roadmap) serta agenda aksi, maka momen 133 tahun ini benar-benar membantu komunitas pendidikan tinggi teologi melangkah ke arah yang lebih benar dan pasti.

Dengan penghargaan yang sungguh terhadap jejak-jejak karya pendidikan teologi di Maluku, maka kita harus optimis bahwa pendidikan teologi sudah berkontribusi bagi gereja, daerah, bangsa dan kemanusiaan. Seberapa jauh dalam dalam kadar kontribusi itu? Jawabannya mesti ada pada sebuah riset dan kajian yang lebih mendalam. Tulisan ini hanya refleksi kecil semata !

Selamat Hari Jadi ke-133 pendidikan teologi di Maluku !

——————–

Penulis : Rudy Rahabeat - Pendeta GPM
Editor  : Media Center GPM

2,013 total views, 2 views today

About Media Center Gereja Protestan Maluku

Media Center GPM Merupakan Sarana Mengkomunikasikan Informasi Tentang Gereja Protestan Maluku Yang Tersebar di Maluku dan Maluku Utara, Bersifat Informatif, Serta Memberikan Pelayanan Pada Publik. Dapat Menghubungi Kami, Mengirim Informasi (berita) Melalui Email : mediacenter.gpm@gmail.com

Check Also

Bongkarlah Penjara Stigma

Number of View: 0Mula Kata Dalam banyak hal, orang lemah mengalami beban ganda. Secara sosial, …

One comment

  1. I’m usually to blogging and i really appreciate your content. The article has really peaks my interest. I’m going to bookmark your site and keep checking for new information.




    0



    0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WordPress spam blocked by CleanTalk.