Home / Opini / Setelah Rekon dan Revat

Setelah Rekon dan Revat

Number of View: 0

Pergumulan bergereja tidak pernah berakhir. Seperti berlayar di samudera luas, kadang tenang, kadang penuh gelombang dan badai.

Beberapa waktu terakhir ini kita mulai diperkenalkan dengan istilah “Rekon” dan “Revat”. Saya menelusuri di mesin pencari data google, kata “rekon” merupakan kependekan dari kata “rekonsiliasi”. Tentu kata ini memiliki arti yang luas dan dalam. Tapi menurut seorang teman, dalam konteks keuangan, kata ini bisa diartikan sebagai “sesuaikan atau penyesuaian”. Mungkin menyesuaikan data-data agar sinkron dan akurat. Sedangkan masih menurut teman itu, “Revat” artinya Rapat Evaluasi Anggaran Tahunan”. Lagi-lagi masih soal keuangan, tepatnya keuangan gereja.

Tentu akan lebih jelas jika kita mencoba menemukan konteks yang menyebabkan kata-kata itu menyembul ke permukaan. Selain kata-kata ini merupakan ‘adaptasi” dari dunia ekonomi, khususnya ekonomi mikro, maka tentu saja perlu juga melihat konteks makronya. Sebab masalah keuangan tidak bisa lepas dari konteks sosial, politik dan ideologi. Contohnya, ketika terjadi krisis moneter tahun 1997/1998 maka hal itu berkaitan pula dengan konstelasi politik dunia, dan ideologi-ideologi besar seperti kapitalisme misalnya.

Kita bisa bertanya, kenapa gereja perlu melakukan “rekon & revat”?  apa urgensi dan manfaat kegiatan tersebut dalam kaitan dengan “penyehatan” keuangan gereja dan langgam pelayanan dalam arti yang luas? Di sini kita perlu ingat, bahwa uang dan keuangan hanya “alat” dan bukan tujuan pelayanan. Semua upaya “manajemen keuangan” dengan prinsip-prinsip kunci seperti transparansi dan akutabilitas tentu perlu diperhatikan. Tapi pada saat yang bersama, kita perlu berbicara pula tentang teologi ekonomi, penatalayanan (stewardship) asset gereja.

KEUANGAN SEBAGAI ANUGERAH ALLAH

Sejak GPM mandiri 6 September 1935 salah satu masalah yang krusial saat itu adalah masalah keuangan, selain masalah sumber daya manusia. Tapi sejarah telah membuktikan bahwa karena gereja ini milik Tuhan, maka masalah itu tetap bisa teratasi. Perlahan namun pasti berbagai pembenahan keuangan gereja dilakukan, baik dalam soal manajemen, sistem pelaporan dan pembukuan, juga soal sumber-sumber ekonomi dan pendapatan serta upaya-upaya kemandirian di bidang ekonomi.

Setahu saya dalam sejarah GPM, belum pernah terjadi sebuah MASA “krisis keuangan yang parah”. Bahwa ada kesulitan-kesulitan dalam hal pembiayaan program, termasuk membayar gaji pendeta dan pensiun, tapi dengan topangan jemaat-jemaat dan tata kelola yang terus dibenahi, maka perlahan masalah keuangan dapat teratasI. Salah satu puncaknya tahun 2007 ketika diberlakukan sistem sentralisasi keuangan gereja yang dikenal dengan istilah 70:30, Tak salah jika setelah 11 tahun pemberlakuan sistem tersebut dilakukan evaluasi secara komprehensif sambil membuat proyeksi-proyeksi ke depan.   Dengan begitu, kita bisa memiliki gambaran dan peta jalan (roadmap) tentang prospektif pengelolaan keuangan GPM, khususnya dalam mengatasi persoalan klasik tentang gaji pendeta dan pensiun serta belanja rutin lainnya.

Secara makro ekonomi, sumber-sumber ekonomi jemaat cukup bervariasi. Hal ini berkorelasi dengan potensi sumber daya alam yang dimiliki dan geliat pengembangan ekononi jemaat yang terus bertumbuh. Ekonomi kerakyatan telah teruji dapat membuat masyarakat tetap eksis walau terjadi krisis ekonomi global. Hal ini berarti fundamental ekonomi kita mestinya berbasis ekonomi kerakyatan dan bukan sekedar menerima “tetesan” (trickle down effect) dari industri capital termasuk dari pemerintah (negara).

Sebagai institusi keagamaan, maka GPM terus berdialektika antara logika-logika ekonomi sekular dan pijakan nilai-nilai teologis. Dua hal ini tentu tak perlu dipertentangkan, tapi perlu ada dialog kritis dan konstruktif, agar gereja tetap eksis di bidang keuangan, sambil pada saat bersamaan menempatkan masalah tersebut dalam perspektif teologis yang mantap. Keuangan sebagai anugerah Allah merupakan salah satu perspektif itu.

KEMBALI KE REKON DAN REVAT

Upaya-upaya pembenahan manajemen gereja akan terus dilakukan. Dalam dunia yang kian transpran dan professional saat ini, hal tersebut tak terelakan. Kita memang harus membenahi system keuangan dan terus melakukan inovasi agar tercipta sebuah standar yang penad dan efektif dalam menjawab kebutuhan pelayanan.

Setiap pengelola keuangan baik di aras jemaat, klasis maupun Sinode perlu terus meng-up-date system keuangan yang ada. Selain itu, kejujuran dan keadilan mesti menjadi landasan utama dalam proses tersebut. Sebab kalau tidak, kita akan terjebak dalam manajemen gaya perusahaan yang semata-mata mengejar profit dan akumulasi modal. Prinsip sharing and caring (saling berbagi dan peduli) merupakan prinsip bergereja yang sudah diletakan sejak dulu hingga kini. Prinsip-prinsip ini mesti mendapat perhatian serius. Dengan begitu, jemaat yang kuat dapat membantu jemaat yang belum kuat, jemaat “mata air” bisa menopang jemaat “air mata”, Jemaat ring 1 dapat mensupport jemaat ring 2,3, dan seterusnya.

Spirit “kasih gereja mula-mula” mesti melandasi langgam pelayanan termasuk dalam hal keuangan.  Harapannya, jemaat-jemaat akan makin bertumbuh dan tidak sekedar bertambah. Jemaat-jemaat makin mandiri dan sanggup mengelola potensi ekonomi yang dianugerahkan Tuhan sambil terus berusaha melakukan inovasi dan terobosan di  bidang keuangan dan ekonomi pada umumnya.

Rekon dan Revat adalah “jendela kecil” untuk melihat persoalan besar keuangan gereja dan dinamika bergereja pada umumnya. Ketika Yesus berkata “manusia hidup bukan saja dari roti tapi dari Firman yang keluar dari mulut Allah”, maka marilah kita percaya dan mempercayakan arah gereja ini kepada pemilikNya yakni Yesus Kristus, sembari melakukan apa-apa yang bisa kita lakukan, dengan sepenuh hati, sungguh-sungguh tapi juga realitis.

 

Penulis : Pendeta Rudy Rahabeat - Pendeta Gereja Protestan Maluku

 

1,479 total views, 0 views today

About Media Center Gereja Protestan Maluku

Media Center GPM Merupakan Sarana Mengkomunikasikan Informasi Tentang Gereja Protestan Maluku Yang Tersebar di Maluku dan Maluku Utara, Bersifat Informatif, Serta Memberikan Pelayanan Pada Publik. Dapat Menghubungi Kami, Mengirim Informasi (berita) Melalui Email : mediacenter.gpm@gmail.com

Check Also

Bakukele Bangun Prestasi Olahraga Maluku

Number of View: 0Tiga medali emas (200m, 400m, estafet 4×400m) dan satu perunggu (1500m) yang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WordPress spam blocked by CleanTalk.