Home / Artikel / Tuagama dan Pendeta

Tuagama dan Pendeta

Number of View: 0

I – Dimensi Ritus

Ritus itu menjadi unik karena pelaku ritus melakukan tindakan ritus yang bersumber dari pengetahuan, keyakinan dan rasa hormat mereka akan obyek ritus itu.

Liturgi gereja pun dikembangkan pelaku liturgi menurut pakem yang umum serta melibatkan unsur-unsur keyakinan pelakunya (baca.gereja).

Dalam tradisi pemakaman di Jemaat-jemaat GPM, ada pola-pola ritus yang unik.

Jemaat-jemaat di Maluku Tenggara, Maluku Tenggara Barat dan Maluku Barat Daya menjadikan kain tenun sebagai wujud penghormatan kepada anggota keluarga mereka yang meninggal. Di sini, Om atau “bapa tua” memikul tanggungjawab atas nama keluarga dan wajib memberi tanda hormat itu. Termasuk kepada menantu yang meninggal. Karena menantu itu sudah menanggung hidup anak mereka.

Jalinan kekerabatan (manghoi rahan fak) akan terus dipelihara sampai ke generasi kapan pun.

Di Maluku Utara, bentuk penghormatan diwujudkan dengan menanggung makan semua pelayat yang melayat kedukaan mereka. Ini wujud sukacita dan sukarela karena mereka sadar bahwa selama kerabat mereka hidup, banyak orang telah membantunya.

Di Maluku Tengah, kita pun mendapati fenomena-fenomena unik. Salah satunya ialah persekutuan Muhabeth/Paramponang yang dilembagakan sebagai sebuah organisasi sejak dahulu untuk melayani kedukaan semua anak negeri.

Di situ pun ada ritus-ritus tertentu. Misalnya petugas tifa yang bertugas menyampaikan kabar duka kepada seisi negeri di mata-mata jalan.

Tukang biking peti adalah pelaksana pembuatan peti jenazah. Demikian pun tukang gale kubur dan tukang kas mandi jenazah, masing-masing menjalankan tugas sesuai urusan yang telah ditentukan sejak semula.

Dalam prosesi pemakaman pun, misalnya di Hukurila, ada pelayan yang justru ditetapkan oleh Saniri Negeri sebagai Paidadu. Ia adalah kepala pintu kubur yang bertugas mengantar jenazah masuk ke dalam areal pemakaman. Ia biasa mempersilahkan para pengusung peti jenazah masuk melalui pintu areal pekuburan.

Di Waai dan Ema, sebelum jenazah diusung, ada tradisi “seghen”/seheng. Yakni orang yang mengenal saudara yang meninggal akan menyampaikan suatu kisah tentang jalan hidupnya baru jenazah diusung ke pekuburan.

II – Tuagama dan Kedukaan Pendeta

Diketahui secara bersama bahwa tuagama adalah pelayan rumah TUHAN yang bertugas mempersiapkan rumah TUHAN untuk segala ibadah jemaat. Dari menyapu, membersihkan mimbar, bangku gereja, dan terutama melayani akta “toki lonceng” sebagai simbol suara TUHAN yang memanggil umatNya untuk beribadah.

Ada pewarisan cerita dari tuagama tua kepada tuagama muda ketika mereka bertugas. Mereka bertugas sampai akhir hidupnya tanpa diganti.

Cerita-cerita yang diwariskan itu antara lain formulasi doa saat mau “toki lonceng” satu, dua dan tiga kali. Salah satunya ialah : “berdoa supaya jemaat dengar lonceng la dong datang ibadah/gareja”.

Saya pernah melihat di Rutung, para tuagama yang mengusung peti jenazah seorang anggota Majelis Jemaat yang meninggal. Menurut mereka, itu adalah tugas mereka, bukan tugas Majelis Jemaat sebab mereka yang harus mempersiapkan segala sesuatu untuk ibadah.

Hari ini (Jumat, 26/1-2018) dalam prosesi pemakaman rekan Pdt. Ny. Joke Kiriweno Rahayaan, S.Si, Ketua Majelis Jemaat GPM Lafa, Klasis Telutih, satu lagi pemandangan unik.

Dua orang Tuagama dari Jemaat GPM Lafa, Tuagama Cada Tehuayo (52) dan Wate Mujilina (56), mereka berdiri di depan mimbar menghadap peti jenazah Ketua Majelisnya.

Bagi mereka, itu adalah tugas mereka untuk mendampingi Pendetanya yang telah dipanggil pulang oleh TUHAN. Sebab salah satu tugas mereka adalah menemani perjalanan tugas Pendeta.

Jika dikaitkan dengan keseharian dalam pelayanan, mereka selalu bersama pendea saat turney atau kunjungan tugas, atau menghadiri kring PI (utusan Injil), atau Sidang-sidang Gereja.

Para tuagama naik turun gunung sambil memikul tas pakaian pendetanya. Bagi mereka ini tugas mulia. Bahkan ada pamali-pamali tertentu seperti “seng boleh bajalang langgar Pandita, musti jaga dari blakang”.

Ini gambaran yang membuat mengapa tugas berjalan bersama ini adalah panggilan kita bersama-sama.

Di gereja ini, segala suka dan duka kita “pikul’ bersama-sama.

Selamat jalan Pdt. Ny. Joke Kiriweno Rahayaan, S.Si . Kami akan terus ada untuk berjalan bersama.

————————

26/1-2018, Gereja Irene, Jemaat GPM Souhoru, Klasis Pulau Ambon Timur.

 

Penulis : Pdt. E T Maspaitella, M.Si - Sekum MPH Sinode GPM

 

30,630 total views, 1 views today

About Media Center Gereja Protestan Maluku

Media Center GPM Merupakan Sarana Mengkomunikasikan Informasi Tentang Gereja Protestan Maluku Yang Tersebar di Maluku dan Maluku Utara, Bersifat Informatif, Serta Memberikan Pelayanan Pada Publik. Dapat Menghubungi Kami, Mengirim Informasi (berita) Melalui Email : mediacenter.gpm@gmail.com

Check Also

Alih Kepemimpinan Klasis GPM Pulau Pulau Bacan

Number of View: 0“Kita adalah pelayan yang menjadi Pemimpin, bukan pemimpin yang menjadi Pelayan”. Artinya, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WordPress spam blocked by CleanTalk.