Home / GPM Terkini / Peresmian dan Penahbisan Gedung Gereja “Elim” Jemaat GPM Allang Asaude

Peresmian dan Penahbisan Gedung Gereja “Elim” Jemaat GPM Allang Asaude

Number of View: 0
[Ambon, sinodegpm.org] – Konflik sosial yang merambah Allang Asaude, Klasis GPM Seram Barat (Piru) sejak Desember 1999 sampai Agustus 2001 telah meluluhlantahkan negeri itu. Rumah-rumah penduduk, fasilitas pendidikan, kesehatan, ekonomi (koperasi), pemerintahan dan keagamaan nyaris tak ada yang tersisa. Gedung gereja “Elim” yang baru dipergunakan beberapa tahun sebelumnya mengalami nasib yang sama.
Pasca kembali dari pengungsian, rencana untuk membangun gedung gereja yang baru mulai dipercakapkan, setelah pembangunan dan penataan pemukiman warga serta fasilitas umum lainnya. Tanggal 2 Agustus 2004, dimulailah sejarah panjang dari pergumulan iman umat di Allah Asaude melalui peletakkan batu pertama pembangunan gedung gereja yang baru, oleh Pdt. Ny. J. Diaz (Ketua Majelis Jemaat Allang Asaude saat itu) dan bapak K.A. Ralahallo (Gubernur Maluku saat itu).

Di Dalam Gedung Gereja Baru
Walau diperhadapkan dengan sejumlah tantangan, namun Panitia Pelaksana bersama umat dan Majelis Jemaat yang dipimpin oleh Pdt. R.E. Atapary, S.Si terus menggalang kebersamaan untuk menyelesaikan proses pembangunan dimaksud. Oleh kasih dan anugerah Yesus Kristus, pergumulan panjang itu kini berakhir, melalui ibadah peresmian dan penahbisan gedung baru Gereja “ELIM”, Jemaat GPM Allang Asaude, pada hari Minggu, 10 Desember 2017.
Pengresmian dan pentahbisan dilakukan oleh Ketua MPH Sinode GPM, Pdt. Drs. A.J.S. Werinussa, M.Si., dihadiri oleh Wakil Gubernur Maluku, Wakil Bupati bersama Sekretaris Daerah Kab. SBB, dan sejumlah undangan. Usai penahbisan dilanjutkan dengan ibadah perdana di gedung gereja baru, yang dipimpin oleh Pdt. I.C. Teslatu, M.Th.
Sampai pengresmiannya, pembangunan gedung gereja yang berukuran 33m X 22m ini berlangsung selama 13 tahun, 3 bulan dan 8 hari, dengan menelan anggaran sebesar Rp. 5.761.716.500,- Moment penting dari peristiwa bersejarah ini, ditandai dengan hadirnya basudara seasal dari negeri Allang di pulau Ambon dan dari dusun Hatu Allang.
Mungkin tidak banyak yang tahu, bahwa “eksodus” warga Allang di pulau Ambon telah berlangsung lama, dan terpencar ke beberapa lokasi/wilayah.

Ketua Sinode GPM, Wakil Gubernur Maluku, dan Wakil Bupatti Seram Bagian Barat
Membaca Renstra Jemaat GPM Allang Asaude dan tulisan Markhes Patty di allangasaude.blogspot.com, perpindahan sejumlah penduduk negeri Allang di pulau Ambon ke pulau Seram – tepatnya di Huamual Belakang – ditengarai merupakan transmigrasi lokal pertama yang dilakukan di Indonesia.
Tahapan “eksodus” warga Allang dari negeri leluhur di pulau Ambon ini konon terjadi karena faktor kepadatan penduduk. Tahun 1945 misalnya, jumlah penduduk negeri Allang telah mencapai angka 3.500 jiwa. Jumlah tersebut semakin meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan ini dipicu oleh angka kelahiran yang sangat tinggi. Sementara ruang atau faktor daya dukung lingkungan dan sosial sudah tidak mampu menampung jumlah penduduk yang begitu banyak.
Keprihatinan dan kepedulian akan masa depan anak-anak negeri Allang telah mendorong bapak Esau Manuhua untuk mengajak warga dan pemerintah negeri Allng untuk memikirkan jalan keluarnya. Dan jalan keluar itu bukan dengan cara mengurangi angka kelahiran, tetapi melalui perpindahan ke tempat lain yang lebih prospektif. Usulan itu kemudian disampaikan kepada residen Ambon untuk mendapat persetujuan. Sejak saat itu, seluruh perencanaan perpindahan ke tempat (daerah) lain dikoordinasikan dengan residen Ambon dan mendapat dukungan fasilitas dan biaya seperlunya.
Rombongan transmigran (lokal) pertama bertolak dari negeri Allang tanggal 11 November 1947, dengan menumpang KM. Elbuler. Rombongan I ini terdiri dari 23 orang lelaki, dan tiba keesokan harinya di Asaude.
Rombongan kedua berangkat tanggal 1 Desember 1947. Pelepasan rombongan II ini dilakukan di baileo negeri Allang, sekaligus diadakan ibadah pelepasan. Moment tanggal 1 Desember ini di kemudian hari diperingati sebagai hari lahirnya Jemaat GPM Allang Asaude. Rombongan II ini bertolak ke Asaude dengan KM. Taliwang, dengan membawa 60 KK. Setibanya rombongan II, dilakukan musyawarah untuk memberi nama bagi negeri baru itu. Karena lokasi yang ditempati itu bernama Asaude, dan karena para transmigran berasal dari Allang, maka negeri baru itu diberi nama Allang Asaude.
Rombongan ketiga bertolak dari negeri Allang tanggal 6 Maret 1948 dengan menumpang KM. Taliwang. Rombongan III ini terdiri dari (sisa) anggota keluarga transmigran yang masih berada di negeri Allang. Secara umum mereka terdiri dari para istri dan anak-anak dari kepala keluarga yang telah berada di Allang Asaude. Keberangkatan mereka dilepas dengan upacara adat. Setibanya mereka di Allang Asaude keesokan harinya, mereka juga disambut dengan upacara adat. Moment tanggal 7 Maret ini ditetapkan sebagai hari lahirnya negeri Allang Asaude.
Selain ke Allang Asaude, warga Allang di negeri Allang (pulau Ambon) juga tersebar ke beberapa lokasi/wilayah lain. Ada yang ke Hato Allang, juga di Huamual Belakang. Ada yang ke Uraur (Kairatu) dan Eti Mataampa (Seram Barat). Ada yang ke Tonetanah dan Nakupia (di Waipia, Masohi). Ada juga yang ke Rumahwey di Seram Utara.
Kini, Allang Asaude terus berbenah diri. Baik di bidang pendidikan, kesehatan, pemerintahan, sosial, budaya dan keagamaan. Apapun bentuk perubahan itu, hubungan kekerabatan dan persaudaraan sebagai orang basudara dengan saudara-saudara seasal di negeri Allang di pulau Ambon, di Hatu Allang, dan lain-lain tidak boleh lekang oleh waktu.
Selain dengan saudara-saudara seasal, warga negeri Allang Asaude juga sudah harus memikirkan dan menindaklanjuti frame “Gereja Orang Basudara” sebagai panggilan teologis untuk merangkul warga di negeri-negeri sekitar yang beragama Muslim. Artinya, keberadaan negeri Allang Asaude tidak boleh membuatnya teralienasi atau terkucil dari pergaulan dan kerjasama dengan negeri-negeri Muslim lainnya. Karena itu, upaya-upaya saling berkunjung di antara tokoh adat, tokoh pemerintah, tokoh pemuda dan tokoh agama sambil berdialog tentang persoalan-persoalan bersama yang dihadapi, adalah jembatan emas untuk mencairkan hubungan personal dan sosial yang mungkin saja telah tercipta sejak konflik sosial itu berlangsung.
Penulis : Pdt.Max Syauta, S.Th - Bendaraha Sinode GPM
Editor  : Media Center GPM

9,339 total views, 0 views today

About Media Center Gereja Protestan Maluku

Media Center GPM Merupakan Sarana Mengkomunikasikan Informasi Tentang Gereja Protestan Maluku Yang Tersebar di Maluku dan Maluku Utara, Bersifat Informatif, Serta Memberikan Pelayanan Pada Publik. Dapat Menghubungi Kami, Mengirim Informasi (berita) Melalui Email : mediacenter.gpm@gmail.com

Check Also

Pengumuman Lulus Seleksi Tahap I Calon Vikaris GPM Tahun 2017

Number of View: 0Berasal Dari : Tim Penerima Vikaris GPM 2017 Kepada : Pelamar Vikaris …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WordPress spam blocked by CleanTalk.