Home / GPM Terkini / Pentahbisan dan Peresmian Gereja Lahairoy Jemaat Sarihalawane

Pentahbisan dan Peresmian Gereja Lahairoy Jemaat Sarihalawane

Number of View: 0
[Ambon, sinodegpm.org] – Gereja bukan gedungnya, gereja adalah manusianya. Membangun manusia berbeda dengan membangun sebuah gedung. Gedung gereja menjadi salah satu ruang yang dibangun untuk membina spiritualitas warga jemaat sehingga selalu ada dalam satu persekutuan orang yang percaya kepada Yesus Kristus Kepala GPM.

Anak-Anak Jemaat GPM Sarihalawane Dengan Tariannya Menyambut Kehadiran Gubernur Maluku dan MPH Sinode GPM
Jemaat GPM Sarihalawane terletak pada medan gumul pelayanan Klasis Kairatu, desa Waisarisa, Kabupaten Seram Bagian Barat. Dari Kota Ambon dapat ditempuh menggunakan Fery (transportasi laut) dengan waktu tempuh 90 menit, kemudian melanjutkan perjalanan dari pelabuhan fery kira-kira 20 menit.
Ketua Klasis Kairatu Pdt. Z J Matatula, S.Th menjelaskan arti nama negeri sarihalawane, menurutnya Sarihalawane artinya “dayung emas”. Pengertian ini tentu memberi harapan agar jemaat dan umat di Sarihalawane menampilkan perilaku hidup yang berkualitas.
“Semoga lahairoy akan menjadi mata air kehidupan yang darinya terpancar karya-karya iman yang kreatif sebagai para pelayan juga warga jemaat”.
Matatula juga mengulas singkat sejarah terbentuknya Jemaat Sarihalawane demikian, “cikal bakal jemaat ini berawal dari kehadiran 35 Kepala Keluarga asal Nusahulawano dari pulau Nusalaut yang mengikuti program transmigrasi lokal dan bermukim di tempat ini, pada tahun 1964. Setelah 5 tahun mereka mengorganisir diri menjadi persekutuan jemaat, maka barulah pada tanggal 18 Juni 1969 persekutuan ini dilembagakan menjadi Jemaat GPM Sarihalawane dan berada dalam wilayah pelayanan Klasis Seram Barat Piru. Pada tahun 1977 melalui Sidang Klasis Seram Barat di Jemaat GPM Mornaten, Jemaat Sarihalawane dimasukan ke wilayah pelayanan Klasis Kairatu”.

Ketua Klasis Kairatu, Ketua Sinode GPM, Sekretaris Klasis Kairatu, Sekretaris Panitia Pembangunan
Jemaat GPM Sarihalawane kian bertumbuh dan bertambah jumlah jiwa, maka dibutuhkan ruang beribadah yang representatif agar dapat menampung sekian banyak warga jemaat yang hadir.
Kondisi Gedung Gereja yang digunakan selama ini yang dibangun oleh PT.Djayanti Group – Seram Playwood sejak TAHUN 1983 sudah tidak memadai untuk menampung tuntunan pelayanan karena kondisi Fisik Bangunan tersebut sudah mengalami kerusahkan oleh karena itu untuk menjawab pergumulan selama ini maka pada persidangan jemaat ke 18 tahun 2003 memutuskan untuk membentuk Panitia Pembangunan Gedung gereja Baru Lahairoy Jemaat GPM Sarihalawane dan Panitia.
Pembangunan Gedung Gereja Baru Lahairoy yang berukuran 35 x 16 M. Gedung gereja Lahai Roy dibangun oleh jemaat secara swadaya itu selama 13 tahun, 9 bulan dan 18 hari sejak peletakan batu penjuru (pertama) 29/02/2004. Pekerjaan Pembangunan berawal dari Pdt. L.L. Septori, Sm.Th saat itu menjabat sebagai Ketua Majelis Jemaat kemudian dilanjutkan kepada Pdt. Nn. F.J.L. Seipattiratu, Sm.Th. Setelah itu diselesaikan oleh Pdt. Ny. M.Tuhuleruw/L.S.Th. sebagai Ketua Majelis Jemaat.
Biaya yang dipergunakan untuk Pembangunan Gedung Gereja Lahairoy dari Tahun 2003 s/d 2017 sebesar Rp. 2.399.481.000 ( terbilang : Dua miliar, tiga ratus Sembilan puluh Sembilan juta empat ratus delapan puluh satu ribu, rupiah )
Pentahbisan dan Peresmian Gedung Gereja Lahai Roi berlangsung 17/12 yang dihadiri oleh Ketua MPH Sinode GPM, Gubernur Maluku, Bupati Seram Bagian Barat serta para undangan. Gedung Gereja Lahairoi dithabiskan dan diresmikan oleh Ketua MPH Sinode GPM Pdt. Drs. A J S. Werinussa, M.Si saat itu didampingi oleh Ketua Klasis Kairatu Pdt. Z J Matatula, S.Th.

MPH Sinode GPM, Gubernur Maluku, Ketua Klasis Kairatu
Kita dapat mensinergikan pembinaan spiritualitas umat dalam ruang lingkup seram bagian barat salah satunya melalu pembinaan jemaat. Pembinaan Spiritualitas juga berkaitan dengan proses melestarikan nilai kearifan lokal yang dimiliki oleh anak sakamese nusa, ungkap Drs.Moh.Yasin.Payapo, M.Pd diatas mimbar kecil Jemaat GPM Sarihalawane.
Kesan Payapo katanya, “Bangunan (gedung gereja) suda bagus sekali, tapi ketika lonceng berbunyi kadang-kadang gedungnya kosong. Saya himbau kalau lonceng sudah berbunyi mari kita sama-sama penuhi gedung gereja. Kiranya Spirit Natal dapat dimaknai sebagai bagian dari bangunan integritas yang kokoh dimiliki serta mampu menginstropeksi diri sendiri, Payapo juga menghimbau supaya dapat menghindari miras dan keributan yang dapat menghilangkan damai sejahtera.
Sembari Gubernur Maluku Ir. Said Assagaff menjelaskan arti dari nama gedung gereja Lahairoi, katanya lahairoi merupakan pusat rekonsiliasi orang berasaudara. Rasa damai dapat dipelhiara dengan tidak saling menyebarkan berita hoax cerita yang sifatnya mengacaukan kebersamaan hendaknya tidak dilakukan.
“Saya akan membantu membenahi pagar bagian samping yang belum selesai juga sound sistem yang belum dimiliki oleh jemaat, mohon panitia yang nantinya mengatur proses pengadaan setelah tahun baru, menjumpai saya di Ambon (kantor gubernur)”.
Assagaff juga mengucapkan terimakasih karena GPM telah bersama-sama pemerintah Provinsi juga kabupaten sudah ada dalam kerjasama yang baik untuk membina spiritualitas serta karakter.

10,184 total views, 1 views today

About Media Center Gereja Protestan Maluku

Media Center GPM Merupakan Sarana Mengkomunikasikan Informasi Tentang Gereja Protestan Maluku Yang Tersebar di Maluku dan Maluku Utara, Bersifat Informatif, Serta Memberikan Pelayanan Pada Publik. Dapat Menghubungi Kami, Mengirim Informasi (berita) Melalui Email : mediacenter.gpm@gmail.com

Check Also

Sambutan Presiden RI Peringatan Hari Lahir Pancasila

Number of View: 0 23,122 total views, 1,919 views today Tweet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WordPress spam blocked by CleanTalk.