Home / Opini / Menanti Dengan Kasih Karunia

Menanti Dengan Kasih Karunia

Number of View: 0

“ MENANTI DENGAN KASIH KARUNIA”
(Refleksi Minggu adventus Kedua)
Inspirasi: Yeremia 31:1-7

 

Pengantar

Jelang akhir setahun pelayanan bergereja, maka menjadi penting mengevaluasi apakah khotbah-khotbah kita sudah menjadi sebuah “jembatan kecil” untuk mencapai tujuan-tujuan besar yang kita rumuskan bersama pada berbagai aras, baik di aras Sinodal melalui tema dan sub tema tahunan, maupun visi dan misi Klasis dan Jemaat. Pertanyaan ini sengaja diajukan agar kita senantiasa sadar (aware) bahwa khotbah di samping pelayanan lainnya seperti pastoral, katekisasi, penataan kelembagaan dan keuangan, pembinaan jemaat, dll merupakan bagian dari saluran (channel) untuk mensosialisasikan dan mewujudkan visi misi bersama sebagai gereja di tengah dunia yang terus berubah.

Adapun tema khotbah ini adalah “ Menanti dengan Kasih (Karunia)”. Kasih (love) dan kasih karunia (grace) adalah dua hal yang berbeda, walau punya kaitan erat. Tema menanti dengan kasih menegaskan bahwa proses penantian (kedatangan Kristus; dalam arti Natal dan kedatangan kedua) itu bukan sebatas pada sikap iman dan pengharapan (bandingkan tema materi khotbah minggu lalu) tetapi juga perlu perbuatan. Menanti bukan dalam lamunan dan bayang-bayang. Menanti sambil berbuat, bertindak, action. Jelaslah apa yang dibilang Yakobus “iman tanpa perbuatan adalah mati”. Perbuatan itu bermotif dan berlandaskan kasih. Dan kasih itu bukan milik manusia. Kasih itu adalah milik Allah. Makanya dalam materi ini saya tambahkan frasa kasih karunia, dengan dua alasan. Pertama, kata yang digunakan dalam teks Yeremia mencakup makna kasih karunia (khesed , Ibrani), dan kedua, tindakan kasih itu bukan bersumber pada energi positif manusia tapi bersumber dari Allah, pemberian Allah, grace, kasih karunia. anugerah.

Pesan Utama Teks Khotbah

Berdasarkan tafsirannya untuk teks Yeremia 31:1-6, Robert M Peterson dengan ringkas meyebutkan bahwa gambaran tentang pemulihan umat Israel mempunyai tiga aspek; (1) orang-orang akan bermain rebana dan menari dengan gembira (ayat 4b). Hal ini merupakan salah satu bukti bahwa Yeremia tidak menolak rekreasi dan kegembiraan; (2) kebutuhan jasmani orang-orang itu akan dipenuhi, karena pohon anggur bisa berbuah (ayat 5), dan mereka akan tenteram menikmati damai sejahtera, dan (3) orang-orang Israel Utara akan pergi beribadah di atas gunung Sion di Yerusalem (ayat 6). Itu berarti bahwa semua bangsa itu akan dipersatukan secara rohani.

Berdasarkan tafsiran Robertson ini kita dapat memberikan beberapa penjelasan lebih lanjut sebagai berikut, sekaligus menyelipkan pesan-pesan komunikatif dari teks yang menjadi dasar khotbah ini.

Pertama, Menanti Bukan Berarti Murung dan Sedih
Secara antropologis orang-orang Maluku dikenal sebagai orang-orang yang gembira dan ceria. Ribuan lagu-lagu, tarian, pesta-pesta, alat-alat musik dan permainan rakyat Maluku mengkonfirmasi sifat dan karakter gembira manusia Maluku. Bahkan beberapa waktu lalu menjadi ramai di media sosial ungkapan “biar miskin asal bahagia”. Hal ini tentu tak terpisahkan juga atas amatan sekilas tentang kebiasaan orang Maluku yang selalu gembira dan menyanyi (bahkan di tengah derita dan genangan kemiskinan sekalipun). Dalam sejarah kita temukan bahwa kolonial Belanda sering membuat pesta-pesta dengan tujuan “meninabobokan” orang Maluku agar mudah diperalat. Tentu, ini sebuah penyalahgunakaan sifat gembira orang Maluku.

Teks Yeremia 31:4, Allah akan membangun Israel kembali, setelah mengalami masa kelam ketika terjadi pembuangan. Israel tak perlu bersedih dan murung. Mereka patut bergembira. Simbolisasi dari kegembiraan itu dalam teks ini adalah rebana dan tari-tarian. Rebana adalah salah satu alat musik khas di Israel, selain seruling, ceracap, kecapi dan sangkakala (bandingkan Mazmur 150). Demikian pula tarian selain lagu, merupakan ungkapan kegembiraan dan sukacita kala itu (bandingkan, orang-orang menari saat Daud mengalahkan Goliad bahkan Daud menari saat prosesi pemindahan tabut perjanjian, 2 Samuel 6:14). Nabi Yeremia tidak mau umat Israel ada dalam kesedihan dan kemurungan yang dalam, sebaliknya, mereka harus bergembira dan bersukacita karena Allah tetap mengasihi mereka, walau mereka seringkali melukai hati Allah. Dalam konteks Adven, orang percaya dalam menanti kedatangan Tuhan, tak usah murung dan bersedih, sebab Allah yang diimani tetap setia pada janjiNya. Ia akan (dan telah) datang untuk menolong umatNya di tengah gumulan hidup yang berat sekalipun.

Kedua, Menanti bukan hanya soal rohani tapi totalitas hidup
Secara antropologis dunia orang Maluku dibagi dalam dualisme atau binarisme; laut-darat, gunung-pantai, hitam-putih, patasiwa-patalima, Salam-Sarane, Kai-Wait (Buru, adik kakak), Duan-Lolat (MTB), dll. Juga adalah dikotomi antara yang rohaniah dan jasmaniah, urusan dunia dan akhirat. Dikotomi ini makin diperkeras dengan kedatangan para Zending yang termotivasi oleh ajaran Pietisme yang menekankan “dunia seberang” dan seringkali kurang peduli dengan dunia hari ini dan di sini. “Biar Allah bahagianku”, judul sebuah lagu Tahlil. Akibatnya, orientasi ke hal-hal yang rohani lebih besar, dan mengabaikan perjuangan untuk menghadirkan kesejahteraan dan keadilan sosial di bumi. Makanya, Gus Dur pernah bilang “kitap perlu menurunkan sorga ke bumi, membangun Republik Sorga di bumi”.

Teks Yeremia 31: 5 menegaskan bahwa Yahweh tidak hanya peduli pada umat Israel Utara dengan soal-soal rohaniah mereka. Bahwa sikap iman Israel yang mendua hati, tidak percaya sungguh kepada Yahweh, menyembah dewa-dewa, bahkan kekuatan militer, itu merupakan kenyataan sebagaimana nampak pada awal kitab Yeremia. Juga luka-luka batin umat seperti, keputusasaan, sakit hati, dan dendam. Tapi bukan soal hal-hal yag rohaniah saja. Yahweh juga peduli dengan kebutuhan sehari-hari; makan, minum dan pakai (sandang, pangan dan papan). Olehnya ketika ayat ini muncul kata “anggur” maka hal itu merupakan perlambang pemenuhan kebutuhan jasmani sekaligus lambang kesejahteraan. Hampir sebagian besar jenis buah yang dipakai dalam PL maupun PB adalah “anggur”. Hal ini juga tentu sesuai dengan konteks pertanian Israel kala itu. Hal ini tentu berbeda jika settingnya ada di Maluku, maka mungkin saja tanaman yang dirujuk adalah sagu, cengkeh, gandaria, atau bahkan buah kutikata. Intinya dalam ayat ini, bahwa Yahweh memahami kebutuhan umatNya, bukan saja rohani tapi jasmani. Dengan kata lain, jaminan penyertaaan Allah bersifat utuh, total. Dalam minggu-minggu Adven umat tidak hanya menyiapkan “hati” tapi segenap hidup mereka. Dengan kata lain, menata seluruh dimensi kehidupan, personal maupun sosial.

Ketiga, Menanti bukan sendiri-sendiri tapi dalam dan untuk kebersamaan
Secara antropologis, ada pendapat bahwa orang Maluku itu “single fighter”, pejuang individual. Lebih menyenangi olahraga dan seni yang bersifat individual, seperti tinju, sprint, soloist, dll. Tidak pernah solid jika bersama, misalnya dalam olahraga sepakbola, dll. Walau tidak semua pendapat ini benar, tapi yang hendak disoroti dalam hal ini adalah bahwa sikap individualisme dan menang sendiri, perlu dikritisi dan dibenahi. Apalagi jika kita kaitkan dengan sikap yang menekankan kebersamaan, gotong-royong, masohi, dll.

Teks Yeremia 31: 6, disebutkan bahwa para penjaga akan berseru di gunung Efraim, mereka akan naik ke Sion. Teranglah bahwa Efraim adalah suku yang memimpin kerajaan utara (Isreal) dan Sion merujuk pada Yerusalem, ibu kota Yehuda, yang juga merupakan tempat Bait Allah. Ini merupakan bahasa simbolik yang mengarah pada sebuah nilai yang tersirat yakni pentingnya persekutuan dan persaudaraan umat. Bahwa prosesi ke Yerusalem, ke Bait Allah adalah prosesi persekutuan dan persaudaraan, di mana Israel dalam berbagai jenis kelamin, usia, latar belakang sosial dan bahkan percampuran suku bangsa akan membentuk sebuah “persekutuan”, sebuah lingkaran kebersamaan untuk datang menyembah dan memuliakan Allah. Mereka tidak lagi tercerai berai, berjalan sendiri, tapi mereka disatukan dan dipulihkan untuk memasuki sebuah sejarah masa depan baru bersama Allah sang Kasih itu. Di sini frasa “Gereja Orang Basudara” yang melintasi suku dan agama, merupakan sebuah prosesi iman menuju pada Allah sumber segala kasih karunia.

 

Irisan Pesan Khotbah

Lalu apa kaitan antara teks dan tema mingguan dengan tema tahunan serta visi gereja, Klasis dan Jemaat? Irisan ini menjadi penting dicermati untuk saling mengisi dan melengkapi. Irisan ini urgen agar muara (terminal) khotbah tidak bias dan meluas serta mengawang, tapi fokus dan kena dengan visi bersama yang sudah disepakti di awal tahun (ingat kata, konsistensi dan inkonsistensi). Ketika kepada umat dikhotbahkan untuk menanti kedatangan Kristus dengan sikap kasih maka pertanyaannya, kasih untuk apa? Kasih untuk membangun rumah tangga dan keluarga yang dapat diteladani. Kasih untuk melakukan pekerjaan dan profesi dengan takut akan Tuhan dan memaknai tiap pekerjaan dan profesi sebagai ibadah sehingga terhindak dari jebakan korupsi, kolusi dan nepotisme. Kasih untuk menjadi warga gereja dan warga bangsa bahkan warga dunia yang baik. Menunggu dengan kasih untuk bersama-sama mengupayakan keadilan sosial dan keadilan ekologis bagi semua. Kasih untuk menjawab sub tema tahunan “Bersama-sama meningkatkan keadilan sosial dan keadilan ekologis untuk hidup yang semakin bermutu”.

Dengan begitu, khotbah menjadi wahana membangun kesadaran kritis umat, membangun dan memperkuat solidaritas dengan sesama dan alam semesta serta persekutuan dengan Allah. Dan semuanya itu dilakukan dengan gembira dan bukan muram dan sedih, didasarkan pada pemahaman yang utuh dan total, tidak parsial dan egois, dan demi kebersamaan dan persekutuan, sambil menanti kedatangan Tuhan Yesus Kristus (dengan kasih setiaNya), dalam waktu yang tidak diketahui. Selamat berkhotbah. Allah Kehidupan menuntun kita semua !

Penulis : Rudy Rahabeat, Pendeta GPM).

 

3,249 total views, 1 views today

About Media Center Gereja Protestan Maluku

Media Center GPM Merupakan Sarana Mengkomunikasikan Informasi Tentang Gereja Protestan Maluku Yang Tersebar di Maluku dan Maluku Utara, Bersifat Informatif, Serta Memberikan Pelayanan Pada Publik. Dapat Menghubungi Kami, Mengirim Informasi (berita) Melalui Email : mediacenter.gpm@gmail.com

Check Also

Bongkarlah Penjara Stigma

Number of View: 0Mula Kata Dalam banyak hal, orang lemah mengalami beban ganda. Secara sosial, …

2 comments

  1. certainly like your web site but you have to check the spelling on quite a few of your posts. A number of them are rife with spelling issues and I find it very troublesome to tell the truth nevertheless I’ll definitely come back again.




    0



    0
  2. I hope you all are having a great weekend. I added a new list. This one is smaller, but still useful. I think the next one will be bigger.




    0



    0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WordPress spam blocked by CleanTalk.