Recall Memory

Number of View: 0

*Cerita Pendek

Pengkhianatan itu seperti gelombang air laut. Dia datang, memecahkan suaranya, memisahkan batu dari pasir yang sudah sejak lama bersama. Dia segera berlalu ketika tujuannya tercapai, dan hanya mampu meninggalkan buih kepahitan, kesedihan, dendam dan amarah, yang terhisap dalam-dalam di pasir. Jangan tulis pengkhianatan dalam kisah keluarga kita! #savewoman

Image result for gambar keluarga

Pernakah kamu bertemu dengan seseorang yang tatapannya mamacu otakmu untuk melakukan recall memory? Dimana saat menatap matanya, kamu tenggelam dalam lintasan peristiwa-peristiwa yang telah terlewati dalam hidupmu, hingga detail terkecil? Mungkin aku salah satu yang beruntung atas pengalaman itu. Keberuntungan yang tak diinginkan, tepatnya. Waktu itu malam sudah cukup larut. Aku sendirian menyusuri jalanan kota yang sedang dilanda gerimis, yang sebentar melebat, sebentar menyurut, tertiup angin timur. Musim itu membuat kotaku cukup lembab-berangin bahkan basah. Terasa tenang sekali malam itu, saat menunggu angkot ke jurusan tempat tinggalku. Benar saja, angkot bertuliskan Air Salobar berhenti, menjawab lambaianku. Hanya aku seorang diri, menemani sopir, seorang lelaki muda dengan rambut keriting hitam-kemerahan yang tumbuh cukup panjang. Aku tidak memperhatikan hal lain lagi dari dirinya, karena kami sibuk dengan konsentrasi masing-masing. Jalanan lengang berwarna kuning diterpa cahaya lampu jalan, membuat aku lebih terendam dalam imajinasi yang kacau balau.

Mobil angkot kami berhenti lagi di suatu sudut perempatan, dan orang-orang naik. Suasana berubah cair dengan celotehan beberapa penumpang baru. Perjalanan dilanjutkan, dan di beberapa kesempatan, tumpangan kami itu berhenti lagi entah untuk menurunkan atau menjemput penumpang. Aku ingat persis di depan gereja GPM Rehoboth, dulunya ada lampu lalu lintas di situ. Seorang lelaki beruban putih, tidak terlalu tinggi dengan mata yang sayu dan fisik yang terlihat lelah, sedang bersandar pada tiang dan melambaikan tangan. Saat angkot sudah berhenti benar, dia berlari kecil lalu naik sambil menggendong seorang gadis berumur sekitar 5 tahun. Mereka duduk dihadapanku, dan aku tidak memperhatikan, karena sibuk mengetik sms. Ternyata, dalam diam gadis kecil itu memperhatikanku. Aku baru menyadarinya setelah mendongakkan kepala, dan membanting tatapan pada wajah bulat dengan rambut lurus terikat tak rapi, hingga beberapa helainya jatuh ke wajah. Sulit menggambarkan wajahnya, karena dalam sekejap, mata kami bertemu. Kepalaku serasa tersengat arus pendek listrik. Alirannya  tidak terlalu kuat tetapi mampu mengguncang seluruh isi memori yang tersimpan di sana.

Kepalaku memutar rekaman ingatan yang sudah sangat lama tidak tersentuh. Aku kembali ke diriku saat berusia sekitar 4-5 tahun, dimana aku duduk di pangkuan papa, dalam sebuah angkot yang sedang melaju dan aku begitu kagum melihat air hujan turun melalui kaca jendela. Ada pula ingatan lain yang menari di kepalaku, saat mata ini tak melepaskan pandangan dari mata gadis kecil itu. Hingga aku tiba pada suatu saat ketika usiaku 6 tahun. Di suatu siang, aku sedang sibuk membuka tas papa, memeriksa isinya satu per satu. Ada yang menarik perhatian. Dalam tas itu terdapat sebuah amplop cokelat berkukuran sedang, di antara beberapa berkas, pena dan hal lainnya. Amplop itu tidak terkunci. Dari luar, aku dapat merasakan bentuknya, dan mulai mengira-ngira isi dalamnya. Tanpa pikir panjang, kutarik keluar isinya. Ternyata hanya sebuah foto berwarna ukuran setengah badan. Wanita dalam foto itu tidak ku kenal. Dia menarik, senyumnya menawan, rambutnya hitam cukup berombak, dengan blus bunga-bunga kuning dan merah. Aku berlari kepada mama, memperlihatkan foto itu kalau saja ia mengenalnya. Air muka mama berubah, matanya tidak berkedip menatap lembaran itu. foto direnggutnya, dia lekas menghampiri papa yang sedang mencuci muka di kamar mandi.

Pertengkaran hebat dimulai. Papa dan mama saling serang, adu mulut diselingi lempar-melempar barang. Situasinya kacau sekali, dan aku begitu bingung dengan apa yang sedang terjadi. “Mengapa sebuah foto mampu membuat mereka saling berteriak?” Hatiku bertanya sambil merasa segalanya sungguh tak karuan. Papa tak sanggup menahan amarah, dia berlari ke arahku, menaruh mulutnya dekat-dekat dengan telingaku dan berteriak kencang. Dia marah, aku menemukan foto itu. Setelah pertengkaran ganas siang itu, rumah begitu angker. Tidak ada yang berani berbicara, bahkan aku, anak paling kecil di rumah. Aku pelan-pelan mendekati mama dan bertanya, mengapa dia marah sekali tadi. Dengan kekesalan yang belum surut, dia berkata, “itu foto perempuan simpanan papamu”. Aku terpaku tak mengerti, hanya air mata menitik deras dari mata turun ke wajah, seperti air hujan yang turun di kaca jendela. Aku tidak mengerti kata-kata mama, tetapi aku paham pesannya lewat bahasa tubuh. Aku menangkap kekecewaan, kemarahan dan  perasaan yang hancur, aku dapat merasakannya.

Setelah kejadian itu, keadaan kami tak sama lagi. Papa selalu pulang larut, bahkan hari minggu dipakainya untuk bekerja. Aku tahu mama bersabar dalam diamnya yang membuat badannya semakin kurus. Pertengkaran hampir tidak pernah terjadi lagi tetapi suasana yang dingin tidak pernah berakhir. Kami tinggal se-atap tetapi tidak benar-benar bersama.

“Stop!!!!!” lelaki tua itu berteriak cukup tegas, memaksa sopir menepikan mobil angkotnya. Dengan uang tiga ribuan yang diserahkan kepada sopir, dia menutup perjumpaanku dengan gadis itu. Mengakhiri pengalaman pengelanaanku dalam tatapannya. Itu cerita yang lama sekali, hampir tidak kuingat peristiwa yang telah 18 tahun berlalu. Kini aku adalah seorang gadis berusia 24 tahun yang bekerja di sebuah toko buku besar di kotaku. Memori itu sudah kubungkus rapi dalam sebuah kotak bernama pengampunan. Pengampunan kepada papa sebab aku kecewa dan benci papa sejak saat itu. Pengkhianatannya menimbulkan luka yang dalam bagi keluarga kami, dan selalu kami bawa dalam ingatan. Juga penerimaan kepada diriku sendiri. Bukan karena aku yang menyebabkan pertengkaran antara papa dan mama dengan menemukan foto itu. Tetapi beberapa tahun setelahnya, aku harus menerima kenyataan bahwa perempuan itu sesungguhnya adalah IBU KANDUNGKU.

Setiap keluarga memiliki kisah sendiri-sendiri, sekalipun tidak semua tercatat baik, sukses dan membahagiakan. Ada pula kisah pilu, sedih, kecewa, ditinggalkan dan dikhianati. Tetapi hidup berjalan dalam siklus yang tidak linier. Selalu ada kejutan selanjunya, setelah suatu masa terlewati. Itu semua dijadikan Tuhan agar hidup kita seimbang. Bersyukurlah sebab pada suatu waktu kita akan berterima kasih pernah melalui pengalaman-pengalaman tersebut dalam hidup.

 

970 total views, 5 views today

About Elsa Engel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *