Home / GPM Terkini / Pendeta Ber “SIM” Amdal

Pendeta Ber “SIM” Amdal

Number of View: 0
[Jogjakarta, sinodegpm.org] – Isu Lingkungan hidup bukan baru menjadi pergumulan GPM. Dalam sidang-sidang gerejawi yang rutin dilakukan tahunan, isu-isu lingkungan telah betul-betul menjadi fenomena menarik yang menukik bukan saja sekedar perhatian tapi aksi gereja.

Sejak sidang gerejawi tahunan di Taniwel, Buru Utara dan di Obi kemarin, isu lingkungan hidup tetap mendapat jatah yang plus dari pergumulan gereja. Jika kita membuka dokumen-dokumen gereja itu, kita menemukan sejumlah sandaran konsep dan gerakan aksi yang membingkai pelayanan gereja setiap tahun.

Advokasi lingkungan hidup sebagai gerakan keadilan ekologis guna menjadikan semesta ini sebagai rumah bersama bukan lagi pilihan tetapi sebuah imperatif iman.

Jika advokasi lingkungan lebih merupakan gerakan pembelaan terhadap lingkungan sebagai bentuk kehidupan yang berkeadilan bagi semua semesta, maka sebetulnya di sini peran dan posisi gereja adalah bagian dalam perwujudan keadilan semesta sebagai ciptaan Allah.

Advokasi gereja tidak hanya sebatas memberi gerakan keadilan, tapi harus melampaui itu. Advokasi harus dilakukan bukan saja dengan sejumlah perspektif atau pemahaman tentang keadilan dan hak-hak hidup, tetapi sandaran-sandaran hukum formal seharusnya menjadi pengetahuan gereja. Hanya dengan begitu, advokasi gereja akan me-mitigasi lingkungan hidup sebagai bagian dari keadilan ekologis.

Dan keberanian Klasis Tanimbar Selatan untuk mengartikulasi aksentuasi pergumulan gereja dengan membentuk Yayasan Pemerhati Lingkungan Hidup “doulos” telah betul-betul memberi “jalan” kearah itu.

Yayasan Pemerhati Lingkungan Hidup “doulos” sendiri telah berbadan hukum. Hal ini yang memungkinkan yayasan ini telah menjadi satu-satunya organisasi lingkungan hidup milik GPM tetapi juga di Maluku Tenggara Barat. Semua pendeta di Klasis Tanimbar Selatan adalah bagian dari organisasi lingkungan hidup ini.

Sejak 30 Oktober hingga 4 November 2017, Klasis Tansel kembali mengirimkan 14 peserta (pendeta) untuk mengikuti Diklat atau pelatihan Dasar-Dasar AMDAL yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) UGM di kota Sultan ini.

Output dari pelatihan ini, kita akan mendapatkan semacam “SIM” yang memungkinkan kita mengenderai dengan bebas seluk beluk lingkungan tanpa takut pada siapapun.

Sebagai salah satu peserta yang ikut dalam tahap ketiga pelatihan ini saya betul-betul merasakan “gemuk”. Bukan saja paham tentang AMDAL, tetapi sejumlah aturan-aturan mulai dari UU hingga Peraturan Menteri menjadikan kita bisa ber”kepala tegak” mengeksekusi pergumulan gereja ini.

Menurut Maryo Lawalata salah satu pendeta yang bertugas di Klasis GPM Tanimbar Selatan, inisiatif klasis Tansel semoga menjadi model bagi klasis-klasis lain, atau bahkan sinode secara kelembagaan. Sebab pergumulan lingkungan hidup telah menjadi fenomena yang merajalela di gereja pulau-pulau ini.

 

Penulis : Pdt.Maryo.Lawalata,.M.Th [Ketua Majelis Jemaat Lingat]
Klasis  : Tanimbar Selatan
Editor  : Media Center GPM

 

2,615 total views, 167 views today

About Media Center Gereja Protestan Maluku

Media Center GPM Merupakan Sarana Mengkomunikasikan Informasi Tentang Gereja Protestan Maluku Yang Tersebar di Maluku dan Maluku Utara, Bersifat Informatif, Serta Memberikan Pelayanan Pada Publik. Dapat Menghubungi Kami, Mengirim Informasi (berita) Melalui Email : mediacenter.gpm@gmail.com

Check Also

Pidato Ketua MPH Sinode GPM Pada Sidang MPL 39 di Jemaat Anugerah Wayaloar

Number of View: 0In Memoriam sekaligus Pidato Ketua MPH Sinode GPM: Hormat kami kepada Bapak …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *