Home / GPM Terkini / Cerita Di Balik Buku “Menuju Gereja Orang Basudara”

Cerita Di Balik Buku “Menuju Gereja Orang Basudara”

Number of View: 0
Penulis  :  Rudy Rahabeat & John Saimima 

Bermula Dari Sebuah Pesan Pendek

Alkisah buku ini dimulai dari sebuah pesan pendek (SMS). “Pak tahun depan momen 500 tahun Protestantisme, mesti ada sesuatu yang dibikin”. SMS itu berbuah sebutir poin rekomendasi untuk dipertimbangkan oleh peserta sidang MPL 2016 di Wainibe Buru Utara. Rupanya gayung bersambut dengan menetasnya sebutir rekomendasi sidang MPL itu yakni penulisan buku seputar peringatan 500 tahun reformasi, yang tinggal beberapa hari lagi nanti (31 Oktober 2017).

Melalui Sekum MPH Sinode, Pendeta E T Maspaitella, Rudy Rahabeat dan John Saimima “ditugaskan” menyiapkan dan menyunting buku tersebut. Kami membuat proposal mini, mengirimnya ke Sekum untuk dibuat surat pengantar resmi yang selanjutnya dikirim ke calon penulis. Selain itu, melalui jasa media sosial dan email kami mengirim proposal kepada beberapa calon penulis yang bisa dihubungi tanpa birokrasi yang berbelit. Kami sangat berterima kasih kepada orang-orang yang telah selesai dengan birokrasi yang bertele-tele dan mengutamakan karya bersama yang berbuah manis.

Setelah menunggu agak lama, kami mulai pesemis. Apakah jumlah tulisan bisa memenuhi target atau kami harus cari jalan lain. Sebetulnya kami sudah punya sedikit pengalaman soal tunggu menunggu tulisan ini. Dengan segala upaya, akhirnya terkumpul 17 tulisan ini, tulisan terakhir dari Theo Matatula, kandidat Magister Sosiologi Agama UKSW (anak semata wayang ketua Klasis Kairatu, Pdt Jan Matatula). Theo adalah penulis yang paling muda, selain kami hendak memberi panggung kepada orang muda, tapi Theo juga menulis tesis tentang tema Teologi Gereja Orang Basudara. Tak sampai sehari mengedit tulisan Theo, langsung dikirim ke penerbit  UKSW Press untuk di-layout isinya.

 

Mengapa Memilih Judul Ini ?

Kami telah menulis alasannya di lembar catatan penyunting buku ini. Secara teknis judul ini dipilih setelah percakapan atau wawancara dengan Ketua Sinode GPM, Pendeta A J S Werinussa. “bagaimana kalau judulnya terkait Gereja Orang Basudara dengan anak judul Refleksi 500 Tahun Protestantime”? Spontan beliau setuju. Dari situ kami merumuskan judul yang ada sekarang, dengan memberi catatan bahwa penambahan kata “menuju” merujuk pada proses dan dinamika bergereja yang selalu mencari bentuknya yang solid.

Saat mengirim catatan penyunting serta isi  buku kepada MPH untuk dibaca dan diberi sambutan, judul yang kami tawarkan tidak terkoreksi. Justru Pdt Ely Maspaitella, menyertakan tulisannya dengan judul yang lebih selangkah maju “Menjadi Gereja Orang Basudara”.

Sebetulnya pilihan judul sedemikian bukan tanpa pertimbangan mendasar. Berdasarkan percakapan lepas yang kami dengan ada beberapa keberatan terhadap frasa “Gereja Orang Basudara”. Ada yang mengatakan ungkapan itu pada dirinya memiliki pertentangan (contradictio in terminus). Ada juga melihat bahaya “sinkritisme” dari ungkapan tersebut. Menurut yang berpendapat begitu, gereja adalah “persekutuan kudus” jadi tidak mungkin tercampur dengan anasir lain, baik agama maupun adat budaya. Di sini kata-kata Barth masih terasa gaungnya “Lets be church to be church”, biarlah gereja menjadi gereja. Tentu ungkapan ini perlu ditafsir baru, jika tidak hendak dikatakan perlu dikoreksi, sesuai konteks kita saat ini.

Yang menyedihkan para kritikus ini tidak memberikan solusi atau resolusi terhadap frasa yang sudah mulai digulirkan sejak awal Januari 2017 itu. Sepanjang yang kami pantau tidak ada satu publikasi tertulis terkait kritik terhadap konsep gereja Orang Basudara itu. Mungkin juga karena konsep tertulisnya belum ada. Tapi bukankah ungkapan lisan bisa juga diberi kritik dan bobot bukan? Yang sering terdengar hanya “bisik-bisik di belakang” yang kemudian menguap karena tidak memberi isi yang lebih serius. Ini tentu sikap yang perlu diubah. Jika hendak mengkritik hendaknya disampaikan secara proporsional, santun disertai solusi yang cerdas. Sebab bukankah kita sama-sama gereja (jika tidak mau dikatakan “orang saudara di dalam Kristus” ?).

Saya tersentuh saat mewawancarai Pak Pendeta Broery Hendriks. “Mungkin frasa tersebut ada kelemahannya, tapi saya bilang ke teman-teman, mari kita beri isi dan makna” ungkap mantan ketua Sinode GPM. Nah, ini oase. Ini ungkapan simpatik yang tentu perlu disambut dengan niat tulus untuk memberi isi dan makna terhadap gagasan yang dilontarkan pimpinan gereja. Saya juga bertanya kepada beliau “apakah suatu konsep harus dibicarkan dulu di forum gerejawi, diputuskan, dan kemudian diwartakan? Atau bisa juga muncul spontan, diwartakan, kemudian diboboti dalam forum gereja dan atau dibikin kajian”. Pak Brury menjawab kedua rute itu bisa saja digunakan. Dengan demikian, kita bisa “berjalan bersama” untuk merumuskan dan menghasilkan suatu konsep eklesiologi yang partisipatif.

 

Indahnya Berjalan Bersama : Gambaran Cakupan Buku

Teologi dibedakan dalam dua kategori, menurut Pendeta Dr Eben Nubantimo. Pertama, teologi prima atau vera dan kedua teologi sekunda. Teologi prima itu ada di jemaat. Itu “bahan baku utama”. Sedangkan teologi secunda itu merupakan refleksi sistematis atas bahan baku yang ada di jemaat. Dan itu biasanya dilakukan para teolog di kampus. Yang prima jangan dibalik jadi secunda dan yang secunda jangan menjadi prima. Kesannya, selama ini terbalik-balik. Akibatnya, teologi jadi asing, bersifat top-down, hierarkhis dan elitis. Jika kita kembali ke spirit reformasi Luther tentang “Imamat Am Orang Percaya”, maka semua orang bisa berteologi, bukan hanya teolog akademik saja. Atau Prof Singgih suka membedakan menjadi teolog dan berteologi. Tidak semua teolog bisa berteologi dengan baik, ungkap mahaguru teologi dari UKDW Jogja itu.

Buku ini terdiri dari tiga bagian dengan beberapa karakteristik. Pertama, penulisnya bukan saja dari GPM tapi luar GPM juga. Pendeta Dr Zakaria Ngelow misalnya berasal dari GKSS (walau istrinya berasal dari Ambon). Tulisan beliau yang bersifat historis ini merupakan tulisan pertama, kemudian ada pula tulisan mantan Ketua Sinode GPM, Pendeta Dr John Ruhulessin yang memprolematisasi relevansi Protestantisme di Maluku dan Indonesia pada umumnya.

Kedua, penulisnya bukan agama Protestan saja. Ada penulis dari Katolik yakni Pak Robert Boawollo yang pernah tinggal di Ambon dan  Jerman dan sekarang mukim di Jogja. Kami hendak menampilkan apa yang Pendeta Dr Merry Kolimon (Ketua Sinode GMIT) disebut sebagai “memory healing”, semacam penyembuhan ingatan. Selain itu, ada juga tulisan sahabat kami Ustad Dr Manaf Tubaka, seorang Muslim taat yang juga mencintai kebudayaan Maluku. Dosen IAIN Ambon ini sudah sering diundang dalam acara-acara GPM, selain tentu Ustad Dr Abidin Wakano yang berasal dari Latu, desa tetangga Dr Manaf, Hualoy). Tulisan Dr Manaf menegaskan bahwa “Salam-Sarani” itu bersaudara.

Ketiga, buku ini bukan saja ditulis oleh laki-laki tapi perempuan juga. Walau tidak banyak tapi dua perempuan yang menyumbang tulisan bergizi patut diapresiasi dalam semangat gender justice. Dr Wely Tiwery, dosen STAKPN Ambon menawarakan Teologi Ina yang diambil dari rahim budaya Maluku. Dan Dr Justicia Hattu, Pendeta GPM yang kini diutus menjadi dosen di STT Jakarta menulis tentang Pendidikan Agama Kristen. Tulisan Pdt Uti, memberi inspirasi bagi upaya pembenahan tugas gereja di bidang pendidikan, suatu bidang yang juga ditekankan Luther dan Calvin (minimal dengan latar belakangnya sebagai akademisi kala itu).

Keempat, penulis buku ini bukan saja para senior tapi juga yunior. Tanpa bermaksud mendikotomikan senior-yunior, tapi sebuah kolaborasi lintas generasi menjadi sangat penting dan urgen juga untuk proses kaderisasi dan kesinambungan pelayanan. Diharapkan lebih banyak orang muda dapat menyumbangkan gagasannya bagi gereja dan masyarakat. Ingat, Luther juga masih muda ketika ia menggulirkan reformasi gereja kala itu.

 

Sebuah Proses Yang Belum Selesai

Kumpulan tulisan dalam buku ini tentu tidak imun dari berbagai kelemahan dan keterbatasan. Lebih daripada itu gagasan “Gereja Orang Basudara” pun masih terbuka untuk terus diberi isi dan makna. Untuk maksud itu ada rekomendasi untuk membentuk Tim Penulisan Eklesiologi Gereja Orang Basudara, yang kiranya akan dibahas pada MPL di Obi Maluku Utara beberapa hari ke depan. Olehnya, sifat buku ini bisa dilihat sebagai “rangsangan” untuk penjelajahan lebih lanjut, dengan tetap memperhatikan rute perumusan teologi dan eklesiologi yang berbasis pada jemaat-jemaat. Model-model berteologi seperti ditawakan oleh Bevans bisa dipertimbangkan untuk merumuskan eklesiologi yang relevan untuk GPM, sembari tetap sadar sesadar-sadarnya, bahwa tiap konsep itu mesti dihadirkan dan fungsional di ruang bersama (ruang publik) sehingga makna kehadiran gereja benar-benar dirasakan baik oleh warga gereja tapi juga warga masyarakat.

Peringatan bahwa teologi kontekstual, dalam kaitan ini bisa disebut konsep Gereja Orang Basudara bisa terjebak dalam penebalan semangat primordialisme dan sektarian, (sebuah warning yang disampikan Pdt Dr Yusak Solaiman, ketua STT Jakarta, ketika menyajikan makalah di Seminar GPI di Bogor beberapa waktu lalu) patut dipertimbangkan. Tetapi sebuah upaya menggali “akar-akar budaya” yang komprehensif perlu pula dilakukan dengan serius dan tuntas. Dengan begitu, teologi dan eklesiologi senantiasa berada di atas tanah kebudayaan, berakar pada Firman Allah dan terbuka dalam “proses” dan “liminalitas” yang bagi mereka yang suka jalan pintas dan menu cepat saji, tentu terasa kurang sreg. Tapi soal kita, tentu bukan soal “roti saja” tapi lebih dari pada itu, sebuah kesungguhan dan kerendahan hati serta pertanggungjawaban iman dalam ziarah di dunia yang fana ini.

Kami berterima kasih kepada MPH Sinode yang mempercayakan tugas ini kepada kami. Terima kasih kepada para penulis dan Pdt Eben Nubantimo yang menulis kata pengantar yang segar. Juga kepada penerbit UKSW Press dan semua pembaca yang sudi membaca dan membeli buku ini. Kritik dan saran diperlukan untuk perbaikan edisi berikut, khususnya dalam perumusan eklesiologi Gereja Orang Basudara (atau apa pun namanya nanti) yang relevan bagi GPM dalam konteks lokal, nasional maupun global.

Selamat Memaknai 500 Tahun Protestantism dalam semangat “ecclesia reformata, semper reformanda (gereja yang membarui diri terus menerus). Selamat melaksanakan pesta iman, MPL Sinode GPM 2017 di pulau Obi Maluku Utara, yang terkenal dengan moto “Marimoi Ngone Futuru”; yang terjemahan bebasnya “kita semua bersaudara”, bersatu untuk maju bersama.

6,075 total views, 83 views today

About Media Center Gereja Protestan Maluku

Media Center GPM Merupakan Sarana Mengkomunikasikan Informasi Tentang Gereja Protestan Maluku Yang Tersebar di Maluku dan Maluku Utara, Bersifat Informatif, Serta Memberikan Pelayanan Pada Publik. Dapat Menghubungi Kami, Mengirim Informasi (berita) Melalui Email : mediacenter.gpm@gmail.com

Check Also

Komisi Pengelolaan Barang Milik Gereja – Sidang MPL 39 Sinode GPM

Number of View: 0[Ambon, sinodegpm.org] – Bagian pengembangan infrastruktur Sinode GPM menggelar dua kegiatan menyongsong …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *