Home / Dokumen / Beragama dan Berbhineka : Cerita dari Kampung

Beragama dan Berbhineka : Cerita dari Kampung

Number of View: 0

Berdiri dibawah rintik hujan sambil menatap Masjid Air Kampung Al. Ikhsan mengantarkan pikiran beta ke suatu moment pada dua tahun lalu tepatnya tanggal 17 September 2015. Kala itu, seminggu sebelum Hari Raya Idul Adha atau hari raya kurban atau hari raya haji pada acara Pemasangan tiang Alif masjid ini dilakukan. Hidup orang basudara dibalik gawe itu hendak beta ceritakan disini:

(Foto – Masjid Al Ikhsan dusun Air Kampung)

Awal bulan September 2015 saat beta berada di Ambon, beta ditelpon oleh Wakil Ketua Majelis Jemaat Penatua Helmy Rumakur: “Pak, Ketua Pemuda Air Kampung ada datang bawa pesan dari Bapa Imam, minta Jemaat Kelangan tanggung bambu utk bikin kuda-kuda mau pasang tiang Alif Masjid”, Beta membalas: “siapkan semua tenaga laki-laki, potong bambu sebanyak yang diperlukan. Kasih tahu bendahara jemaat untuk keluarkan anggaran beli bahan bakar untuk mobilisasi bambu ke Air Kampung dengan long boat. Bilang juga ibu-ibu di Jemaat untuk siapkan sayur dan bahan makanan kirim ke Air Kampung supaya orang kerja makan dan juga waktu harinya pemasangan”.
Pemasangan tiang Alif tersebut akan dilakukan 2 minggu kedepannya, maka Beta bergegas segera kembali ke Jemaat supaya bisa terlibat dalam acara tersebut.

Tiba di Jemaat tanggal 14 September, Ternyata beberapa Perempuan dan Laki – laki sudah lebih dulu ke Air Kampung utk membantu pekerjaan. Mereka ada 10 orang yang menginap di sana.

Pagi, 16 September, Beta dengan warga Jemaat lain ke Air Kampung menggunakan long boat yang sarat terisi menempuh jarak ± 18 KM. Setibanya di Air Kampung, kami langsung menempati beberapa rumah yang sudah disiapkan.

(Foto – Pantai Air Dusun Kampung)

Beta memilih untuk langsung bergabung ditenda depan masjid dengan rombongan lain dari kampung Goul dan Ilili yang sudah tiba lebih dulu. Kami bercengkerama asik sambil menunggu malam untuk memulai acara. Sambil bercerita, mata Beta tertuju pada beberapa bendera hias di sekitar tenda dan pagar Masjid. Ada tulisan yang dijahit disitu “JEMAAT GPM KELANGAN” Hahaha… Ternyata Ketua Pemuda meminjam inventaris kami. Semuanya berjumlah 50 Buah, jadi kampung kecil yang dihuni oleh 50 KK/150 jiwa itu dipenuhi dgn bendera hias yang bertuliskan “JEMAAT GPM KELANGAN”.

Beta tertawa lucu saja melihat hal ini sambil berkata ke Bapak Abdulah Rumarubun, Imam Masjid Goul yang masih keluarga dekat dgn Imam Masjid Air Kampung “Kenapa tidak kasih tau supaya katong usahakan sama-sama bendera hias lain”. Sang Imam menjawab: “Bagus lai Bapa Pendeta, ini memang orang Kelangan punya acara. Biar ini acara pemasangan tiang Alif Masjid, tapi ini katorang samua pung acara”.

(Foto – Kiri ke kanan : Usman Rumailili, Abidin Rumailili, Nico Teusit, Ayub Luturlen, dan Saul Teusit).

Dari sini Beta lalu mendapatkan penjelasan lebih dalam bahwa Masyarakat Pulau Kasui dan Watubela khususnya yang berada di Desa Ilili, Dusun Air Kampung, Desa Kelangan dusun Goul (Muslim) dan Tanahsoa (Kristen) memiliki hubungan kekeluargaan yang sangat dekat di Seram Bagian Timur (SBT) Maluku. Mereka menyebutnya “Darah Orang Kelangan”. Darah Orang Kelangan adalah anak cucu yang masih sedarah sedaging dari satu leluhur. Karena itu, setiap perhelatan acara keagamaan atau acara apapun yang dilakukan oleh salah satu pihak dari keturunan Darah Orang Kelangan maka sudah pasti dia akan mengundang Darah Orang Kelangan lainnya, bahkan membagikan tanggung jawab bersama yang disebut Horlomi atau Gotong Royong. Adapun Darah Orang Kelangan tersebar hampir di semua desa dan dusun di Kecamatan Kasui Watubela, namun basis terbesar berada di Desa/dusun yg disebutkan di atas. Mereka juga memeluk agama berbeda; Islam, Katolik dan Protestan.

Suasana serupa juga terjadi sebelumnya saat Pengresmian gedung gereja Maranatha, Jemaat GPM Kelangan (14 September 2014). Saat itu Masyarakat dari Ilili, Air Kampung dan Goul mengirimkan tenaga kerja selama dua Minggu untuk membantu kerja persiapan. Masyarakat Ilili dan Air Kampung menyuplai ikan hampir setiap hari selama masa kerja persiapan. Ibu-ibu Majelis Taqlim Goul mengumpulkan bahan makanan ke dapur umum serta uang dan diserahkan ke Bendahara Jemaat. Hasil Pengumpulan uang itu kemudian diwartakan dalam Ibadah Minggu Jemaat.

Kembali ke Air Kampung. Malam jelang pemasangan tiang Alif, dilakukan acara “matawana” yang diisi dengan tradisi islami dan budaya lokal. Ada Qasidah, nyanyian pantun dan tari – tarian. Jelang subuh, pemasangan dilakukan. Semua yg hadir berdiri berjejer pada tangga yang dibangun. Dengan iringan Shalawat, pemasangan tiang Alif dilakukan dan selesai sebelum fajar menyingsing.

Itulah cerita dua tahun lalu.

Hari ini, di Air Kampung beta duduk bersama lagi di rumah Abidin Rumailili ditemani kopi hitam, ubi rebus dan ikan bakar. Dengan Abidin Rumailili, Saul Teusiit, Ayub Luturlen, Niko Teusiit dan Usman Rumailili kami membicarakan suatu usaha bersama di sektor Perikanan.

Saul dan Niko adalah Warga Jemaat GPM Kelangan, Usman adalah Warga Goul, Abidin dan Ayub adalah Warga Air Kampung. Mereka adalah saudara sedarah Orang Kelangan yang saling menyayangi. Mereka saling bekerjasama untuk membangun hidup bersama.

Itulah Bhinneka Tunggal Ika dalam hidup kami.

 

Penulis : Pdt.R.Kwalomine - Ketua Majelis Jemaat Kelangan
Klasis  : Seram Timur
Editor  : Media Center GPM

1,446 total views, 1 views today

About Media Center Gereja Protestan Maluku

Media Center GPM Merupakan Sarana Mengkomunikasikan Informasi Tentang Gereja Protestan Maluku Yang Tersebar di Maluku dan Maluku Utara, Bersifat Informatif, Serta Memberikan Pelayanan Pada Publik. Dapat Menghubungi Kami, Mengirim Informasi (berita) Melalui Email : mediacenter.gpm@gmail.com

Check Also

[Loker] Dibutuhkan Tenaga Pengajar Untuk Program Studi Sejarah Pada Fakultas Keguruan & Ilmu Pendidikan UKSW

Number of View: 0 2,836 total views, 1 views today Tweet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *