Home / GPM Terkini / Menjadi Pelayan Sejati

Menjadi Pelayan Sejati

Number of View: 0

“Kenangan bersama sang Filsuf dari Timur”

“Kalian belajar bertahun-tahun hanya untuk menjadi Pelayan. Tapi bukan sembarang pelayan”. Kata-kata itu masih saya ingat sampai saat ini dan selalu saya batinkan dalam-dalam.

Seperti lainnya kami adalah para murid yang mendengar kata-kata hikmat sang guru.

Saya masuk kuliah tahun 1993. Pelajaran pertama yang kami terima dari Pdt Dr H L Sapulete adalah Filsafat Yunani dengan buku pegangan antara lain bukunya Muhammad Hatta itu. Pak Henny punya tipikalitas. Baju lengah pendek warna putih, ujungnya sering dilipat sedikit lalu masuk kelas dengan muka agak menunduk. Ia lebih banyak membaca bahan kuliah dan kami harus rajin mencatat sambil sesekali tanya jawab. Kami kemudian mendapat kuliah Etika sebuah bidang keahliannya yang antara lain nampak dalam karya disertasinya tentang tanah dalam kehidupan masyarakat Maluku.

Ia merupakan Dekan yang cukup lama di Fakultas Teologi UKIM Ambon. Sampai saat ini saya belum tahu mengapa demikian. Tapi saya menduga bisa juga karena sifatnya yang tenang dan gaya filsafatnya maka ia bisa menjadi pengayom bagi lembaga pencetak para Pelayan itu.

PENGALAMAN MENJADI PELAYAN DI RUMAHNYA.

Dulu halaman rumah Dekan di Jalan Siwabessy cukup rapih dan terurus. Ada kolam ikan kecil dan rerimbun pepohonan dan bunga-bunga. Taman kecil itu dengan air mancur kecil dibuat oleh Pdt Chris Tamaela yang masih punya hubungan dekat dengan istri pa Henny yakni Ibu Deswert seorang peranakan Belanda (kalau saya tidak salah).

Setiap pulang kuliah saya mampir di rumah pak Henny. Makan secukupnya yang sudah disiapkan Mbak Sri lalu membersihkan taman kecil itu dan rumah yang lumayan besar termasuk beberapa pohon pisang di belakang rumah.

Saya juga membersihkan seluruh ruangan termasuk ruang belajar pak Henny yang penuh buku. Sesekali sembari merapikan buku-buku saya mencuri kesempatan membaca bukunya minimal judulnya. Sebagai pelayan saya mendapat akses ke semua ruang rumah itu untuk membersihkannya.

Ibu Deswert wanita yang sangat rapih. Ia punya beberapa kursus kerajinan. “Hati-hati Rudy saat membersihkan pot bunga ya” ungkap Ibu sembari tersenyum. Ibu Deswert berkacamata dan rambutnya ikal. Ia memang cantik. Dan pak Henny tentu senang.

Pak Henny lebih sering di kampus. Saat siang ia hanya pulang makan diantar pak Etus supirnya. Setelah itu balik lagi ke kampus.

Anaknya yang bungsu Bung Seny lebih banyak di kamar. Saya sesekali membersihkan kamarnya yang juga penuh tumpukan buku dan beberapa kaset. Kacamata Bung Seny cukup tebal mungkin ia rajin membaca juga.

Saat itu Erick sang cucu masih kecil. Kalau tak salah baru masuk SD. Erick sering main ke rumah Oma dan Opa nya. Saya masih ingat kaos kaki panjang yang suka dipakai Erick kecil saat itu. Ia anak yang lincah dan ceria. Kelak ia melayani Opanya sampai Opanya menutup mata di Jakarta.

MBAK SRI DIMANAKAH ENGKAU SEKARANG?

Mbak Sri adalah seorang pelayan di rumah pak Henny. Wanita asal Jawa ini rajin sekali. Ia yang mengurus bagian belakang termasuk memasak dan menyetrika. Sesekali saya ngobrol dengan mbak Sri dan ia punya cita-cita hendak kembali ke Jawa. Setelah Ibu Deswert wafat dan peristiwa konflik 1999 di Ambon. Mungkin beberapa waktu kemudian perempuan Jawa itu sudah kembali ke tanah leluhurnya.

Satu hal yang pasti bahwa pada suatu waktu ada seorang etnis Jawa tinggal di rumah Orang Ambon dan melayani kebutuhan sehari-hari. Sebuah potret relasi lintas etnis pada level rumah dan sehari-hari. Sebagai sesama pelayan di rumah itu saya berdoa kiranya Mbak Sri senantiasa mendapat rejeki walau saya belum tahu dimana ia kini berada.

PERGINYA PARA SESEPUH GPM.

Pak Henny wafat pada usia 83 tahun. Hampir seluruh hidupnya di dunia pendidikan. Berbeda dengan beberapa dosen seperti Pak Radjawane, Pak Broery Hendriks dan Pak John Ruhulessin yang pernah jadi ketua Sinode GPM. Pak Henny tetap setia menjaga Talake. Makanya saya merasa ia adalah sang Guru yang otentik.

Kepergian pak Heny menambah daftar panjang para sesepuh dan senior GPM maupun fakultas teologi UKIM. Beberapa waktu lalu almarhum Pdt Jack Ospara yang mantan Sekum Sinode GPM dan dosen Fakultas. teologi UKIM dimakamkan di TPU Karet Jakarta.

Ada seorang sepuh yang masih hidup dan tinggal di Jakarta yakni Pdt Joop Seleky. Mantan dosen sejarah gereja ini saat ini sudah berusia 85 tahun. Saya dengar beliau sudah memakai tongkat.

Ada satu hal yang kiranya menjadi perenungan bersama bahwa para sepuh ini mengakhiri hidup dengan kisah yang agak miris. Misalnya mereka tidak punya rumah yang bisa menjadi tempat berteduh. Bahkan mereka seperti (Maaf dengan segala hormat) orang terbuang dan terlupakan, terasing. Padahal mereka telah mengabdi hidup dan karya mereka untuk gereja dan pendidikan teologi. Apa yang salah? Ataukah ini via dolorosa yang harus disusuri seorang pelayan sejati.

Saya bersyukur dapat berjumpa pak Henny di akhir hidupnya. Masih teringat kata-katanya kepada saya dan Jhon Saimima saat ia pertama kali masuk RS PGI “Melayani dengan sungguh-sungguh dan setia”. Saat ia masuk lagi di ruang yang sama untk kedua kali ia tak bisa bicara. Hanya tatapan lelah dan tangannya yang renta diulurkan untuk memang tangan kami. Kemarin saat di rumahnya mata itu sudah tertutup abadi dan tangan yang renta itu telah dingin, dingin sekali dan ia telah tidur selamanya dalam pangkuan hangat Sang Pelayan Agung.

Selamat jalan Guru ku. Selamat jalan sang Pelayan. Selamat jalan laki-laki cerdas dari Sirisori Amalatu yang sering mengingatkan Sapulete saya “t” satu bukan dua. Sang filsuf memang penuh tekateki simbolik. Ia juga tak luput dari kelemahan dan kekurangan seperti pepatah tua “tak ada gading yang tak retak”.

Takzim kami para murid. Dan kiranya kami dapat menjadi pelayan sejati dan bukan bos-bos apalagi tuan-tuan.

 

Penulis : R.Rahabeat – Pendeta Gereja Protestan Maluku

3,525 total views, 101 views today

About Media Center Gereja Protestan Maluku

Media Center GPM Merupakan Sarana Mengkomunikasikan Informasi Tentang Gereja Protestan Maluku Yang Tersebar di Maluku dan Maluku Utara, Bersifat Informatif, Serta Memberikan Pelayanan Pada Publik. Dapat Menghubungi Kami, Mengirim Informasi (berita) Melalui Email : mediacenter.gpm@gmail.com

Check Also

Peluncuran Buku Penghormatan 70 Tahun Pdt (Em)Dr IWJ Hendriks

Number of View: 0SEMUANYA UNTUK KEHIDUPAN (Catatan Kecil Untuk Buku Penghormatan 70 tahun Pdt Broery) …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *