Home / GPM Terkini / 82 Tahun GPM : Gereja Orang Basudara

82 Tahun GPM : Gereja Orang Basudara

Number of View: 0

Tanggal 6 September 1935, sepuluh tahun sebelum Indonesia, Gereja Protestan Maluku (GPM) menyatakan “kemerdekaannya”, keluar dari bayang-bayang pemerintah Belanda kala itu. Para pendeta dan warga jemaat GPM memiliki visi jauh ke depan. Bahwa gereja ini harus mandiri, tidak lagi tergantung kepada pemerintah saat itu, termasuk dalam soal pendanaan. Gereja bergantung kepada Yesus Kristus Sang Kepala Gereja.

Kemandirian GPM secara kelembagaan itu, membuka babak sejarah baru bagi para pelayan dan warganya untuk terus menata pelayanannya dari waktu ke waktu. Pendirian klasis dan jemaat, penataan organisasi hingga pengembangan kerjasama dengan agama-agama lain serta pemerintah (Indonesia). Dalam sejarahnya GPM juga menyatakan komitmennya untuk menjaga NKRI dan berkontribusi bagi nusa dan bangsa. Berbagai gelombang sejarah telah dilalui oleh gereja yang bermottokan : “Aku Menanam Apolos Menyiram tetapi Allah yang memberi Pertumbuhan” (1 Korintus 3:6).

Hingga saat ini GPM telah memasuki usianya yang ke-82. Sebuah perjalanan yang cukup panjang dengan berbagai dinamika yang sejarah yang penuh warna. Semua itu dapat dilalui karena Tuhan Sang Pemilik Gereja ini tidak pernah meninggalkan umatNya, tetap menjaga dan memelihara serta mengarahkan “bahteraNya” menuju Labuan yang dikehendakiNya. Pada sisi lain, para pelayan dan umat GPM senantiasa menjadi rekan sekerja Allah, berjalan bersama, menanam dan menyiram, menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah berupa kasih, keadilan, kebenaran, perdamaian dan keutuhan ciptaan Tuhan.

MENUJU GEREJA ORANG BASUDARA

Frasa Gereja Orang Basudara mulai diperkenalkan awal tahun 2017. Saat ini berlangsung peresmian gereja di Galala. Basudara Pela Galala yang berasal dari Hitu Lama dan Hitu Messing, datang membantu pembangunan gedung gereja. Meneruskan sebuah tradisi yang telah berlangsung ratusan tahun. Ikatan Pela menjadi “kekuatan maghis dan perekat sosial” yang mempersatukan Islam Kristen di Maluku. Sejak saat itu, frasa “Gereja Orang Basudara” mulai diperkenalkan oleh pencetusnya yang adalah ketua Sinode GPM, Pdt AJS Werinussa, M.Si. Gereja Orang Basudara menjadi bingkai sekaligus spirit bagi GPM dalam mengartikulasikan kehadirannya di tengah-tengah dunia, khususnya di provinsi Maluku dan Maluku Utara. Dalam frasa ini terselip paling kurang tiga hal.

Pertama, sebuah apresiasi fundamental terhadap sejarah dan budaya masyarakat kepulauan Maluku. Bahwa nilai-nilai budaya termasuk ungkapan-ungkapan yang memiliki semantik Maluku seperti “Orang Basudara”, “Salam-Sarane”, “Ale rasa beta rasa”, termasuk yang tersebar di berbagai wilayah lain di Maluku dan Maluku Utara merupakan “jejak sidik jari Allah” yang telah berkarya dalam lintasan sejarah. Pranata dan nilai-nilai budaya yang telah ada jauh sebelum kehadiran agama-agama samawi tidaklah harus dibuang dan dianggap kafir. Justru, gereja dipanggil untuk menggali dan mentransformasi budaya menuju pembebasan manusia dan alam semesta.

Kedua, Gereja Orang Basudara adalah sebuah penegasan hubungan kebersamaan dan persaudaraan yang melintasi agama, kampung, profesi, status sosial dan budaya. Orang Kristen dan Islam dapat hidup bersama dengan rukun. Tak perlu ada kebencian dan saling menafikan. Hidup bersama dalam perbedaan itu sebuah keniscayaan. Islam tak bisa hidup tanpa Kristen, demikian pula sebaliknya. Hal ini berlaku pula dengan agama-agama yang lain yakni Hindu, Budha, dan Konghucu bahkan agama-agama suku (lokal). Oleh sebab itu, GPM sebagai gereja orang basudara terus merajut kebersamaan lintas agama dan suku itu untuk menghadirkan kebaikan bersama bukan saja bagi gereja, tapi untuk semua ciptaan Tuhan. Itulah arti menjadi gereja yang otentik. Gereja diutus ke dalam dunia untuk membawa shalom Allah bagi dunia.

Ketiga, persaudaraan adalah kekuatan untuk membangun masa kini dan masa depan. Dapat dibayangkan apa jadinya jika kita membangun rumah masa depan dengan perselisihan dan konflik. Apa yang kita bayangkan terjadi jika setiap hari kita terlibat pertikaian dan saling membenci satu sama lain. Kita akan menjadi lemah dan tak berdaya. Sebaliknya, jika kita dapat membina suatu persaudaraan yang rukun dan solid maka ada banyak hal yang baik yang dapat dikerjakan. Dalam kitab suci Pemazmur berkata “Dalam persaudaraan yang rukun Tuhan memerintahkan berkat kehidupan”.

KEHADIRAN GEREJA DI RUANG PUBLIK

Gereja Protestan Maluku (GPM) selain sebagai lembaga keagamaan, ia juga merupakan lembaga sosial yang turut berkontribusi bagi pembangunan. Ia tidak hanya berkutat dalam tugas-tugas ritual namun juga ambil bagian dalam upaya-upaya pemberdayaan masyarakat, perkuatan ekonomi termasuk membangun semangat kebangsaan yang bertumpu pada Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. GPM melalui berbagai program dan kegiatannya menjadi mitra kritis pemerintah, agama-agama lain serta segenap kekuatan dalam masyarakat. Dengan semangat “gotong royong”, GPM berkolaborasi dan bersinergi bersama kekuatan-kekuatan sosial untuk menghadirkan kebaikan dan kesejahteraan bersama termasuk merawat bumi sebagai rumah bersama yang aman dan damai.

GPM diutus Tuhan untuk menjadi garam dan terang dunia. Sebuah analogi yang menegaskan bahwa GPM harus memberi “rasa” bagi dunia ini. GPM harus berani menyatakan keadilan dan kebenaran. GPM tidak berkompromi dengan ketidakadilan dan pengabaian hak-hak asasi manusia (HAM). Sebab jika hal itu, terjadi maka tugas menjadi garam dan terang itu menjadi hambar bahkan gagal. GPM harus bisa membangun dialog dan kerjasama serta terus merawat kebaikan yang terus bertambah-tambah. Ketika banyak orang dapat keluar dari lembah kemiskinan, pengangguran berkurang, masalah sosial seperti kekerasan, Narkoba, HIV AIDS makin menurun, persekusi dan konflik kian teratasi, maka itulah arti dan makna kehadiran dan misi gereja di tengah dunia, khususnya di kepulauan Maluku.

Tentu saja tugas ini tidak sepi dari tantangan dan ancaman. Bahkan GPM harus berani mengambil resiko, tidak larut dalam kenikmatan duniawi, dan terjebak jebakan egoisme, individualisme dan hedonisme. Nilai-nilai kesederhanaan dan ugahari seperti yang ditegaskan dalam dokumen Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) harus menjadi pilihan cara hidup para pelayan dan umat. Ketika dunia mengagungkan pemujaan kepada materi dan kuasa, maka gereja harus bisa memberi “interupsi sekaligus solusi” bahwa itu bukan tujuan hidup manusia. Tujuan hidup manusia adalah membangun kebaikan bersama, kesejahteraan bersama, bukan individualisme dan kepentingan sekelompok orang semata. Pilihan gereja adalah rela berkorban, kasih tak bersyarat dan komitmen untuk menjaga harmoni kehidupan, termasuk harmoni dengan alam semesta. Dalam kesadaran ini, maka GPM sebagai Gereja Orang Basudara akan memberi arah dan arti bagi hidup bersama yang lebih manusawi dan ramah lingkungan. Gereja yang merangkul dalam kasih dan meraih yang hilang dan tercecer dalam arakan-arakan kemajuan dunia ini. Selamat Hari Jadi GPM. Tetaplah menjadi gereja yang otentik.

 

Penulis   : Rudy Rahabeat, Pendeta Gereja Protestan Maluku

8,902 total views, 38 views today

About Media Center Gereja Protestan Maluku

Media Center GPM Merupakan Sarana Mengkomunikasikan Informasi Tentang Gereja Protestan Maluku Yang Tersebar di Maluku dan Maluku Utara, Bersifat Informatif, Serta Memberikan Pelayanan Pada Publik. Dapat Menghubungi Kami, Mengirim Informasi (berita) Melalui Email : mediacenter.gpm@gmail.com

Check Also

Menjadi Pelayan Sejati

Number of View: 0“Kenangan bersama sang Filsuf dari Timur” “Kalian belajar bertahun-tahun hanya untuk menjadi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *