Refleksi Hidup Berbangsa: Memanipulasi Sistem Hukum

Number of View: 0

Raja Ahab dari Israel mengingini kebun anggur Nabot, tetangganya.  Atas nasihat Izebel, isterinya, dimanipulasilah suatu tuduhan penistaan agama dengan menghadirkan dua saksi palsu: “Kemudian datanglah dua orang,…. Orang-orang dursila itu naik saksi terhadap Nabot di depan rakyat, katanya: “Nabot telah mengutuk Allah dan raja.” Sesudah itu mereka membawa dia ke luar kota, lalu melempari dia dengan batu sampai mati.” (1 Raja-raja 21:13) Wuih….jahatnya!!  Sistem hukum… koq…dimanipulasi untuk ambisi pribadi dengan menggunakan agama… Hmmm…agama bisa jadi alat kejahatan dong..!! Masak iyha sich…??!!

Semakin orang beragama dengan baik, seharusnya sistem hukum Indonesia makin berkeadilan… karena…Tuhan itu Maha Adil… lho…!!  Kalau sistem hukum justru makin tidak adil, bukankah ini penistaan agama yang sesungguhnya…???!! Benarkah..?? (BHS)

3,018 total views, 3 views today

Institut Leimena

Institut Leimena adalah lembaga non profit dengan misi: “Mengembangkan peradaban Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, dan peradaban dunia yang menjunjung tinggi harkat manusia, melalui kerjasama dalam masyarakat yang majemuk.” Kami percaya bahwa nilai-nilai keagamaan merupakan bagian integral sebagai landasan moral, etik, dan spiritual untuk membangun bangsa dan negara Indonesia serta dunia yang lebih baik. Dalam semangat kebersamaan dan kemajemukan, kami berusaha agar para pemimpin agama bersama dengan para pemimpin publik, baik di Indonesia maupun di dunia, dapat bekerjasama dalam mengisi landasan moral, etik dan spiritual tersebut. Hal ini dilakukan dengan senantiasa menghormati dan menjaga keberagaman dan kesetaraan dalam masyarakat.

39 thoughts on “Refleksi Hidup Berbangsa: Memanipulasi Sistem Hukum

Leave a Reply

Your email address will not be published.