Home / Opini / Sekali Lagi : Gereja Orang Basudara

Sekali Lagi : Gereja Orang Basudara

Number of View: 0
[Ambon, sinodegpm.org] -Kesempatan eksklusif mewawancarai Ketua Sinode GPM, Pdt AJS Werinussa. Mencoba menyibak konteks dan makna dibalik frasa “Gereja Orang Basudara” yang menggaung akhir-akhir ini di seantero wilayah pelayanan Gereja Protestan Maluku (GPM).

Di pintu masuk ruang kerja Ketua Sinode tergantung sebuah foto berukuran sedang. Nampak Ketua PB NU KH Prof Said Aqil Siraj didampingi ketua Sinode GPM. Di samping kiri tempat duduk ketua, persis di pojok atas terpampang foto KH Abdul Ghani Kasuba, Gubernur Maluku Utara didampingi Ketua Sinode yang mengenakan kemeja warna putih.

Kedua foto itu dan beberapa foto yang terpampang di ruang itu seakan hendak menegaskan aura “Gereja Orang Basudara” yang sedang diperagakan di gereja dan ruang publik. Saya meminjam istilah “peragaan” sebagai salah satu kata kunci yang diucapkan Ketua Sinode saat percakapan berlangsung. Ingatan saya dibawa pada buku “The Presentation of Self in Everyday Life” karya Irving Goffman (1959).

Pada buku itu Goffman antara lain membedakan penampilan atau peragaan “diri” dalam ruang sosial dengan dua strategi yang sebut sebagai “back stage and front of stage”. Orang menghadirkan dirinya secara berbeda pada “panggung depan” dan “panggung belakang”.

“Awalnya ketika momen peresmian gedung Gereja Galala. Ada umat Muslim yang hadir merupakan “Pela/Gandong” Negeri Galala. Mereka memeragakan sebuah lakon persaudaraan yang otentik. Kemudian terlintas spontan dan terungkap dalam ucapan frasa “Gereja Orang Basudara” itu.

Kilasan inspirasi itu laksana kilatan peristiwa “pencerahan” pada beberapa tokoh seperti Paulus di Damsyik, atau Luther ketika mendapat “ilham” saat menemukan frasa “orang benar hanya hidup oleh iman” yang memandunya menafsir kitab Roma yang terkenal itu, serta menggerakan reformasi Protestantisme.

GEREJA YANG MELINTAS BATAS

Dengan ringkas disebutkan bahwa gereja orang basudara adalah gereja kemanusiaan. Pada titik kemanusiaan itu batas-batas menjadi cair. Perbedaan agama, suku dan ideologi melebur dalam spirit kemanusiaan bersama. Ketika ditanya soal salah satu “perangkap” Gereja Orang Basudara yakni dapat terjebak dalam antroposentrisme dan mengabaikan dimensi ekologis, dengan tegas ia menyatakan, tidak demikian. “Justru dalam spirit persaudaraan, manusia dipanggil merawat bumi sebagai rumah bersama” ungkapnya.

Ia kemudian merujuk pada beberapa teks Kitab Suci yang menegaskan dimensi melintas batas agama, suku dan budaya itu. Kisah perempuan Siro Fenesia, kisah Zakeus, Kisah Orang Samaria yang Murah Hati, dan sebagainya merupakan bukti bahwa Yesus melintasi batas dan membawa misi kemanusiaan yang membebaskan. Yesus menerobos cara berpikir eksklusif dan menghadirkan corak kehidupan yang berlandaskan kasih yang tak terbatas (unlimited love).

Menurutnya konsep Gereja Orang Basudara memang perlu dielaborasi lebih lanjut. Untuk itu Sinode telah membentuk Tim Penulis Eklesiologi Gereja Orang Basudara. Tujuannya, agar kesadaran dan komitmen merajut persaudaraan itu tidak sebatas wacana, tapi menyatu dalam totalitas kehidupan bergereja, termasuk turut mewarnai Tata Gereja, Ajaran Gereja dan berbagi regulasi terkait. “Saya mengharapkan kelak, Gereja Orang Basudara menjadi spirit yang bukan saja relevan bagi konteks lokal di Maluku, tapi juga merangkul yang nasional dan global” ungkap penyuka warnah putih ini.

REFLEKSI 500 TAHUN REFORMASI

Wawancara ini sebetulnya bermaksud menangkap beberapa gagasan kunci berkaitan dengan rencana diterbitkannya buku dalam rangka memperingati 500 tahun Reformasi Luther. Berdasarkan mandat Sidang MPL Sinode 2017 di Wainibe Buru maka bersama John Saimima kami dipercayakan mengedit sebuah buku kumpulan tulisan yang berjudul: GEREJA ORANG BASUDARA. Refleksi 500 Tahun Protestantisme”.

Buku ini merupakan sketsa pemikiran yang mencoba memotret spirit Protestantisme dan memaknainya dalam kehidupan bergereja, berbangsa dan bermasyarakat.  500 tahun Protestantisme mesti membuat orang Kristen lebih radikal dalam memahami dan memaknai panggilannya di dunia.

Termasuk dalam hal kritik diri yang fundamental. “Ada semacam benturan Protestantisme dengan pergumulan gereja di Maluku. Dan gereja perlu melakukan “reformasi jilid 2 terhadap warisan-warisan Protestantisme itu sendiri”, ungkap Ketua Sinode.

Kalimat ini tentu memiliki makna yang tidak sederhana. Sebab Protestantisme sebagaimana digerakan di Eropa (Jerman) pada saat itu memiliki konteks tersendiri. Begitu pula ketika tiba di Ambon, 27 Pebruari 1605 yang ditandai dengan ibadah perdana di Benteng Victoria juga memiliki corak tersendiri. Selanjutnya ketika berinteraksi dengan konteks ke-Maluku-an, tentu Protestantisme mesti memiliki wajahnya yang khas. “Gereja Orang Basudara merupakan salah satu wajah tersebut” ringkas Ketua Sinode.

Patut disadari bahwa teologi dan juga eklesiologi bukan “manna” yang turut dari Sorga. Ia merupakan pergumulan eksistensial orang beriman di tengah pusaran zamannya. Demikian pula gagasan-gagasan yang kelihatannya terserak bagai mozaik, bisa memiliki makna dan warna jika dirangkai dengan cermat dan penuh cinta. GEREJA ORANG BASUDARA merupakan salah satu mozaik itu. Dan sejauhmana ia memberi makna dan warna dalam ziarah kehidupan bergereja dan juga berbangsa, sejarah  jualah yang akan mengujinya, dan Tuhanlah yang akan merahmatinya.

 

Penulis     : Rudy Rahabeat - Pendeta Gereja Protestan Maluku 

Editor      : Media Center GPM

 

 

2,356 total views, 3 views today

About Media Center Gereja Protestan Maluku

Media Center GPM Merupakan Sarana Mengkomunikasikan Informasi Tentang Gereja Protestan Maluku Yang Tersebar di Maluku dan Maluku Utara, Bersifat Informatif, Serta Memberikan Pelayanan Pada Publik. Dapat Menghubungi Kami, Mengirim Informasi (berita) Melalui Email : mediacenter.gpm@gmail.com

Check Also

Bongkarlah Penjara Stigma

Number of View: 0Mula Kata Dalam banyak hal, orang lemah mengalami beban ganda. Secara sosial, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WordPress spam blocked by CleanTalk.