Home / Opini / Dimana Ayat-Ayat Sosial ?

Dimana Ayat-Ayat Sosial ?

Number of View: 0

Salah satu semboyan reformasi Luther 500 tahun adalah “Sola Scriptura”, hanya Kitab Suci. Tapi bagaimana ayat-ayat Kitab Suci hadir bersampingan dengan kitab sosial menjadi ayat-ayat Sosial? Dalam teks ini ayat-ayat sosial bukan saja ikhwal realitas masa lalu tapi masa kini dan juga masa depan.

Tiga minggu terakhir ini saya beribadah minggu pada sore/malam hari, masing-masing di tiga gereja secara berturut-turut; Maranatha, Bethania dan Rehoboth. Tiga orang pengkhotbah dengan latar keahlian beragam. Pdt Yanes Lorwens, yang sedang merampungkan disertasi filsafat, Pdt John Ruhulessin yang ahli sosiologi agama dan Pdt Vecky Untailawan yang menulis tesis tentang Tete Manis dalam kerangka teologi kontekstual.

Secara sekilas saya melihat ada keragaman sudut pandang dan cara mendekati teks. Yang pertama nyaris irit kutip ayat kitab suci, yang kedua lebih memberi penekanan pada teks-teks sosial (realitas sosial) dan yang ketiga, cukup kerap mengutip dan mengulas ayat kitab suci dengan agar normatif.

Apa yang mau saya bilang dari cerita di atas? Bahwa sebuah teks kitab suci terbuka untuk ditafsir dan dimaknai oleh siapa saja (dalam konteks ini oleh para pendeta) dan para penafsir juga “lentur” untuk menyampaikan pesan kepada pendengar atau umat. Semua itu tak lepas dari latar belakang masing-masing penafsir.

Dan cerita ini saya ingin kaitkan dengan perubahan model penyajian materi bimbingan khotbah minggu GPM. Jika awalnya teks-teks kitab suci yang dipilih dibingkai dengan tema spesifik yang disiapkan oleh LPJ, dan tema-tema itu merupakan “turunan” dari tema tahunan dan atau lima tahunan GPM, maka sejak Januari 2017 ada perubahan pola. Kali ini lebi terfokus pada “perikop” dan menarik pesan perikop menjadi tema. Pertanyaan, bagaimana kaitannya dengan tema tahunan dan lima tahunan?

Beberapa rekan pendeta memberi argumentasi bahwa konteks itu menjadi tanggungjawab sang pengkhotbah untuk mengeloborasinya sesuai konteks masing-masing. Seorang dosen yang saya tanyai menyebutkan bahwa hal itu perlu, agar penafsir tidak melenceng jauh dari teks kitab suci yang sudah ditetapkan. Jawaban yang terakhir ini lagi-lagi masih belum cukup jelas menjawab pertanyaan saya di atas.

Atau lebih jelasnya begini. Jika khotbah (minggu) dimaknai sebagai salah satu jembatan komunikasi untuk menjelaskan dan mendaratkan tema dan atau sub tema pun “mencicil” visi dan misi lembaga gereja di tiap arasnya, dan itu juga ada dalam batasan waktu tertentu (entah satu atau lima tahun) maka pertanyaannya, bagaimana hasilnya jika di ujung masa berlaku “tema tahunan atau lima tahunan” pesan-pesan subtantif dari tema itu belum atau tidak terjawab?  Kawan-kawan di Litbang akan melakukan proses monitoring dan evaluasi untuk mengukur konsistensi dan inkonsistensi seluruh metode pembinaan (termasuk khotbah) apakah tetap berada dalam koridor atau alur bersama, atau malah terlalu longgar dan meluber kemana-mana. Di sini sini ungkapan “mengalir seperti air” perlu diberi bingkai bahwa ke arah mana air itu mengalir itu juga penting agar airnya tidak mengalir kemana-mana saja, tapi mestinya ke muaranya.

Sudah 6 bulan lebih langkah “rubah pola” ini diambil. Mungkin tidak salah untuk melakukan evaluasi untuk menjawab 3 pertanyaan ini. Pertama, apakah para pengkhotbah sudah tepat memahami “logika” dibalik kebijakan baru ini? Kedua, apakah kebijakan baru ini cukup penad dengan target tema tahunan dan lima tahunan? Ketiga, bagaiamana respons umat terhadap hal tersebut.

Melalui sebuah alur “chek and richek” yang terstandarkan maka setiap inovasi dan terobosan akan bisa dilihat manfaatnya, jika tidak ingi terjebak dalam ungkapan “semua pasti cocok”. Sebab biasanya, “penyesalan” muncul di bab terakhir dan kita tidak cukup peka membaca tanda-tanda zaman.

Refleksi saya ini tentu tidak bersandar pada informasi yang cukup rinci tentang “dinamika dapur” di mana kebijakan ini di tempuh. Tapi satu hal yang lebih mendasar juga adalah ketika kita hendak meletakannya dalam diskursus yang lebih subtantif yakni posisi teks Kitab Suci dan teks-teks sosial yang terus berdinamika. Apakah bersifat sentripetal atau sentrifugal? Apakah deduksi atau induksi, apakah etik atau emik? Atau malah campuran semuanya. Yang terakhir ini sepertinya mudah dibilang, tapi jika menilik urgensi dan realitas masa kini, maka perlu sebuah kejernihan dalam menentukan posisinya.

Dalam spirit 500 tahun Protestantisme dengan slogan “Sola Scriptura” maka pertanyaan menarik yang perlu dijawab bersama adalah, bagaimana menafir ayat-ayat kitab suci dan ayat-ayat sosial secara berimbang dan relevan. Soalnya tidak sebatas tafsir tapi sudah menyentuh ranah hermenutik, dan ini perlu elaborasi kawan-kawan yang hendak menjelaskan lebih jauh.

Selamat memaknai 500 tahun Reformasi Protestantisme !

 

Penulis : Pdt.Rudy Rahabeat,.M.Hum Pendeta Gereja Protestan Maluku. Saat ini sementara menyelesaikan studi S3 di Universitas Indonesia.

1,199 total views, 3 views today

About Media Center Gereja Protestan Maluku

Media Center GPM Merupakan Sarana Mengkomunikasikan Informasi Tentang Gereja Protestan Maluku Yang Tersebar di Maluku dan Maluku Utara, Bersifat Informatif, Serta Memberikan Pelayanan Pada Publik. Dapat Menghubungi Kami, Mengirim Informasi (berita) Melalui Email : mediacenter.gpm@gmail.com

Check Also

Setelah 50 Tahun Wadah Pelayanan Perempuan GPM

Number of View: 0  Wadah Pelayanan Perempuan (WPP) Gereja Protestan Maluku (GPM) merupakan wadah berhimpun, …

One comment

  1. Loving the info on this website , you have done great job on the articles.




    0



    0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WordPress spam blocked by CleanTalk.