Home / Opini / Warna Alam Bumi Slealale

Warna Alam Bumi Slealale

Number of View: 0
[Ambon, sinodegpm.org] – Slealale adalah desa kecil di tanah Buru (fuka Bipolo) berjarak kurang lebih 10 KM dari pesisir pantai. Dari tengah laut desa ini kelihatan seperti sebuah kerajaan tradisional yang dipagari pohon-pohon dan dinding tanah yang tinggi.
Mendaki dari WaeWali, sebuah desa di pesisir yang baru saja membangun setelah konflik sosial Maluku 1999, Slealale merupakan negeri bekas tapak-tapak pensejahteraan yang belum selesai.

Sebuah jembatan kayu kelapa menjadi titian penghubung pertama di tengah hutan itu. Beberapa KM di depan, ada pula sebuah jembatan kayu yang dibangun masyarakat di samping dua tungku beton sebelah-menyebelah kali mati peninggalan proyek jembatan beton yang telah ditinggalkan para kontraktor.

Semakin menanjak, jalan tanah itu bercerita tentang proyek jalan rintis desa yang pernah digusur dan tidak pernah diaspal. Beberapa pengojek tampak cekatan memainkan sepeda motornya di jalanan tanah berlobang dan berbatu. Mereka menjadi rider oleh karena keadaan dan berlomba di lintasan tanah merah tanpa alat pengaman tubuh.

Menurut cerita Pdt. Yotam Manuhutu, Ketua Majelis Jemaat GPM Slealale, padahal saat menggusur jalan, anggota jemaat/penduduk merelakan dusun kelapanya digusur. Mereka bermimpi tentang kesejahteraan, tentang kendaraan dan lalu lalang perdagangan hasil bumi yang melimpah di situ. Alhasil, belum ada perubahan struktur jalan dan jembatan.
Namun jangan heran jika anda kemudian melihat di puncak gunung itu rumah warga semuanya berdinding beton. Mereka berjuang memikul semen dari pesisir pantai ke gunung dengan berjalan kaki.

JEJAK-JEJAK PENSEJAHTERAAN

Jalan tanah merah dan tungku jembatan adalah jejak usaha pensejahteraan yang belum tuntas. Entah kapan proyek itu diselesaikan. Natsir Lesbata, sang Kepala Desa, tidak bisa memastikan sebab ia hanya seorang kepala dari sebuah desa berpenduduk 134 kk.
Ia sebenarnya menaruh harapan besar, suatu waktu jejak-jejak itu dikerjakan hingga tuntas. Sebab masih ada pula bangunan Puskesmas Pembantu yang baru namun belum tuntas, tanpa meubeler, dan seperti di kebanyakan desa lain, tanpa tenaga medis. Ini menyisahkan jejak baru yakni kelangkaan pelayanan kesehatan warga.

Begitu pula satu bangunan Taman Kanak-Kanak yang bernasib sama dengan Pustu tersebut. Riwayat pendidikan adalah juga sama, sama-sama belum terangkat secara baik. Entah siapa gurunya, walau tentu ada sejumlah anak usia dini yang menanti waktu kapan bisa bermain sambil belajar di situ.
Sebuah bangunan SD sederhana dengan 6 ruang kelas, milik Yayasan Penyelenggaraan Pendidikan Kristen (YPPK) Dr. J.B. Sitanala, milik Gereja Protestan Maluku (GPM) juga menambah jumlah jejak pensejahteraan yang belum tuntas. Keterbatasan tenaga guru telah menjadi masalah klasik YPPK yang hingga kini belum tertangani.
“TAK KURANG HASIL KEBUN KAMI”

Anda tentu akan terkesima jika melihat terong berukuran besar hampir seukuran betis dengan panjang nyaris satu lengan orang dewasa. Belum selesai kekaguman itu, anda bisa menikmati kentang, buncis, wortel dan kol segar tanpa pupuk. Begitu pula dengan pisang, keladi, kasbi, dan aneka buah-buahan termasuk salak yang gurih.

Sebab itu kemiskinan adalah ironi. Sebuah fakta usang yang tidak perlu didebatkan atas dasar sejumlah kriteria. Kemiskinan bagi orang Slealale adalah rendahnya perputaran uang akibat tidak ada sarana transportasi untuk mendistribusi kekayaan hasil kebun itu ke pasar. Mereka berjuang dengan sarana transportasi yang serba terbatas, asal bisa mencadangkan dana untuk pendidikan anak yang sudah merantau ke pusat Kecamatan, Leksula, untuk sekolah di SMP dan SMA. Juga di Ambon bagi yang sudah berkuliah.
Dalam tingginya dinamika ketidakseimbangan sosio-ekonomi itu, Slealale hanyalah satu di antara 30 Jemaat GPM lainnya di Buru Selatan yang terbenam di dalam hutan nan biru, sambil memeluk sejuta potensi kekayaan alam dengan secuil mimpi kecil, kapan jejak pensejahteraan itu tuntas dikerjakan.

Mari mendaki. Mari menjejaki kaki di negeri di atas awan. Jangan takut tidak mandi, sebab di sini, airnya segar. Jangan takut ketinggalan menonton satu episode sinetron, sebab kami punya parabola dan mesin listrik diesel untuk satu negeri. Jangan takut tidak makan enak, mari nikmati segala makanan tanpa pupuk.
(Batik Air, ID6171V, 11/3-2017, Elifas Tomix Maspaitella, Sekum Sinode GPM)

1,416 total views, 2 views today

About Media Center Gereja Protestan Maluku

Media Center GPM Merupakan Sarana Mengkomunikasikan Informasi Tentang Gereja Protestan Maluku Yang Tersebar di Maluku dan Maluku Utara, Bersifat Informatif, Serta Memberikan Pelayanan Pada Publik. Dapat Menghubungi Kami, Mengirim Informasi (berita) Melalui Email : mediacenter.gpm@gmail.com

Check Also

Bongkarlah Penjara Stigma

Number of View: 0Mula Kata Dalam banyak hal, orang lemah mengalami beban ganda. Secara sosial, …

One comment

  1. Wow, marvelous blog layout! How long have you been blogging for? you made blogging look easy. The overall look of your web site is magnificent, as well as the content!




    0



    0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WordPress spam blocked by CleanTalk.