Tertib Kosmos Dalam Antropologi Buru

Number of View: 0

Masyarakat manusia yang berkembang dari waktu ke waktu memerlukan dan membangun suatu sistem organisasi yang baik. Tujuannya agar ada keteraturan dan ketertiban. Dalam semua hal yang diatur, salah satunya ialah peran adatis atau peran sosial.

Yang menarik ialah pembagian peran itu sangat terkait dengan seluruh unsur kosmos di dalam lingkungan keberadaan (habitus) masyarakat itu.

Orang Buru, atau geba fuka Bipolo menata semua itu dengan peran pusat pada matgugul. Saya minta maaf karena jelajah saya minim terhadap realitas matgugul.

Hal itu karena sejak pelaksanaan MPP AMGPM di Tifu saya mendengar marga Besan, yang katanya sebagai “penjaga matahari naik”. Dan beberapa tahun lalu, rekan saya Pdt. Wen Lesbassa menyebut marganya sebagai “gebrihi”, penjaga matahari maso (masuk).

Saat itu dan sampai pelaksanaan MPL Sinode GPM di Waenibe, saya berusaha memahami tatanan alam Buru dengan mencari kekaitan dua peran adatis maha penting ini.

Hinolong Lea Keha = penjaga matahari naik, adalah peran yang dipercayakan kepada “hinolong baman”, yaitu marga Besan, sedangkan Hinolong Lea Sebo = penjaga matahari maso dipercayakan kepada Hinolong Gebrihi, yaitu marga Lesbassa.

Posisi mereka adalah di Timur dan Barat Pulau Buru. Fungsinya menentukan alur waktu dan peran sosial semua masyarakat serta menjadi pengantara masyarakat atau orang dagang dengan matgugul.

Terlepas dari situ, yang mau ditegaskan di sini ialah peran mereka merupakan cara masyarakat adat Buru mengatur sistem sosial dan aktifitas manusia dalam irama waktu yang tertib. Tertib kosmos bukan sekedar waktu pagi ke malam, melainkan penghayatan atas apa yang perlu dilakukan sejak pagi buta sampai tengah malam.

Ada hukum resiprositas tetapi sebenarnya juga suatu perspektif sustainability (keberlanjutan) dalam irama dan aktifitas sosial sesehari masyarakat Buru. Dan kedua Hinolong ini menjadi subyek yang mengawasi dan mengaturnya.

Dalam kaidah itu, istilah primitif ternyata tidak mengindikasikan keterbatasan masyarakat dalam aspek waktui karena di Buru, sustainabilitas sosial, yang katanya ciri masyarakat modern, sudah menjadi perspektif pengorganisasian sosial sejak dahulu kala.

Oras gosat!

(Foto di bawah bukan dua Hinolong. Foto itu mengilustrasikan model ikatan ifutin/lestari yang berbeda antara bobato dan masyarakat biasa).

Penulis : Pdt.E.T.Maspaitella,.M.Si

Jabatan : Sekum MPH Sinode GPM

3,437 total views, 1 views today

Media Center Gereja Protestan Maluku

Media Center GPM Merupakan Sarana Mengkomunikasikan Informasi Tentang Gereja Protestan Maluku Yang Tersebar di Maluku dan Maluku Utara, Bersifat Informatif, Serta Memberikan Pelayanan Pada Publik. Dapat Menghubungi Kami, Mengirim Informasi (berita) Melalui Email : mediacenter.gpm@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.