Hakekat Idul Adha dan Hancurnya Prasanka Itu

Number of View: 0

Ambon, SinodeGPM.ORG – Pelaksanaan Training of Trainers (TOT) Kerjasama Lintas Iman bagi pendeta-pendeta Gereja Protestan Maluku (GPM) di wilayah Maluku Utara sementara berlangsung di Gereja Ayam, Kota Ternate, sejak tanggal 11 – 15 September 2016. Ini seri ketiga pelaksanaan TOT Kerjasama Lintas Iman yang berlangsung di berbagai wilayah pelayanan GPM di seluruh Maluku dan Maluku Utara.

Pada sesi “membongkar prasangka” dihari ini, mengalir kisah-kisah yang luar biasa dari para pendeta yang menceritakan perjumpaan-perjumpaan lintas iman, sepanjang pelaksanaan tugas mereka di berbagai wilayah. Salah satu kisah menarik dituturkan oleh Pendeta Litha Kayadoe dalam sesi yang difasilitasi beta pada hari ini. Pendeta Litha telah bertugas selama 4 tahun di Jemaat GPM Wayaluar, Klasis GPM Pulau-Pulau Obi, Maluku Utara. Berikut ini beta menuturkan ulang cerita Pendeta Litha, dan membaginya sebagai kisah inspirasi dihari ini.
______________________________________

Beta sangat trauma dengan konflik di Negeri Waai – Pulau Ambon 15 tahun lalu. Saat itu beta punya opa, ipar, serta kakak sepupu meninggal didalam konflik. Pengalaman traumatis itu terbawa sampai 15 tahun kemudian, ketika beta sudah bertugas sebagai pendeta di Desa Wayaluar, Pulau Obi – Provinsi Maluku Utara. Kalau di Wayaluar terdengar orang mengetok “toleng-toleng” (kentongan), seketika pengalaman traumatic itu muncul kembali.

Rasa traumatic itu juga yang mungkin terbawa, ketika beta bersama suami dan anak kami yang baru berumur 1,3 tahun menumpangi kapal dari Wayaluar di Kepulauan Obi – Maluku Utara menuju Kota Ternate. Kami ke Ternate karena beta akan berpartisipasi dalam kegiatan “Training of Trainers (TOT) Kerjasama Lintas Iman Klasis-Klasis GPM di Wilayah Maluku Utara, yang akan berlangsung dari tanggal 11-15 September 2016.

Saat kami di kapal, seorang pemuda yang tidak dikenal menghampiri beta. Seketika ia bertanya dengan sopan, “Ibu Pen (pendeta), nanti kalau transit mau tidur dimana?” Beta agak kaget, namun menjawab, “Katong (kita) tidur di kapal saja, bapak” Namun ia menanggapi selanjutnya, “Jangan ibu, turun dan tidur di kita saja. Kita punya rumah dekat pelabuhan sini.” Beta menolak halus, “tidak usah karena anak kecil ini rewel.” Terkesan sedikit mendesak, ia berkata “Ah, tidak apa-apa ibu.” Karena didesak terus, akhirnya beta menyetujui ajakan itu. Rasa percaya beta sedikit berkembang saat melihat symbol yang ada di topinya. Dari symbol itu beta tahu bahwa mungkin saja dia bekerja sebagai pegawai di pelabuhan Wayaluar. Barangkali seseorang yang mengenal beta dan keluarga disana telah menitipkan kami pada pemuda ini.

Ketika kapal merapat di dermaga Desa Jikutamu, pemuda itu tidak lagi terlihat. Kami memutuskan turun sejenak di pelabuhan. Saat di dermaga, kami menjumpai pemuda itu telah menunggu dengan motornya. Kemudian kami tahu bahwa ia sudah ke rumahnya untuk mengambil motor dan menjemput kami disitu.“Ibu, kita tunggu-tunggu ternyata ibu belum turun. Kita sudah tanya ke orang-orang, dan kata mereka ibu Pen masih di kapal. “Mari sudah, beta su jemput nih,” kata pemuda itu spontan saat menjumpai kami di dermaga. Seketika kami tahu bahwa ia telah juga membawa satu motor ojek untuk menjemput kami. Dengan menumpangi dua buah motor, kami segera meluncur ke rumahnya. Setelah beberapa saat berkenderaan, kami menyadari bahwa lokasi rumahnya cukup jauh dari pelabuhan. Kami melewati masjid desa itu dan tiba di rumahnya yang terletak di ujung kampung.

Setibanya di rumah, kita diterima biasa-biasa saja. Ibu dari pemuda itu agak terkejut karena kita membawa anak kecil. Setelah duduk sejenak, beta minta ijin dari ibu pemuda itu untuk pergi beli susu bagi anak beta. Dia mengijinkan beta menggunakan motor mereka untuk pergi. Saat kembali, beta melihat ada banyak orang yang berkumpul di Masjid. Memang beta tahu bahwa besok akan ada perayaan Idul Adha. Meskipun demikian, karena khawatir, beta tidak lagi berpikir bahwa orang-orang itu berkumpul untuk persiapan perayaan itu. Apalagi saat melintas, beta melihat ada satu pemuda menenteng alat serupa tombak untuk berburu binatang, dan sempat menatap beta seperti orang asing.

Saat tiba di rumah, beta keluar lagi untuk membeli sabun mandi. Ketika di warung, pada beta ditanya, “bibi dari mana?” Dari Wayaluar, jawab beta. “Orang Wayaluar asli?” tanya ibu warung itu menyidik. Bukan, beta tugas disana. “Oh begitu, tugas sebagai apa?” Beta jadi pendeta, jawab beta pelan. Seketika terasa ketegangan melintas, dan beta bergegas pulang.

Setibanya di rumah, beta bercerita kepada suami bahwa beta melihat banyak orang berkumpul di Masjid. Dengan agak khawatir beta bertanya, “apakah aman kita tidur disini?” Suami beta spontan menjawab, “sebaiknya kita beresin pakaian dan pergi tidur di Kampung Baru.” Kampung Baru adalah salah satu Jemaat GPM yang berjarak lebih kurang 3 km dari Desa Jikutamu. Beta semakin khawatir, namun tidak berani menyampaikannya kepada ibu pemuda itu, apalagi si pemuda sudah tak terlihat di rumah. “jangan-jangan dorang (mereka) sudah pergi untuk atur strategi,” kata beta kepada suami. “Besok khan hari raya Qurban, jangan sampai mereka mau mengorbankan kita.” Malam itu beta tidak tidur sampai jam 4 subuh. Ketika sejenak tertidur, beta terbangun lagi oleh suara adzan subuh.

Selang beberapa waktu menunggu, beta memberanikan diri keluar. Di luar beta melihat bahwa keluarga itu telah bergegas mau pergi sholat Idul Adha. Saat melihat beta, ibu pemuda itu berkata, “Ibu, kita mau pergi sholat. Kita sudah taruh (menyediakan) air mandi buat adik kecil, dan makanan pagi tersedia di meja dapur. Maaf, kita tak bisa melayani ibu karena kita sudah mau pergi sholat. Silahkan ibu layani diri sendiri saja ya,” kata ibu itu dengan ramah. “Oh tidak apa-apa ibu,” jawab beta. Ketika mereka pergi, beta segera ke dapur. Disitu beta menemukan ia segala macam makanan dan panganan telah tersaji rapi di meja makan. Seketika rasa berdosa menjangkiti beta, dan menggetarkan seluruh tubuh. Dalam hati beta mengucap, “Oh Tuhan, beta sudah berdosa sekali. Beta berdoa dari malam sampai pagi. Ternyata apa yang beta duga itu ternyata keliru.” Keluarga ini sangat baik, bahkan mungkin lebih baik dari kami orang Kristen.

Setelah pulang sholat, kami memperoleh waktu untuk bercerita. Pemuda itu bernama Ilham Benu. Dia baru bekerja 2 minggu sebagai petugas pelabuhan di Wayaluar. Menurutnya, tidak ada orang dari Wayaluar yang menitipkan beta dan keluarga kepada dia di kapal. Ilham hanya melihat beta dengan anak kecil dan merasa kasihan. Dia lalu berpikir, masa ibu pendeta tidur dengan anak kecil di kapal. Ilham mengetahui profesi beta sebagai pendeta, karena ketika berangkat dari Wayaluar dia mendengar ada orang yang menyapa beta dengan panggilan ibu pendeta.

Melalui percakapan singkat itu, beta mengetahui bahwa ayah Ilham pernah tinggal di daerah Jembatan Gurita, Lateri – Ambon. Ibu Ilham berdarah Tobelo-Galela. Di Jikutamu, ayah Ilham berkerja sebagai pimpinan buruh di pelabuhan. Kebetulan suami saya juga berdarah Tobelo-Galela. Mengetahui itu, ibunya Ilham spontan berkata, “sudah ibu, kalau begitu kita ini keluarga. Suami saya keluar dari Ambon, sementara saya berdarah Tobelo-Galela. Ibu pendeta juga dari Ambon, dan suami ibu berdarah Tobelo-Galela.” Sungguh saya terharu mendengarnya.

Pengalaman ini menjadi salah satu penumbuk yang menghancurkan persepsi beta sebelumnya bahwa orang Islam itu jahat dan munafik. Beta memang sadar bahwa menggeneralisir itu keliru, tetapi trauma konflik tahun 1999 di Ambon sering melemparkan beta dalam kecemasan yang berlebihan. Beta telah sering menemukan orang Muslim yang baik, dan kini beta menemukan kembali orang Muslim yang kebaikannya bahkan mungkin melebihi orang Kristen. Belum tentu orang Kristen melihat beta di kapal dengan anak kecil, lalu manaruh rasa iba seperti yang dilakukan Ilham.

Dari pengalaman ini juga beta diperkuat untuk tidak selalu menilai buku dari sampulnya. Beta harus terus belajar untuk bersikap terbuka dan menerima orang lain. Memang kerapkali ada orang yang datang dan membisiki beta untuk tidak bergaul dengan kelompok ini atau kelompok itu, karena mereka sangat fanatic dalam beragama. Ternyata kita tak harus berpikir seperti itu. Meskipun ada juga yang bersikap keras, namun beta telah membuktikan bahwa dalam banyak pekerjaan gereja dan jemaat GPM di Wayaluar, komunitas Muslim sering terlibat untuk membantu kami tanpa diminta. Dengan cara-cara yang sederhana, beta terus belajar bahwa, sesungguhnya, dialog lintas agama itu adalah hidup sehari-hari.

Selamat merayakan Idul Adha, Ilham Benu dan keluarga. Terima kasih telah membagi hakekat luhur pengurbanan itu dengan cara yang sangat nyata, sekaligus menjungkir-balikan prasangka-prasangka beta.

**Penulis : Pdt.Jacky.Manuputty,.MA (Dirut Balitbang GPM)

25,820 total views, 148 views today

Media Center Gereja Protestan Maluku

Media Center GPM Merupakan Sarana Mengkomunikasikan Informasi Tentang Gereja Protestan Maluku Yang Tersebar di Maluku dan Maluku Utara, Bersifat Informatif, Serta Memberikan Pelayanan Pada Publik. Dapat Menghubungi Kami, Mengirim Informasi (berita) Melalui Email : mediacenter.gpm@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.