Home / GPM Terkini / PA Pada Hari Ketiga Sidang Sinode GPM Ke-37

PA Pada Hari Ketiga Sidang Sinode GPM Ke-37

Number of View: 0

P_20160126_102836_pAmbon – SinodeGPM.Org – Memasuki hari ke tiga peyelenggaraan Sidang Sinode GPM Ke-37 yang berlangsung sejak 24/1/16, yang di awali dengan ibadah pagi yang di bawakan oleh Klasis GPM Pulau-Pulau Babar, teks bacaan Alkitab yang di pakai yakni Lukas 15:11-32 dalam proses PA (Pendalaman Alkitab) di mulai Pukul 08.30 WIT bertempat di gedung gereja marantha ambon. PA tersebut di bawakan oleh Pdt.Ny.L.Ruhulessin,.S.Th, dalam paparannya beliau mengakatakan demikian ;

Perumpamaan “anak yang hilang” cukup dikenal oleh kita semua. Ketika membacanya kembali saat ini, janganlah cepat-cepat kita mengingat inti beritanya yakni “Bapa yang penuh cinta kasih”, dia di sebut pada awal ceritera (ay.11) dan pada akhirnya (ay. 32). Sebab ceritera ini mengungkapkan kenyataan hidup sehari-hari, sehingga seluk beluk ceritera perlu dilihat juga untuk menolong kita semakin memahami cinta kasih Bapa bagi anak-anakNya. Di pihak lain, memahami sikap dan perilaku anak-anak terhadap Bapanya di tengah kerasnya hidup, namun akhirnya diselamatkan oleh Bapa.

Bertolak dari tema dan sub tema Sidang ke-37 Sinode GPM ini, maka teks ini akan kita baca dengan menggunakan sudut pandang “pro – hidup”. Bagaimana perumpamaan ini dibaca dari sudut pandang pro-hidup, sehingga dia menginspirasikan kita sebagai pribadi maupun persekutuan umat Tuhan untuk saling memberi hidup, hidup untuk menghidupkan; seperti yang dikehendaki Tuhan bagi umat ciptaanNya.

Dalam kaitan itu, ada beberapa hal yang akan dibahas :

1. Mengenal Allah dan KehendakNya

  • Teks ini menggambarkan karakter Allah sebagai Bapa yang penuh cinta kasih.

Sang Bapa memberi kebebasan bagi anak-anakNya untuk memilih jalan hidupnya (ay.12b). Karakter Allah bukanlah karakter yang otoriter, yang membatasi ruang gerak dan pilihan hidup anakNya.

  • Dia juga adalah Allah yang memberi kelengkapan hidup bagi anak-anakNya. Tugas kita semua sebagai anak-anakNya dan umat ciptaanNya adalah mengelola kelengkapan yang disediakan bagi kita itu, demi hidup kita.
  • Allah juga adalah Tuhan yang mengasihi anak-anakNya, bahkan mereka yang menjauhkan diri dari Bapa pun tetap dikasihiNya. Dia mengampuni dan menerima kembali anak-anakNya yang kembali kepadaNya dan bersukacita untuk mereka yang kembali. Anak-anak yang kembali setelah sadar akan kesalahannya, di mata Bapa adalah mereka yang mati tetapi hidup kembali (ay. 24 diulangi di ay. 32).

Bapa menghendaki mereka “hidup”, dan hidup yang dimaksud disini bercirikan “kembali kepada Bapa”, menjadi bagian dari rumah Bapa, berbagi hidup dengan seluruh household

  • Allah bersukacita apabila anak-anakNya yang mati, hidup kembali dan Dia merayakannya.
  1. Mengidentifikasi Karakter Anak Bungsu
  • Anak bungsu adalah anak yang suka akan kebebasan (menjual harta warisan dan pergi ke negeri yang jauh, ay. 13). Dia keluar dari rumah berarti keluar dari ikatan dengan Bapa dan dengan seisi rumahNya.
  • Di negeri yang jauh dia memboroskan hartanya dengan hidup berfoya-foya. Dia menyenangi kemewahan dan kesenangan sesaat serta hidup tanpa aturan, akibatnya habis semua. Dia tidak terikat dengan cara hidup seperti di rumah Bapa. Kesetiaan dan ketaatan kepada Bapa menjadi hilang.
  • Akibatnya, dia kehilangan martabat sebagai anak Bapa, bahkan kehilangan martabat sebagai manusia. Dia ingin makan makanan babi (binatang yang paling najis), tetapi itu pun tidak diperoleh (ay. 15-16). Hidup menjadi tidak bermakna, hidup kehilangan artinya.
  1. Mengidentifikasi Karakter Anak Sulung
  • Sepintas lalu anak sulung menampilkan karakter yang baik. Dia tidak meninggalkan Bapa tetapi justru bekerja keras melayani Bapanya (ay. 29). Tetapi sebenarnya dia egois, sok suci, angkuh (ay.30).
  • Walaupun tinggal dekat Bapa tetapi dia tidak menjadi bagian dari hidup Bapa. Dia tidak bersukacita dengan sukacita Bapanya dan juga tidak berdukacita dengan dukacita Bapanya. Dia sama sekali tidak mau tahu dengan kerinduan Bapa yang setiap saat menunggu anak bungsuNya kembali ke rumah (ay.20). Jadi sesungguhnya dia dekat tetapi dia tidak mengenal Bapanya. Oleh karena itu, hidupnya berbeda dari hidup Bapa. Sifat Bapa yang mengasihi, yang peduli kepada semua, yang mengampuni, tidak tercermin dalam hidupnya.
  • Dia menolak adiknya (ay. 30, dia menyebut adiknya dengan “anak Bapa”). Dia tidak melihat si bungsu adiknya tetapi anak Bapa, seorang pendosa besar yang tidak layak diterima kembali.

PA berakhir pada pukul 10.00 WIT setelah berakhirnya diskusi dan tanggapan peserta persidangan yang di bagikan dalam beberapa kelompok.  Setelah itu Pdt.Ny.L.Ruhulessin,.S.Th menanggapi setiap pertanyaan-pertanyaan yang di sampaikan dengan baik dan memuaskan. Sidang Sinode ini di ikuti oleh  265 suara peserta biasa. Peserta biasa tersebut terdiri dari MPH Sinode (9 orang) serta perutu­san dari 32 klasis (256 orang – setiap klasis mengutus 8 orang). Total keseluruhan peserta persidangan yakni 700 orang.

48,262 total views, 1 views today

About Media Center Gereja Protestan Maluku

Media Center GPM Merupakan Sarana Mengkomunikasikan Informasi Tentang Gereja Protestan Maluku Yang Tersebar di Maluku dan Maluku Utara, Bersifat Informatif, Serta Memberikan Pelayanan Pada Publik. Dapat Menghubungi Kami, Mengirim Informasi (berita) Melalui Email : mediacenter.gpm@gmail.com

Check Also

Komisi Pengelolaan Barang Milik Gereja – Sidang MPL 39 Sinode GPM

Number of View: 0[Ambon, sinodegpm.org] – Bagian pengembangan infrastruktur Sinode GPM menggelar dua kegiatan menyongsong …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *