Home / Artikel / Perempuan di Ruang Publik
Foto Ilustrasi

Perempuan di Ruang Publik

Number of View: 0
Foto Ilustrasi
Foto Ilustrasi

SinodeGPM.org – Perkara perspektif memang menjadi masalah paling mendasar yang akan terus mengintai perdebatan masalah perempuan yang dikemas dalam isu “kesetaraan gender” yang mesti ditanggulangi ilmuan, peneliti dan aktivis ketika berhadapan dengan fenomena yang dibayangkan merupakan masalah perempuan. Perempuan, laiknya laki-laki, adalah makluk manusia yang memiliki kemerdekaan berpikir dan bertindak (agency) yang, jika dipaksa-paksa, akan bisa melakukan perlawanan.

Pada konteks itu, buku ini bisa dibaca bukan sebagai “keluhan lirih”, melainkan sebagai cara melihat masalah dengan cara yang berbeda, seraya mencoba memaknai “perubahan yang seakan-akan” di era reformasi, demi menemukan titik pijak baru untuk terus melanjutkan sebuah ikhtiar. Setelah membaca buku ini, mungkin kita akan tiba pada hipotesis baru: Setiap ikhtiar akan mewujud hanya dengan diperjuangkan meski dengan sangat letih, namun setiap yang berjuang tak bisa bilang capek…” demikian sebagian penggalan kutipan pengantar Murid Tonirio, akademisi IAIN Ternate yang sedang melanjutkan studi S3 Antropologi UGM untuk buku karangan Hj Laily Ramadhan Can, berjudul Perempuan dalam Tarung Dominasi (UMMU Press, 2014).

Buku ini seakan merupakan sebagian rekam jejak tentang pergulatan perempuan, khususnya di Maluku Utara di ruang publik untuk mencapai posisi yang setara dengan laki-laki. Sebuah pergumulan yang tidak ringan karena harus berhadapan dengan dominasi laki-laki yang sudah berurat akar dalam sejarah yang panjang. Namun pertanyaanya adalah apakah soal laki-laki dan perempuan mesti diposisikan secara berhadap-hadapan yang memberi kesan seakan-akan tidak ada titik temu pada kedua makluk yang sama yang beda jenis kelamin ini? Haruskah upaya mewujudkan kesetaraan gender itu dibebankan di pundak perempuan semata, sedangkan tidak sedikit laki-laki yang juga peduli dan turut terlibat dalam gerakan-gerakan gender tersebut?. Bahwa pada suatu masa perlu adanya “kebijakan khusus” untuk lebih memprioritaskan perempuan daripada laki-laki, maka itu tidak harus dibaca sebagai adanya dikotomi yang diametral, namun lebih pada penyediaan ruang yang lebih luas agar perempuan dapat lebih optimal mengembangkan dirinya. Maka pada masa tertentu pemerintah teristimewa lembaga-lembaga asing membuat aturan yang secara eksplisit mensyarakatkan keterlibatan perempuan pada tiap program yang dibiayai lembaga-lembaga tersebut. Keberadaan Kementrian Perempuan dan Perlindungan Anak dapat dilihat sebagai pembenar hal tersebut. Tentu dengan catatan bahwa apakah dengan adanya kementrian khusus ini maka masalah perempuan dan anak sertamerta tertangani.

Buku ini memiliki dua keunikan. Pertama ditulis oleh seorang perempuan yang secara konsisten mengambil peran di ruang publik dan mengkomunikasikan suara perempuan secara terus menerus. Penulis yang mantan anggota KPUD Maluku Utara ini merupakan pelaku (agency) dari sedikit perempuan Maluku Utara yang “keluar” dari benteng pertahanannya (baca: ruang domestik). Penulis bukan hanya menulis tetapi berkarya. Bahkan buku ini merupakan sebentuk refleksi atas apa yang dikaryakannya di ruang publik bersama rekan-rekan perempuan (dan laki-laki) yang bernaung di sebuah lembaga yang bernama Pusat Studi Perempuan dan Anak (PUSPA) Universitas Muhammadiah Maluku Utara (UMMU).

Kedua, buku ini merupakan sebagian rekam jejak dinamika dan perkembangan gerakan perempuan di Maluku Utara. Membaca buku ini kita ditolong untuk melihat geliat perempuan Maluku Utara, khususnya di kota Ternate dalam perjuangannya di ruang publik. Tulisan tentang perempuan-perempuan perkasa dalam buku ini memberikan informasi serta tafsir tentang keterlibatan perempuan (ibu-ibu) di ruang publik. Dengan cara dan pola yang khas mereka turut “membersihkan” ruang publik dari kecenderungan polusi yang dilakukan oleh perempuan sendiri dan atau laki-laki. Memang jika ditilik secara lebih mendalam, gerakan protes ibu-ibu Falajawa terhadap praktik prostitusi belum sefenomenal apa yang dilakukan oleh rekan-rekannya di Argentina misalnya, namun gerakan ini dapat menjadi entri poin untuk memotret keberanian perempuan bernegosiasi dan berperan di ruang publik demi tatanan hidup bersama yang lebih baik. Di dalam buku ini juga disentil keberadaan perempuan di parlemen (daerah), perempuan perempuan dan problem tenaga kerja, perempuan dan peningkatan PAD, peran perempuan dalam keluarga, perempuan dan budaya.

Sebagai buku kumpulan artikel dan makalah yang pernah dipublikasikan di beberapa koran lokal dan kegiatan seminar/diskusi terbatas, buku ini tentu lebih bersifat informatif dan reflektif. Olehnya bagi pembaca yang ingin mendalami isu-isu yang diangkat dalam buku ini perlu membaca sumber-sumber bacaan lainnya yang lebih teoritik, sehingga dapat menelaah lebih jauh dan mendalam berbagai persoalan yang telah dipetakan dalam buku ini. Para aktivitas, mahasiswa, tokoh agama, termasuk pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya dapat menjadikan buku ini sebagai salah satu referensi untuk menemukenali berbagai persoalan seputar pergulatan perempuan dan anak di Maluku Utara dan Ternate pada khususnya.

Sebagai contoh, bagi para tokoh agama, seperti yang disitir Murid Tonirio dalam pengantar buku ini, salah satu problem mendasar terkait kehadiran perempuan di ruang publik adalah sejauhmana tafsir agama memberi ruang yang cukup bagi perempuan untuk eksis di ruang publik. Bukan rahasia umum lagi bahwa seringkali agama menjadi faktor yang turut berpengaruh pada maju mundurnya wacana dan praksis perempuan di ruang publik. Setiap agama memiliki tafsir yang beragam soal eksistensi perempuan dalam lintas sejarah. Dr Muhlish Hafel benar ketika berkata, tantangan terberat perempuan di ranah publik adalah ketika tubuh perempuan hanya dipandang sebagai sumber maksiat dan dosa. Ada masa dimana perempuan benar-benar dikungkung dalam tafsir agama yang kaku, namun ada saat dimana perempuan mendapat ruang yang besar dalam tafsir agama yang lebih terbuka dan egaliter. Di kawasan dimana agama masih mendominasi tafsir kebenaran, maka salah satu pertarungan terkait isu perempuan di ruang publik adalah bagaimana membuat agama lebih fungsional dan ramah terhadap perempuan. Tentu saja hal ini semakin realistis ketika agama dikembalikan kepada fitrahnya sebagai pembawa rahmat bagi semesta ciptaan, termasuk bagi perempuan dan laki-laki. Jalan ke arah sana masih panjang dan berliku, namun jalan itu mesti ditapaki, bahkan andaikan jalan itu adalah jalan yang jarang ditapaki. Sebab siapa tahu di ujung jalan itu ada secercah harapan baru… Semoga.

Catatan dari Lenteng Agung (Jakarta)
Oleh: Rudy Rahabeat (Pendeta Gereja Protestan Maluku)

2,274 total views, 1 views today

About Media Center Gereja Protestan Maluku

Media Center GPM Merupakan Sarana Mengkomunikasikan Informasi Tentang Gereja Protestan Maluku Yang Tersebar di Maluku dan Maluku Utara, Bersifat Informatif, Serta Memberikan Pelayanan Pada Publik. Dapat Menghubungi Kami, Mengirim Informasi (berita) Melalui Email : mediacenter.gpm@gmail.com

Check Also

Maluku Barat Daya Tidak Terkena Dampak Gempa Lombok

Number of View: 0[Ambon, sinodegpm.org] – Kami menyampaikan kepada semua pihak tentang jarak antara Pulau …

Leave a Reply

Your email address will not be published.